1 tahun lalu · 39 view · 2 min baca menit baca · Agama 52302_19956.jpg
Sumber: hisbah.net

Pedagogi Musibah

Akhir-akhir ini, media televisi, cetak maupun online dipenuhi berita musibah yang datang silih berganti. Mulai dari kelaparan di Asmat, gempa bumi di Lebak, kasus penganiyaan guru  di Sampang, kekerasan terhadap pimpinan pondok, jatuhnya crane di Jakarta, tertimbun longsor, amblasnya rel kereta Bogor-Sukabumi, banjir serta longsor, sampai erupsi gunung Sinabung baru-baru ini (19/2/2018).

Bagi hamba yang beriman, kejadian demi kejadian, musibah demi musibah adalah ujian keimanan. Dalam setiap hidup pasti ada ujian. Bukan hidup namanya jika tidak ada ujian. Semua orang yang mengaku beriman akan segera diberikan ujian.

Firman Allah SWT: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. al-Ankabut: 2-3).

Pelajaran dari Musibah 

Ujian, bisa hadir setiap saat. Saat kita beriman dengan penuh keyakinan, sebagaimana Bilal bin Rabbah digencet batu besar di tengah terik matahari. Saat Sumayah mempertahkan kalimat Tauhid di depan kafir Quraish. Saat kematian menimpa guru Ahmad Budi Cahyono di tangan muridnya. Dan saat Ayu Cahyani Putri korban tertimpa longsor di Soekarno-Hatta (5/1/2018).

Pada saat itulah ujian hidup akan datang kepada kita. Datang untuk memberikan kenikmatan kepada hamba-hambanya yang beriman. Sekalipun harus kehilangan nyawa tetapi itulah cara Allah agar mendapat nikmat yang kekal disisi-Nya.

Di sinilah letak kesabaran dan tawakal harus ditancapkan. Meskipun dada terasa sesak, menahan beratnya ujian. Kesabaran dan tawakal harus terus diasah dalam berbagai kondisi. Sehingga musibah apapun yang datang. Seberat apapun musibah yang menimpa kita. Kesabaran dan rida adalah cara menghadapinya, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Fawaidul Fawaid.

Dengan kata lain, sikap lapang dada harus mendapat tempat di hati umat yang beriman. Karena Lapang dada inilah yang perlu dikembangkan selain tawakal. Seberat apapun ujian yang menimpa, jika lapang dada, maka akan terasa ringan. Ibarat menabur garam ke lautan lepas, dengan sendirinya tidak akan terasa asin. Tetapi jika kita menabur garam ke dalam gelas, maka akan terasa asin.

Itulah perumpamaan orang yang menerima ujian dengan hati yang lapang, tidak akan merasakan perihnya tersiram musibah. Dan sebaliknya, sikap hati yang sempit, akan merasakan perihnya menerima ujian seperti luka terbuka yang tersiram air garam.  Pasti pedihnya akan kita rasakan.

Namun, kesabaran yang harus ditanamkan bukan sabar dalam arti diam tidak mencari jalan keluar. Berpangku tangan menunggu keajaibam datang. Tetapi sabar dalam arti aktif mencari jalan keluar agar musibah segera berlalu meninggalkan pelajaran berharga bagi hamba-Nya yang beriman.

Semoga, musibah yang menimpa saudara-saudara kita akhir-akhir ini, bisa menjadi bahan renungan. Agar lebih mawas diri bahwa sejatinya umat yang mengaku beriman, wajib hukumnya mendapat ujian.

Dan sebaliknya, jika tidak mendapat ujian maka sepantasnya  bertanya kepada hati kita masing-masing. Benarkah kita sudah beriman? Karena Iman seseorang memerlukan pembuktian lewat musibah yang datang kepada kita. Seperti orang-orang terdahulu yang ditimpa berbagai cobaan.

Sekaligus untuk membuktikan bahwa ayat Sang Maha Kuasa itu adalah benar adanya. Firman Allah SWT:”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. al-Baqoroh: 2014). Wallu a’lam.

Artikel Terkait