Pelajar
1 minggu lalu · 79 view · 4 min baca menit baca · Tips & Trick 83589_20601.jpg
Foto: Pixabay/Engin_Akyurt

Pedoman Umum Menulis Cerpen

Menulis cerpen menjadi salah satu kegiatan seru penghilang stres. Menulis membantu kita menyalurkan energi-energi negatif ke dalam sebuah karya.

Kadang bukannya senang, malah membuat kita tertekan lantaran tidak tahu harus memulai dari mana atau apa yang harus kita tulis. Demi alasan itu, aku akan mencoba membagikan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat sebuah cerpen berdasarkan pengalamanku selama menjadi penghobi cerpen. Silakan disimak, teman-teman!

Tulis tema yang kamu suka dan kuasai

Untuk membuatmu mengalirkan ide dengan baik, tentu dibutuhkan rasa suka terhadap tema cerpen yang akan ditulis. Dan pastinya harus mengusai betul tema yang dipilih agar tidak kerepotan saat menulis detail cerita. 

Jangan menulis tema yang tidak kamu suka, karena bisa membuat mudah bosan ketika menulis. Jangan juga menulis tema yang tidak kamu kuasai, karena itu akan menghambat proses menulismu. Tulis saja tema apa pun yang kamu suka, itu akan sangat memudahkanmu.

Kamu perlu menguasai tulisanmu sendiri agar bisa membuatnya hidup. Karena itu, menulis tema yang kamu kuasai akan sangat berguna alih-alih nekat menulis sesuatu yang belum pernah dipelajari sebelumnya.

Pastinya tema yang bisa diangkat ke dalam sebuah karya sastra bisa bermacam-macam, mulai dari isu sosial, persahabatan, kehidupan sehari-hari percintaan, politik, kesehatan, atau kamu punya ide baru untuk dituangkan ke dalam sebuah karya. Kenapa tidak?

Oh iya, teman-teman juga bisa mengangkat pengalaman pribadi menjadi sebuah cerpen. Menarik, bukan? Kisah hidupmu akan abadi dalam karya tanganmu sendiri.

Ide bisa datang kapan dan di mana saja. Ide selalu ada di sekitar kita. Tidak perlu jauh melangkah untuk menangkap ide. Kamu hanya perlu untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar.

Jangan takut untuk memulai. Selalu ada awal untuk memulai sebuah perjalanan.

Pertama buat, kedua edit, ketiga edit lagi


Pertama, tulis semua ke dalam sebuah naskah tanpa perlu terlalu memedulikan apakah hasilnya bagus atau tidak. Tidak masalah jika tata eja/bahasa berantakan, alirkan saja semua rasa gundah, sedih, senang ke dalam tulisanmu. Tulis semuanya.

Kedua, setelah semua sudah ditulis, sekarang saatnya kamu mengoreksi semuanya, mulai dari tata bahasa, ejaan, hingga mengubah kata-kata yang dianggap kurang cocok bila dipadukan. Di tahap ini, sering-seringlah untuk mengedit. Karena dengan itu, kamu bisa lebih memahami struktur-struktur kalimatmu.

Ketiga, periksa naskahmu dari awal hingga akhir guna memastikan tidak ada yang terlewatkan.

Banyak menulis dan membaca

Membaca adalah cara belajar efektif sekaligus memperbanyak perbendaharaan kata, dan menulis adalah ujian untuk mengevaluasi hasil belajarmu selama membaca. Jadi, sering-sering membaca dan menulis, ya!

Pelajari tentang tata eja dan tata bahasa

Ini sangat penting. Seorang penulis yang baik harus mengerti soal tata eja dan tata bahasa yang digunakan. Setidaknya, luangkan waktu di sela-sela kegiatan menulis untuk belajar ini.

Sebagai informasi saja, kamu bisa mengunduh e-book seri penyuluhan ejaan ini melalui situs resmi Kemendikbud.

Semua orang punya gaya bercerita sendiri

Jangan takut, semua orang punya gaya bercerita masing-masing. Kamu tidak perlu terlalu ambil pusing jika ada yang kurang suka atau gaya tulisanmu tidak seperti penulis-penulis top. Setiap tulisan punya pembacanya sendiri. Ingat itu.

Teruslah mencoba gaya bahasa baru, kembangkan, kemudian padukan. Dengan begitu akan lebih memudahkanmu mendapat gaya bahasamu sendiri.

Jika kamu punya gaya bahasa yang khas, itu akan menarik minat pembaca untuk membaca karyamu yang lain. Itulah sebabnya gaya bahasa ini penting untuk dimiliki.

Oh, iya! Gaya bahasa yang kumaksud di sini bukan sekadar keenam belas majas yang pernah diajarkan guru sewaktu kita bersekolah. Gaya bahasa di sini maksudnya adalah gayamu menuangkan keindahan berbahasa ke dalam sebuah karya dengan caramu sendiri.

Jangan takut bereksperimen

Jangan takut menuangkan ide apa pun ke dalam karyamu (selama tidak melanggar hukum yang berlaku). Tidak perlu terlalu memikirkan dahulu tentang pendapat pembaca. Yang terpenting saat menulis adalah bagaimana caranya membuat ceritamu tetap hidup hingga bagian akhir. 


Seperti yang kubilang sebelumnya, setiap tulisan punya pembaca masing-masing. Tidak perlu takut karyamu tidak laku. Yang perlu kamu takutkan adalah naskah yang tidak selesai. Hanya itu.

Jangan buang naskahmu

Jangan membuang karya yang sudah dibuat dengan susah payah dengan alasan apa pun. Kamu perlu menghargai dirimu sendiri. Kamu tidak boleh menghina karyamu. 

Malah sebaiknya, kamu beri hadiah untuk diri sendiri begitu menyelesaikan sebuah karya. Tidak perlu muluk-muluk, jalan-jalan ke tempat seru cukup sebagai hadiahmu setelah penat menyelesaikan sebuah karya.

Juga, ada satu alasan kuat mengapa naskah tidak boleh dibuang. Setiap naskah masih bisa diedit sedemikian rupa hingga menjadi bagus. Tidak perlu terburu-buru untuk mengedit. Yang penting jangan dibuang, agar kapan pun kamu merasa perlu mengeditnya, kamu tidak perlu susah membuatnya lagi dari awal. Setiap karya adalah gambaran jiwa pembuatnya.

Catat semua poin penting

Detail sebuah cerita sangat penting untuk diperhatikan. Selain membuat cerita terlihat lebih kompleks, detail juga membuat kita menonjolkan kesan serius dalam menggarap sebuah karya. 

Nah, oleh sebab itu, maka mencatat semua poin penting sangat perlu. Cacat semua detail, seperti kapan seorang tokoh mati, di usia berapa ia mendapatkan hadiah ulang tahun terbaik, intrik yang akan terjadi selanjutnya.

Mencatat detail juga membantumu lebih fokus menulis alur cerita, karena kamu tidak punya beban mengingat detail kejadian yang akan kamu tulis dalam karyamu.

Gunakan pola

Menggunakan pola sederhana akan mencegah alur cerita melenceng ke mana-mana. Kamu bisa membuat pola sederhana, seperti awal, konflik, akhir. Atau membuat pola lebih detail, misalnya awal, tokoh utama mulai terkena masalah, tokoh lain membantu, konflik mulai muncul, konflik mereda, tamat. 

Juga boleh membuat pola dengan menggambarkan kejadian yang akan terjadi. Contoh: tokoh utama pergi ke sekolah, bertemu orang baru, berkenalan, berteman, pertemanan makin erat, tokoh teman meninggal, tokoh utama menulis surat untuk sahabatnya, kemudian tamat.

Tidak ada yang baku dalam menulis pola. Ekspresikan dirimu sebebas mungkin.

Mulai!

Mulailah dengan menulis cerita sederhana. Entah itu kisah hidupmu, kisah temanmu, kejadian menyenangkan selama sepuluh tahun terakhir. Semuanya boleh ditulis, kok. Tentu saja selama tidak melanggar hukum yang berlaku negara kita tercinta.

Nah, itu tadi beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menulis cerpen. Terima kasih sudah membaca. Semoga membantu teman-teman pembaca untuk mulai membuat sebuah tulisan yang diinginkan.

Artikel Terkait