Dari hari ke hari, lingkungan semakin kompleks dengan berbagai persoalan. Di mana lingkungan semakin memprihatikan dari semua aspek. Kalau dilihat dari kebersihannya atau pencemarannya mungkin kita akan berbicara masih sangat layak kita huni.

Kita masih akan memberi bermacam-macam alasan bahwa lingkungan saya masih asri. Lingkunngan saya di mana saya tinggal masih alami, indah dan masih jauh dari pencemaran pabrik-pabrik. Tetapi menurut saya, lingkungan di mana kita tinggal, di mana kita hidup saat ini sudah dalam tahap yang parah.

Saya mengatakannya sudah parah karena apa? Parah karena berbagai hal-hal yang kurang diperhatikan atau tidak pernah dipedulikan sama sekali. Sebagai contoh, kita tidak pernah sadar ketika kita makan kue atau permen dan yang lainnya tanpa sengaja kita membuang sampahnya (bungkusnya).

Mungkin kesadaran kita tidak ada sama sekali; mungkin juga kita akan berpikir bahwa itu hanya sampah kecil yang tidak akan kelihatan secara langsung, atau bahkan kita akan berpikir lain lagi bahwa di sini bukanlah tempat saya atau saya juga tidak tinggal di sini.

Jadi, kita seolah-olah masa bodoh dengan sampah yang kecil itu dengan alasan seperti itu. Pada hal jika kita peduli sedikit saja maka kita sudah menyadari segala hal yang diakibatkan oleh sampah itu sendiri. Tentu secara tidak langsung, kita telah menyelamatkan lingkungan dari kerusakan.

Saya akan berbagi pengalaman sedikit dengan apa yang pernah saya lakukan. Mungkin bagi kita, kita akan berkata bodoh sekali atau kayak pemungut sampah saja. Tetapi itu adalah hasil refleksi saya sendiri dan saya harus melakukannya dengan sepenuh hati.

Ini adalah tekad saya pribadi bukan dorongan atau ada motivasi dari orang lain. Ini murni dari dalam hati saya karena ada niat untuk peduli dengan lingkungan karena melihat keprihatinan saat ini. Contoh kecil saja, ketika saya makan permen atau kue yang bungkusnya adalah plastik maka saya akan mengantongi bungkusannya (sampahnya).

Saya tidak akan membuangnya sembarangan meskipun saya sedang berada di tempat lain. Saya tidak pernah berpikir bahwa di sini bukanlah tempat saya jadi buat apa peduli, kalau kotor kan bukan saya yang melihatnya atau menikmatinya; yang akan menikmatinya adalah orang-orang yang tinggal di situ.

Itu artinya saya tetap peduli dengan lingkungan lain, tidak harus berpikir masa bodoh dengan lingkungan lain. Pokoknya saya akan melipatnya baik-baik dan segera memasukkannya dalam saku celana. Saya tidak pernah merasa malu dengan apa yang saya lakukan, bahkan satu kali teman-teman menertawakan saya ketika melihat saya sedang melipat baik-baik bungkusan kue lalu memasukkannya dalam tas.

Saya dengan santai menjawab bahwa ini adalah tanggung jawab saya, saya sudah makan permen atau kuenya jadi ungkusnya juga harus saya amankan. Ini akan saya bawa ke rumah, dan di rumah saya akan membakarnya ketika saya membakar sampah-sampah plastik. Teman-teman saya hanya senyum-senyum mendengar jawaban itu.

Praktek ini bukan saya terapkan untuk diri saya sendiri tetapi saya terapkan juga kepada teman-teman saya. Saya menerapkannya bagi mereka yang telah melihatnya. Misalnya, ketika mereka memakan kue atau permen dan membuang sampahnya sembarangan, saya langsung menyuruhnya untuk memungut sampahnya dan mengantonginya.

Saya hanya melakukannya bukan mencari perhatian tetapi berbagi sedikit untuk peka dengan situasi lingkungan. Memang sedikit aneh atau sedikit lucu dengan apa yang saya lakukan, tetapi saya tidak peduli dengan pemikiran itu.

Saya hanya memikirkan bahwa seandainya sebagian besar orang melakukan apa yang saya lakukan maka lingkungan saat ini tidak akan sangat memprihatinkan. Artinya bahwa seandainya masih banyak orang yang peduli dengan lingkungan maka berbagai masalah tidak akan muncul.

Contoh yang lain yang saya lakukan di luar dari komunitas, yakni ketika sedang berbelanja. Saya akan berbelanja dengan menggunakan tas. Saya tidak pergi berbelanja dengan tangan kosong dengan mengandalkan kantong plastik yang disiapkan oleh supermarket atau toko.

Mungkin kita sudah mengerti sedikit mengapa saya membawa tas ketika berbelanja? Alasannya, sangat singkat yakni saya tidak akan memasukkan belanjaan saya ke dalam kantong plastik (kresek) tetapi saya akan memasukkannya ke dalam tas. Semuanya saya masukkan ke dalam tas. Meskipun ada tawaran dari pihak kasir, saya dengan bijaksana akan menolaknya.

Saya hanya berpikir bahwa sedang belanjaan saya ini sudah penuh dengan sampah jadi buat apa saya menambah sampah lagi. Bagi saya, sampah belanjaan ini pun harus saya pertanggung-jawabkan dengan baik terlebih dahulu. Mengapa? Saya adalah orang yang paling takut tidak bisa membayar utang dengan baik. Artinya bahwa saya harus bisa bertanggung jawab dengan sampah itu karena sampah itu ada tentu karena saya, jadi itu adalah tanggung jawab saya.

Saya tidak boleh mengadakannya atau menikmatinya saja kalau tidak bisa menanganinya dengan baik. Sikap seperti itu, menandakan adanya kepedulian. Memang itu secara spontan muncul dari dalam diri saya sendiri. Untuk peduli sekaligus atau peduli secara spontan itu akan sangat mustahil. Mengapa?

Tentu ada alasan secara tidak langsung pula yang ingin disampaikan dibalik itu semua. Karena biasanya spontan atau sekaligus itu gampang saja untuk diucapkan tetapi realitasnya akan sangat berbeda. Kata orang bicara itu mudah (gampang) meskipun itu susah tetapi realitasnya tidak ada.

Ada juga yang sangat pandai dalam teori namun prakteknya tidak ada. Itu yang sulit dari sifat kita. Berbuat secara spontan mungkin bisa tetapi untuk kontiniu akan sulit. Jadi spontan pasti sifatnya kadang sementara, dan biasanya ketahanannya hanya sesaat.

Akan tetapi bila dilakukan secara bertahap dan dilakoni dengan baik maka lama kelamaan akan menjadi kebiasaan. Artinya, jika masih baru kita jangan berkobar-kobar dalam melakukannya karena biasanya itu hanya sekejap dan tidak berlangsung lama.

Namun, lakukanlah dengan perlahan dengan melihat makna apa yang ingin dicapai dari tindakan itu sendiri. Ibaratnya, panasnya terik matahari. Semuanya di mulai dari sinar pagi yang masih sejuk tetapi lama-kelamaan akan semakin panas. Pada puncak panas itulah, ada manfaat yang kita dapatkan yakni, panasnya bisa mengeringkan apa pun yang kita jemur.

Sama dengan niat yang dibangun secara perlahan untuk semakin mengukuhkan niat iu sendiri dalam bertindak untuk mencapai tujuan. Bukan dengan satu perumpamaan yang mengatakan panas-panas tahi ayam. Kita tahu jika tahi ayam masih baru, uap panasnya masih kelihatan tetapi lama-lama menjadi dingin. Artinya, ketika masih baru maka kita masih berkobar-kobar untuk melakukannya tetapi seiring berjalannya waktu niat itu akan semakin memudar.

Hal ini sangat jelas kelihatan dalam kehidupan kita sehari-hari, dan terlebih khusus dapat kita lihat ketika ada program-program pemerintah. Program-program itu diagendakan, aparatur pemerintah pun dengan bergerak cepat melakukan tugasnya. Mereka segera menyosialisasikannya bagi masyarakat.

Ketika sampai di masyarakat, masyarakat masih dengan penuh semangat melakukannya. Namun, setelah berlangsung beberapa hari, kebiasaan itu semakin memudar dan perlahan-lahan menghilang. Saya tidak tahu apakah karena kurang kontrol (kurang diperhatikan) atau karena memang sudah kebiasaan.

Itulah yang seharusnya menjadi tanggungjawab pemerintah untuk tetap mengontrol masyarakat agar masyarakat tetap membiasakan dirinya. Mungkin itu yang pernah saya alami dan pelajari ketika masih di tengah-tengah masyarakat. 

#LombaEsaiKemanusiaan