6 bulan lalu · 2004 view · 6 menit baca · Politik 58432_58492.jpg
HMI JakSel Melawan!

PB HMI, Rumah Jagal Perkaderan

Siapa yang tidak muak? Hidup dalam dunia dikelilingi kaum primitif penyembah kekerasan. Air mata siapa tak tumpah? Melihat tatapan mata bening kader muda yang tulus ingin berproses tapi malah digorok lelucon politik menggelikan.

Anak-anak muda ini datang dari desa, kuliah ke Jakarta, ingin menimba ilmu sebanyak-banyaknya di himpunan. Tapi gara-gara ketakutan segelintir senior yang khawatir dominasinya runtuh, hati putih kader muda dirobek-robek arogansi tak masuk akal.

Dalam dunia yang dipenuhi kemunafikan, mengapa orang-orang tulus selalu yang harus paling menderita menanggung kesalahan yang tak pernah dilakukannya? Ketika 10 Ketua Komisariat di HMI Jakarta Selatan sepakat memilih kandidat terbaiknya, di situlah harapan dituang.

Amanat yang dijerang dalam mangkuk legitimasi, lalu dikencingi si egois yang tak terima kenyataan, akankah kita biarkan? Kalau kebenaran dibiarkan terperkosa budak kekuasaan, haruskah orang-orang baik diam?

Orang dari suku, daerah, bahasa dan pikiran berbeda sepakat bulat masuk ke Himpunan. Melalui lidah, hati, perilaku, mereka menerjunkan diri menyatu bersama simbol hijau-hitam.

Bahkan gara-gara kecintaannya pada organisasi ini, ada yang rela pinjam uang sana-sini untuk modal keluar kota demi mengelola pelatihan. Apakah mereka dibayar? Tidak! Apakah mereka digaji? Sama sekali tidak! Siapa meragukan ketulusan abdi seorang Master of Training? Tidak ada!

Kita yang telah dididik keras sampai tingkat LK-III, masa iya tidak tahu ukuran kebenaran? Apa kita sebodoh itu? Kenapa sulit sekali mengaku kalah, mengapa kita terus-terusan ingin melumat duniawi? 

Kalau seorang senior tidak pernah siap digantikan adiknya, berarti bimbingan dan perkaderan yang ia lakukan selama ini hanya kosong melompong belaka. Kakak yang baik itu bukan menjegal-jatuh adiknya yang sedang ingin belajar naik sepeda. Itu bukan saudara, tapi begal!

Bagaimana bisa orang mengaku kepala rumah tangga yang baik saat rumahnya sendiri kebakaran dan kacau, malah kecentilan memberi ceramah di rumah tetangga tentang kebenaran? Di sini, di jantung Ibu kota, HMI sedang diacak-acak oknum haus dominasi, tapi ketuanya malah sibuk pencitraan sok membangun perkaderan di luar negeri.

Selasa, 31 Juli 2018, Ketua Umum PB HMI bertandang ke Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra. Untuk apa? HMI bukan partai, jadi tidak perlu sok sibuk komunikasi politik. 

Sadam, kau itu ketua kami, kader HMI. Anda bukan petugas partai, jadi jangan sibuk safari politik. Ketua, kau bukan caleg, jadi tak perlu plesiran ke partai-partai seolah sedang bangun koalisi. HMI derajatnya lebih tinggi, karena mencetak kader bangsa. Jadi jangan rendahkan dengan masuk ke rumah pencetak pejabat haus kuasa.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5 persen per tahun. Angka kemiskinan kita masih besar, 9,8 %. Artinya, masih ada 25,95 juta orang miskin di negeri ini. Masih ada sekitar 7 juta penganggur di nusantara ini. Anak HMI harus dibekali sebanyak mungkin keterampilan dalam perkaderan supaya tak menambah angka kemelaratan saat ia usai lulus kuliah.

Lalu, apa yang akan dilakukan HMI? Kalau kita tidak dipecut untuk bangkit dan belajar keras, jangan-jangan kader HMI hanya akan memperpanjang barisan pengangguran di negeri ini?

Sebelum bonus demografi menjadi bencana, organisasi ini harusnya bergegas memperbaiki sistem perkaderannya, bukan sibuk cawe-cawe ke partai. Tapi bagaimana pelatihan intensif dapat diselenggarakan kalau kaderisasi diblokade proses politik yang berlarut-larut. 

Sebenarnya konfercab itu proses sederhana yang terukur. Tapi gara-gara kontestan tak siap kalah, semua diseret untuk masuk jurang. Ini ibarat atlet Asian Games yang bertanding, tapi tidak mau terima kalah. Ibarat dirinya kalah, tapi venue-nya dibom supaya hancur.

Bagaimana bisa kita jumpai manusia seperti ini, yang dididik bertahun-tahun dalam organisasi yang mengatasnamakan berasas agama, tapi tak pernah mencapai kedewasaan nalar maupun spiritual. Politisi itu tempatnya di partai, bukan organisasi kemahasiswaan. Ketua pusat itu menjadi mercusuar pencerah, bukan boneka pencap stempel yang diam saja asal kursinya aman dan tak goyah.

Apa guna menebar kebenaran di negeri asing kalau tiang rumahnya sendiri rontoh dan menimpa adik-adiknya? Fakta seperti ini semakin menyadarkan kader seluruh Indonesia kalau sumber lunturnya idealisme organisasi ini justru berasal dari jantung PB HMI.

Gara-gara pemimpin tidak berani tegas, adik-adik berhati tulus yang ingin menunaikan LK-II dan LKK, dipaksa untuk mengubur dalam angan-angan. Ini ibarat balita yang ingin memetik bunga di taman, lalu datang bapak-bapak menyiram air comberan sehingga bunga itu tak lagi indah nan harum.

Sebagai manusia yang waras, rasanya diri ini tak tega niat baik anak-anak muda dilukai. Manusia macam apa, dengan sadisnya membegal semangat yang sebelumnya meluap-luap. Kita yakin otak kader HMI tidak sebesar kerikil, jadi pasti paham kalau jabatan itu bukan barang curian. Kalau jalan perkaderannya benar, kita semua pasti mengerti jabatan itu pemberian dari bawah. Jadi, tidak bisa seorang membawa golok lalu menjagal aspirasi ketua-ketua komisariat.

Jabatan itu bukan emas, yang bisa dirampas di tengah jalan oleh pembegal. Tampuk kepemimpinan itu diberi oleh hati dan digenggam dengan kepercayaan. Orang boleh saja memegang secarik kertas bernama SK, tapi kalau tak direstui yang dipimpinnya, apa guna pemimpin semacam itu? Apa tujuan kepemimpinan kalau bukan untuk kepentingan anggotanya. Mereka yang percaya kekuasaan lahir dari ujung pistol akan mati diterjang peluru.

Saddam, terima kasih atas ketidaktegasanmu. Gara-gara kau membiarkan kebenaran terbunuh, kader HMI se-Indonesia jadi paham kalau orang-orang tua di PB HMI tidak pernah rela digantikan adiknya.

Hari ini kita sadar, si senior tidak pernah rela minggir dan ingin terus-terusan membangun gurita kekuasaan. Berkat dipatahkannya roda perkaderan HMI Jakarta Selatan, mata publik bisa lihat kalau PB HMI telah jadi sarang gerontokrasi, suatu kandang dipenuhi orang-orang tua yang ingin selalu berkuasa tanpa mau digantikan anak muda.

Dulu mata kader berkaca-kaca memiliki ketua ganteng, muda, senyumnya manis, dan terlihat intelektual. Kini, mereka sadar dunia terlalu kejam jika hidup bermodalkan ketampanan. Kepemimpinan yang dijalankan menggunakan rias, rentan terjadi pemelacuran. Ketika proses konfercab diacak-acak, hasilnya dirampok, verifikasinya dipingpong, kader komisariat hanya bisa kejang-kejang upayanya ingin melanjutkan perkaderan dicaplok mulut rakus kekuasaan.

Sejatinya, melalui BPL, kita semua ingin menumbuhkan sapi yang gemuk intelektual, dagingnya segar dan subur reproduksi. Jangan ternak baru ingin berkembang sudah dijagal golok kekuasaan dari atas. Ketika hasil konfercab yang terbuka dan demokratis menuai hasil, menggorok legalisasinya sama saja menyayat 500 jantung anak muda tulus di cabang. 

Bayangkan, betapa menjadi hamba rakus jabatan dapat menancapkan luka perih di hati banyak orang. Bencana terbesar organisasi itu bukan ketika formateur gagal jadi ketua cabang, tapi kalau AD ART sudah kehilangan kesuciannya.

Konstitusi lahir untuk menjaga keteraturan. Kalau yang suci dikencingi, amanat banyak orang dicuri, keadilan dicincang atas nama sikap sok jagoan, pemimpin yang katanya penegak aturan malah wisata dan menelantarkan persoalan, di situlah bibit awal kemunduran dibalut kemuakan merambat. Wadah pencetak kader umat dan bangsa, sama sekali tidak layak ditinggali penyamun yang hobi menjegal adiknya yang ingin belajar praktik kepemimpinan.

Apa guna AD ART sebagai aturan main kalau kebenaran selalu harus dimatikan atas nama ketakutan pada premanisme? Mengapa mereka yang ke mana-mana memajang simbol kebenaran justru paling giat menebas lidah kebenaran? Tidak ada omong kosong paling menjijikkan selain penyeru kebenaran yang ke mana-mana berceramah mengajak memusuhi keburukan, tapi dia sendiri terdepan dalam menginjak-injak kebenaran.

Sapu kotor tidak bisa membersihkan lantai. Tidak ada yang percaya ketika pembohong sedang berbicara meskipun yang dikatakannya benar. Seorang anak kecil tidak bisa belajar kelembutan kasih dari seorang preman. Ketika Uni Soviet runtuh, tidak satu peluru Amerika pun yang menerjang. Karena musuh terbesar bukan datang dari jauh, tapi terbenam dalam diri kita sendiri.

Jujur. Selama ini, apakah perkaderan HMI dihambat oleh PKI? Bukan! Apakah HMI mundur karena disabotase mata-mata Mossad? Bukan! Apakah HMI melempem karena aktivisnya diracun agen CIA? Sama sekali tidak! 

Lalu siapa pencegat jalan kaderisasi kita? PB HMI! Kenapa? Karena mereka menggunakan standar ganda dan tidak pernah berani tegas, konsisten pada kebenaran yang tercantum dalam AD ART sebagai kitab suci himpunan. Ya, PB HMI memang sering kali jadi begal perkaderan daripada rumah teduh bagi kemajuan adik-adiknya.