2 tahun lalu · 176 view · 8 menit baca · Buku pendidikan-kaum-tertindas.jpg
Ilustrasi: fokal.info

Pedoman Para Pembelajar

Ulasan "Pendidikan Kaum Tertindas"

Sejak dan bahkan sebelum diproklamirkannya kemerdekaan bangsa Indonesia, ada satu cita-cita besar bersama dari para founding father kita yang sampai hari ini masih menuai kendala dalam perealisasiannya. Cita-cita besar itu adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia dengan berdasar pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai cita-cita, tentu ini menjadi ukuran merdeka atau tidaknya bangsa kita dari penjajahan. Apalagi kita tahu bahwa ukuran kemerdekaan itu tak hanya diukur dari tiadanya penjajahan secara fisik, melainkan juga pupusnya penjajahan di wilayah kesadaran. Di sinilah letak pendidikan sebagai jalan menuju pembebasan (pemerdekaan) yang hakiki itu.

***

Bicara tentang pendidikan, atau siapapun yang punya perhatian khusus terhadapnya, nampaknya tak boleh melepaskan gagasan seorang filsuf bernama Paulo Freire. Seperti banyak kalangan yang memberi nilai, kita dapat saja melawan Freire atau bersama Freire dalam menyoal ruang-ruang pendidikan. Tetapi satu yang jelas, kita tidak dapat melaksanakannya tanpa Freire.

Sosok Freire memang sangat tersohor melalui gagasan pendidikannya yang mencerahkan lagi membebaskan. Melalui bukunya yang berjudul Pendidikan Kaum Tertindas, karya besar ini terang mampu menggelitik mereka atau siapa saja yang ingin secara nyata melibatkan diri dalam perealisasian cita-cita kemerdekaan, atau yang sedang bergumul, berusaha, serta berjuang hanya untuk mencipta masyarakat yang demokratis.

Sebagai bagian dari proyek pembebasan manusia di wilayah kesadaran, buku ini termasuk buku yang tidak mudah dibaca atau dipahami. Bukan karena sukarnya akses kita kepada buku ini, tetapi karena sulitnya mencerna isi gagasan Freire tanpa terlebih dahulu memami latar belakang kehidupan atau histori perjalanan intelektual seorang pendidik termasyur ini.

Paulo Freire: Secerca Riwayat dan Karyanya

Paulo Freire lahir pada 19 September 1921 di Recife. Tanah kelahirannya merupakan sebuah kota pelabuhan di Brazil bagian timur laut. Di zamannya, kota ini merupakan simbol wilayah kemiskinan dan keterbelakangan. Beragam macam rupa kedekilan intelektual tumbuh dan subur di dalamnya.

Ayahnya bernama Joaquim Temistocles Freire, seorang pengikut aliran kebatinan yang konon pernah melibatkan diri sebagai anggota dari agama resmi. Budinya baik, cakap, dan mampu mencintai, terutama perbedaan.

Ibunya, Edeltrus Neves Freire, seorang Katolik yang lembut dan selalu bersikap adil. Dari merekalah, terutama contoh dan cinta kasih yang terus diajarkan pada anaknya, Freire kecil lalu mampu menghargai dialog dan menghormati pendapat orang lain.

Ketika krisis ekonomi Amerika Serikat 1929 mulai melanda negeri kelahirannya (Brazil), keluarga Freire yang tergolong kelas menengah ini mengalami keterpurukan finansial yang sangat hebat. Dan ini sekaligus memaksa Freire untuk belajar mengerti betapa malangnya menjadi lapar bagi seorang anak sekolah.

Kelak, seperti dicatat Richard Shaull dalam pengantar Pendidikan Kaum Tertindas edisi Inggris, pengalaman pahit itu mendorong Freire untuk mengabdikan dirinya pada perjuangan melawan kelaparan. Perjuangan ini ia mulai di lingkungan tempat di mana ia mengadu nasib melawan takdir.

Setelah Freire menikahi seorang guru sekolah dasar bernama Elza Maia Costa Oliviera pada tahun 1944, mulailah tumbuh kesadaran Freire akan pentingnya pendidikan. Seperti diakuinya sendiri, perhatiannya di masa ini lebih tertuju pada teori-teori pendidikan. Ia mulai banyak membaca tentang pendidikan daripada tentang hukum, bidang tempat ia mendapat gelar kesarjanaan. Karena baginya, bidang hukum membuat dirinya merasa hanya sebagai mahasiswa rata-rata saja.

Di awal tahun 1960-an, keresahan sosial terjadi di Brazil—menjelang pemilihan umum. Sejumlah gerakan pembaruan berkembang pesat di mana masing-masingnya digerakkan oleh tujuan politik.

Banyak yang mempersoalkan mengapa mayoritas penduduk yang berkisar 34,5 juta jiwa dan hanya 15,5 juta saja yang dapat ikut dalam pemilihan umum? Hak suara ini dikaitkan dengan kemampuan orang untuk menuliskan nama masing-masingnya. Itu sebabnya program kenal aksara kerap dikaitkan sebagai upaya peningkatan kesadaran politik penduduk atau masyarakat.

Di tengah-tengah gerakan tersebut, terutama pasca naiknya Joao Gaulart sebagai presiden pada tahun 1961 menggantikan Janio Quadros, Freire ditugaskan menjadi Direktur Pelayanan Extension Kultural Universitas Reciefe yang menerapkan program kenal aksara di kalangan petani di daerah timur laut. Metode yang dipakainya kelak dikenal sebagai Metode Paulo Freire—meski Freire sendiri tak pernah mengakui penamaan semacam ini.

Bersama timnya, Freire berhasil menarik kaum tuna aksara untuk belajar membaca dan menulis dalam waktu yang cukup singkat, yakni kurang dari 45 hari. Apa yang dibangkitkan dalam proses kenal aksara ini tidak hanya terbatas pada kemampuan mereka di bidang itu, tetapi sekaligus membawa mereka ke proses kesadaran politik; mereka berpartisipasi aktif dan secara nyata ikut menentukan arah perkembangan bangsa mereka sendiri.

***

Sepanjang hidupnya, Freire banyak membuahkan karya. Karya pertamanya di bidang pendidikan adalah Education as the Practice of Freedom, dalam terjemahan bahasa Indonesia berjudul Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan (Gramedia, 1984).

Pada tahun 1969 – 1970, Freire kembali menulis dua karangan dalam Harvard Educational Reviews: The Adult Literacy Process as Cultural Action for Freedom dan Cultural Action and Consclentization. Dua tulisan ini kemudian diterbitkan kembali dalam bentuk buku saku dengan judul Cultural Action for Freedom (Cambridge, Mass., 1970), dan segera diikuti oleh bukunya yang paling terkenal, Pedagogy of the Oppressed (1970).

Selain itu, Freire masih terus menghasilkan sejumlah karya tulis. Di antaranya Pedagogy of the City (1993), Pedagogy of Hope (1995), Pedagogy of the Heart (1997), dan Pedagogy of Freedom (1998).

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, tepatnya 2 Mei 1997, Freire sedang menyiapkan tulisan tentang Ecopedagogy. Beberapa dari bukunya sendiri sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti Politik Pendidikan (1999) dan Pendidikan sebagai Proses (2000) yang terbit setelah pupusnya Orde Baru.

Di antara karya-karyanya, buku Freire yang paling terkenal tentu saja adalah Pedagogy of the Oppressed atau Pendidikan Kaum Tertindas. Buku ini berisi banyak ringkasan pokok-pokok pemikiran pendidikannya, yang, seperti dinyatakan sebelumnya, hanya akan terpahami secara utuh dengan melihat latar belakang kehidupan Freire di atas.

Sebuah Proyek Pembebasan Manusia

Seperti judulnya, buku ini secara utama mengulas kebutuhan akan pentingnya pendidikan bagi kaum tertindas. Model pendidikan yang Freire tawarkan adalah model pendidikan yang membebaskan. Baginya, model ini harus diolah bersama, bukan untuk, kaum tertindas dalam rangka merebut kembali fitrah kemanusiaan.

Meski humanisasi adalah fitrah manusia sekaligus fakta atau realitas sejarah, tetap saja bahwa humanisasi adalah satu dari dua kemungkinan ontologis di samping dehumanisasi. Dan meski keduanya merupakan pilihan-pilihan nyata, tetapi hanya yang pertama itulah (humanisasi) yang harus diperjuangkan manusia. Sebab yang kedua (dehumanisasi) tak lain adalah bentuk dari penyimpangannya: hasil dari tatanan yang tidak adil yang melahirkan kekejaman kaum penindas atas diri kaum tertindas.

Dalam merebut atau memperjuangkan humanisasi, tugas kesejarahan dan kemanusiaan ini harus diemban oleh kaum tertindas. Mengapa?

Di satu sisi, mereka punya modal semangat untuk membebaskan, paling tidak membebaskan diri sendiri dari akutnya jeratan dehumanisasi yang dialaminya. Dan di sisi lain, dengan semangat yang sama, mereka bisa terdorong untuk membebaskan kaum penindasnya dari jerat dehumanisasi pula—bagi Freire, dehumanisasi tidak hanya ditandai oleh adanya kaum yang terampas kemanusiaannya, melainkan juga oleh adanya (meski dalam cara yang berbeda) kaum yang merampasnya, sebab ini adalah penyimpangan dari fitrah.

Mengapa bukan kaum penindas yang harus mengambil tugas mulia ini?

Pertama, mereka yang menindas, memeras, dan memperkosa melalui kekuasaannya, tidak akan mungkin dapat menemukan dalam kekuasaannya itu suatu kekuatan untuk membebaskan kaum tertindas dari diri mereka sendiri. Kedua, meski nampak darinya ada upaya memperlunak kekuasaan mereka meski dengan alasan menghormati mereka yang lemah, hampir selamanya mewujudkan diri dalam bentuk kemurahan hati yang palsu. Lebih dari itu, tak ada.

Hematnya, hanya kekuasaan yang bersemi dari kaum tertindas sajalah yang cukup kuat atau punya potensi besar untuk membebaskan kedua-duanya.

Siapakah yang lebih siap dibanding kaum tertindas untuk memahami makna mengerikan yang terjadi pada masyarakat yang menindas? Siapakah yang merasakan penderitaan akibat penindasan lebih daripada kaum tertindas itu sendiri? Siapakah yang dapat memahami pentingnya artinya pembebasan dengan lebih baik?

Dalam upaya pembebasan ini, perlu juga ada kehati-hatian bagi kaum tertindas sebagai subjek pembebas agar tidak sekadar bertransformasi dari kaum tertindas menjadi kaum penindas atau “penindas kecil”. Ketakukan ini bukan tanpa sebab. Karena fakta menunjukkan bahwa pengalaman eksistensial mereka, seperti model gerakan kaum proletariat di kalangan Marxis, cenderung mengambil sikap “melekat” kepada diri si penindasnya.

Sebagai contoh, jarang sekali kita temui seorang petani yang ketika “diangkat” menjadi mandor, tidak menjadi seorang tiran yang lebih kejam terhadap rekan-rekannya dulu dibandingkan dengan majikannya sendiri. Atau seorang mahasiswa yang “diangkat” sebagai panitia ospek, melakukan penindasan bagi mahasiswa baru padahal dulu ia sangat membenci tindakan-tindakan semacam ini.

Lebih lanjut, sebagai proyek pembebasan manusia, buku ini tentu tak sekadar bicara tentang pentingnya pembebasan manusia atau pentingnya pendidikan bagi kaum tertindas. Buku ini sekaligus memberi solusi berupa metode pengajaran dan penerapan pendidikan yang tak sekadar mendidik, melainkan sekaligus memberi contoh yang membebaskan.

***

Lantaran kaum tertindas terus-menerus tenggelam ke dalam mitos yang ditiupkan kaum penindas seperti selama ini, Freire lalu tampil dengan model pendidikannya yang berintikan “pembebasan kesadaran” atau “dialogika”. Dalam model ini, Freire berusaha memancing mereka untuk berdialog, membiarkan mereka mengucapkan sendiri perkataannya, mendorong mereka untuk menamai, dan dengan demikian memampukan mereka untuk mengubah dunia.

Begitulah Freire yang tak ubah dengan apa yang juga pernah dipraktikkan Socrates melalui tehnik maieutic-nya—berasal dari bahaya Yunani, maieutikos, yang berarti “bidan”.

Dialogika sebagai Kritik

Selain sebagai model pendidikan yang membebaskan kesadaran manusia, dialogika juga menjadi satu diskursus yang secara utama ditujukan sebagai kritik atas pendidikan “gaya bank”. Model pendidikan yang dikritik ini adalah model yang sangat sarat akan nuansa-nuansa penindasan di dalamnya.

Salah satu bentuk penindasan dalam model pendidikan “gaya bank” adalah watak naratifnya, yakni pendidikan bercerita: guru adalah subjek yang bercerita, dan murid adalah objek yang hanya patuh dan mendengarkan. Sialnya, penyakit “bercerita” semacam inilah yang paling dominan diderita oleh pendidikan kita dewasa ini.

Dalam pendidikan bercerita, seorang guru selalu mendapati tugasnya sebagai “pengisi”. Lebih buruk lagi, murid ditempatkan tak ubah sebagai “bejana-bejana”, atau wadah yang kosong untuk diisi. Semakin penuh ia mengisi wadah-wadah itu, semakin baik pula seorang guru. Semakin patuh wadah-wadah itu, semakin baik pula mereka sebagai murid. Karenanya, pendidikan bercerita ini tak ubah sebagai kegiatan tabung-menabung: murid adalah celengan, guru adalah penabung.

Guru mengajar, murid diajar; guru mengetahui segala sesuatu, murid tak tahu apa-apa; guru berpikir, murid dipikirkan; guru menentukan peraturan, murid diatur; guru berbuat, murid membayangkan; guru memilih bahan ajar, murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu; guru mencampuradukkan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang ia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid; guru adalah subjek dalam proses belajar, murid adalah objek belaka. Inilah model pendidikan “gaya bank”, model pendidikan yang berideologi penindasan.

Ya, kepentingan kaum penindas adalah mengubah kesadaran kaum tertindas, bukan kondisi yang menindas mereka. Semakin mereka mudah untuk diarahkan, semakin mudah pula-lah untuk mereka dikuasai. Dan cara efektif mencapai tujuan akhir ini, penggunaan model pendidikan “gaya bank”-lah yang paling pas, dengan bekerjasama dan didukung penuh oleh aparat-aparat atau golongan masyarakat yang paternalistik. Sungguh sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan yang teorganisir.

Tetapi beruntung kiranya kita mendapati gagasan progresif-revolusioner dari seorang Paulo Freire. Darinya kita bisa memberi rumusan tentang pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan. Berkatnya kita bisa tahu bagaimana harusnya membangun hubungan guru-murid dalam dunia pendidikan, dan sekaligus tahu model penerapan pendidikan seperti apa yang pas untuk kita terapkan di dalamnya.