Permasalahan ekonomi keluarga hingga kesejahteraan sosial mendorong penduduk untuk melakukan mobilitas di luar daerah. Hal ini kemudian dipandang oleh Todaro sebagai respons yang sifatnya (rasional) dengan tujuan utama memperoleh pendapatan yang lebih besar dalam bentuk absolute income, (Anna ed. Tukiran, 2002: 37).

Oleh sebab itu, banyak di antara penduduk memilih untuk menjadi pekerja migran.

Pekerja Migran atau (migrant workers) dapat didefinisikan sebagai orang yang bermigrasi dari wilayah asal ke tempat lain, bekerja di tempat yang baru dalam jangkah waktu yang relatif lama atau menetap. Menurut Edi Suharto dalam sebuah buku yang berjudul Membangun Masyarakat Memperdayakan Masyarakat (Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial).

Dalam studinya tersebut, Edi Suharto (2005) menyebutkan bahwa ada dua tipe pekerja migran, yaitu pertama Pekerja Migran Internal diartikan orang yang bermigrasi dari tempat asalnya untuk bekerja di tempat lain yang masih termasuk dalam wilayah negaranya. Karena perpindahaan penduduk umumnya rural-to-urban migration, sehingga disebut sebagai pekerja migran internal, di mana orang desa bekerja di kota.

Kedua, Pekerja Migrasi Internasional merupakan orang yang meninggalkan tanah airnya untuk mengisi pekerjaan di luar negeri. Pengertian ini merujuk pada orang Indonesia yang bekerja di luar negeri, atau sering dikenal dengan istilah TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dan TKW (Tenaga Kerja Wanita).

Menurut Mantra, seorang budayawan dan tokoh penting dalam sejarah Bali, dalam buku yang berjudul “Mobilitas Penduduk Sekuler Dari desa ke Kota di Indonesia”.

Melalui tulisannya tersebut, Mantra (1999) melihat ada hal penting bagi para pekerja migran dalam memilih daerah tujuan, yakni menyamakan nilai daerah asal dan nilai daerah tujuan. Hal ini dipandang sebagai komponen penting bagi pekerja migran dalam mengambil keputusan atas tujuan daerah.

Meskipun demikian, tidak semua daerah memaknai pekerja migran sebagai hal positif. Bahkan, keinginanya untuk menjadi pekrja migran dianggap sebagai hal negatif bagi suatu daerah karena akan mempengaruhi kebudayaan lokal, akan tetapi masih ada beberapa daerah yang menerima baik dan menilai positif adanya fenomena sosial tersebut. Menurut Djadja Saefullah dalam Migrasi, Perubahan Sosial dan Konflik. 

Dalam studinya tersebut, Djadja Saefullah melihat dampak positif dari migrasi pada tradisi masyarakat Minang dan Bugis. Artinya, pemaknaan mobilitas penduduk ke luar daerah  (pekerja migran) tergantung pada persepsi dan penilaian dari setiap masyarakat. 

***

Pandangan L. Collier, dkk. dalam Pendekatan Baru dalam Pembangunan Pedesan di Jawa.  Dalam tulisan tersebut, dikatakan bahwa pekerja migran merupakan sebuah jalan keluar atas masalah kemiskinan. Pada 1993 mendapati fenomena tersebut di mana masyarakat desa yang melihat langsung hasil diperoleh dari pekerja migran Internasional, mereka mengirimkan uang setiap minggunya kepada keluarga di desa. 

Pada waktu itu, kawasan Timur Tengah sebagai daerah tujuan utama bagi pekerja migran. Mengingat adanya motif lain di luar ekonomi yaitu keagamaan, meliputi pergi haji dan umroh.

Dewasa ini, adanya globalisasi menjadikan perdagangan barang dan jasa, permindahan modal, jaringan transportansi, pertukaran informasi dan kebudayaan bergerak semakin bebas ke seluruh dunia seiring dengan meleburnya batas-batas negara. Hal ini mendorong perpindahan tenaga kerja antara negara, (Edi Suharto, 2005: 179)

Sementara itu, permasalahan meliputi; masalah ekonomi, lepangan pekerjaaan dan rendahnya upah di negaranya mendorong penduduk untuk tetapi memilih untuk menjadi pekerja migran Internasional. Mengingat upah yang diberikan relatif lebih tinggi, jika dibandingkan dengan upah yang mereka terima di negara asalnya.

Oleh karena itu, menjadi pekerja migran dinilai sebagai sebuah respons yang baik, sekaligus jembatan untuk memperoleh kesuksesan. Mereka melihat ini sebagai jalan keluar atas permasalahan ekonomi dan kesenjangan sosial. 

Meskipun demikian, nyatanya tidak sedikit juga dari mereka mengalami kegagalan di daerah tujuan, akan tetapi mereka tetap percaya akan adanya kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya ataupun mampu merubah status sosial di masyarakat.  

Daftar Pustaka

Abdullah, Irwan. Studi Mobilitas Penduduk Antara Masa Lalu dan Masa Depan.  ed. Tukiran. 2002. Mobilitas Penduduk Indonesia Tinjauan Lintas Disiplin. Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada.

Collier, William L., Kabul Santoso, Soentoro, dan Rudi Wibowo. 1996. Pendekatan Baru dalam Pembangunan Pedesan di Jawa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Mantra, Ida Bagus. 1999. Mobilitas Penduduk Sekuler Dari desa ke Kota di Indonesia. Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada.

Suharto, Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memperdayakan Masyarakat; (Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial). Bandung: Refika Aditama.

Marie Wattie, Anna. Bukan Sekedar Uang Penekatan Deprivasi Relatif dalam Migrasi. dalam ed. Tukiran. 2002. Mobilitas Penduduk Indonesia Tinjauan Lintas Disiplin. Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada.

Saefullah, Djadja. Migrasi, Perubahan Sosial, dan Potensi Konflik. dalam ed. Tukiran. 2002. Mobilitas Penduduk Indonesia Tinjauan Lintas Disiplin. Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada.