Dari sekian juta milenial di dunia ini, pasti tidak pernah terlepas dari masalah bukan? Baik masalah ekonomi, sosial budaya, politik, agama, pendidikan, dan kesehatan. 

Terutama saat pandemi Covid-19 yang terjadi di dunia sekarang ini. Kita diharuskan untuk melakukan social distancing dan physical distancing untuk mengurangi penyebaran Covid-19 lebih parah. 

Pada awal pandemi, banyak sekali tanaman herbal yang digadang-gadang manjur untuk menghilangkan virus corona. 

Tapi adakah tanaman herbal yang dapat mengatasi keresahan masyarakat kita sekarang ini? Keresahan akan kesehatan mental.

Iya, salah satu efek social distancing dan physical distancing ini justru meningkatkan rasa depresi karena tidak bisa bertemu dengan orang lain secara nyata. 

Depresi adalah gangguan kesehatan mental dengan keadaan suasana hati tertekan, kehilangan minat atau kesenangan, perasaan bersalah atau harga diri rendah, tidur atau nafsu makan terganggu, dan konsentrasi buruk. 

Masalah ini dapat berkembang menjadi kronis dan bahkan bisa berakhir pada bunuh diri (Bhowmik dkk., 2012). Siapa saja yang berpotensi terkena gangguan kesehatan mental? Jawabannya adalah semua orang terutama pada remaja muda saat ini.

Depresi atau gangguan suasana hati yang menyebabkan terganggunya aktifitas sehari-hari ini ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) sebagai krisis global. 

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) (2020), melakukan pemeriksaan pada 1552 responden yang menunjukkan bahwa 66% responden mengalami depresi akibat pandemi Covid-19. 

Sehingga hal ini menunjukkan bahwa tingkat depresi akibat pandemi sangat tinggi dan prevalensi depresi menjadi lebih tinggi dari sebelumnya.

Ada beberapa cara untuk menangani depresi, seperti merubah pola hidup dengan berolahraga, mengatur pola makan, curhat dengan orang lain, dan rekreasi (Dirgayunita, 2016). 

Namun hal itu tidak mudah dilakukan bagi semua orang. Seperti yang kita tahu, orang Indonesia sejak dulu percaya dalam menggunakan tanaman sebagai obat pada segala kondisi penyakit. 

Seperti salah satu lirik lagu kolam susu, yaitu “Orang bilang tanah kita tanah surga”. Bagaimana bukan tanah surga? Tanah Indonesia melimpah ruah hasil kekakayaan alamnya. Salah satu tanaman yang mungkin pernah kita dengar adalah pegagan.

Pada daerah wilayah Jawa Barat pegagan sering dijumpai untuk digunakan sebagai lalapan dan asinan. Dibalik lalapan tersebut, siapa sangka pegagan justru memiliki efek antioksidan yang tinggi, mempermudah penyembuhan luka, meningkatkan daya ingat, dan mengurangi pembengkakan (Jiang, 2016). 

Melalui sebuah penelitian, terbukti bahwa ekstrak pegagan juga dapat menurunkan tingkat depresi. Pada suatu penelitian didapatkan hasil bahwa ekstrak pegagan efektif untuk menurunkan tingkat depresi pada hewan coba sekitar 10-22%. 

Salah satu senyawa dalam pegagan yang berperan penting dalam menurunkan tingkat depresi yaitu Asiaticoside (Golla dan Hemapriya, 2016). 

Terdapatnya senyawa Asiaticoside dalam pegagan yang berpotensi sebagai penurun tingkat depresi, dapat menjadi sebuah jawaban dari keinginan banyak orang terutama masyarakat Indonesia yang lebih memilih obat herbal dalam menangani depresi dibandingkan dengan obat kimia. 

Namun disamping menkonsumsi obat herbal tersebut tetap perlu diimbangi dengan pola hidup yang baik, seperti menjaga pola makan dan berolahraga. 

Untuk memberikan efek antidepresan, pegagan dapat diberikan dalam bentuk ekstraknya. Ekstrak pegagan ini dapat didapatkan dalam bentuk kapsul maupun sirup yang banyak dijual di apotek. 

Maka dari itu, pegagan bisa menjadi produk yang bermanfaat dalam segi kesehatan mental indonesia.

Selain dikonsumsi dalam bentuk ekstraknya, pegagan juga dapat diolah menjadi teh celup. Berikut cara pengolahan pegagan menjadi teh:

1) Pegagan dicuci terlebih dahulu

2) Kemudian dikeringkan/dijemur

3) Setelah kering, pegagan ditumbuk/diblender agar menjadi halus

4) Serbuk pegagan dimasukkan ke dalam kantong teh 

5) Teh celup siap digunakan 

(Wahyuningsih dan Risqina, 2019).


Referensi:

Bhowmik, D., Kumar, K. P. S., Srivastava, S., Paswan, S., Dutta, Amit S. (2012). Depression - Symptoms, Causes, Medications and Therapies. The Pharma Innovation, 1, 41-55. Diakses dari http://www.thepharmajournal.com/archives/2012/vol1issue3/PartA/5.pdf

Dirgayunita, A. (2016). Depresi: Ciri, Penyebab dan Penangannya. Journal An-nafs: Kajian dan Penelitian Psikologi, 1, 1-14. 

Golla, P. dan Hemapriya, T. (2016). To Evaluate and Compare Antidepressant Activity of Centella asiatica In Mice By Using Forced Swimming Test. International Journal of Basic & Clinical Pharmacology, 5, 2017-2020. Doi:10.18203/2319-2003.ijbcp20163229.

Jiang, H., Zheng, G., Lv, J., Chen, H., Lin, J., Li, Y., Fan, G., Ding, X. (2016) Identification of Centella asiatica's effective ingredients for inducing the neuronal differentiation. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 2016, 1-9. Doi:10.1155/2016/9634750.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). (2020). Masalah Psikologis Terkait Pandemi  Covid-19 di Indonesia. Diakses 28 Agustus 2020 dari http://pdskji.org/home

Wahyuningsih, I., dan Risqina, N. S., 2019. Pelatihan pembuatan teh celup pegagan Centella asiatica (L) Urban) di Desa Nglanggeran. Jurnal Pemberdayaan: Publikasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat. Vol 3(2): 245-250.