10 bulan lalu · 7824 view · 7 menit baca · Pendidikan 17852_93500.jpg
Kiriman WhatsApp Joko Sugiarto

PB HMI Kehilangan Kompas?

Mendengar Ketua Umum PB HMI Saddam Al Jihad mau adakan LK1 di Malaysia, atau masih wacana, itu seperti nelayan yang memperbaiki kapal tetangga, padahal perahu sendiri bocor.

Selama politik pencitraan masih dipakai, tidak pernah ada perbaikan berarti dalam organisasi ini. Apa itu kebijakan populisme? Itu mirip perawat yang selalu mau memberi gula pada penderita diabetes. Benar atau tidak, tak penting, asal menyenangkan hati.

Sudah tiga hari ini pamflet bertuliskan segera launching "Mobil Klinik Sehat HMI" menyebar luas di media sosial. Tidak paham itu program bidang apa, yang jelas, saya menilai PB HMI sedang kehilangan orientasi dalam bergerak.

Saya tidak melarang orang menyediakan mobil ambulans bagi yang membutuhkan. Tapi kalau Anda paham sejarah, HMI didirikan tidak untuk mengambil alih fungsi negara sebagai organisasi tertinggi bangsa Indonesia. Lupakan wacana itu sejenak, mari menerawang jauh ke dalam internal.

PB HMI berada dalam pusaran politik nasional. Ruang geraknya berada dalam tataran kebijakan makro, bukan pelaksana langsung kewajiban negara. Mahasiswa berorganisasi untuk mengawal jalannya pemerintahan, bukan mengurusi bidang teknis kerjaan petugas Puskesmas.

Berbahaya jika pemegang tongkat komando tertinggi tidak lagi paham mana dapur sendiri, mana dapur tetangga. Benar-benar peduli pada kader, dengan politik pencitraan, itu beda jauh. Kita ulas satu-satu fenomena yang menjangkiti rumah tercinta ini.

Dalam dunia yang makin praktis seperti hari ini, tidak banyak kader yang mau berlama-lama di HMI. Beberapa dikejar cepat lulus, bekerja, membantu ekonomi keluarga, menabung, lalu menikah.

Kalau kita cermati lebih jauh, banyak sekali yang tidak menganggap penting berorganisasi. Dari pada jamuran berproses di wadah yang segala hal terpolitisasi, lebih baik berangkat ke Pare. Mendalami Bahasa Inggris, melamar beasiswa, lalu terbang ke Australia, atau Eropa.

Terkadang kita memang mesti berkaca ke dalam diri. Untuk apa berlama-lama di sini, di rumah yang orang rela pukul-pukulan hanya untuk rebutan Ketua Cabang, jabatan yang tidak digaji sama sekali? Setia pada organisasi yang menganggap murah persahabatan mungkin pilihan hidup yang perlu ditinjau ulang. Bagaimana seorang merasa nyaman kalau hubungan emosional serta-merta retak hanya gara-gara momen Konfercab?

Segala hal dikorbankan demi jabatan, itu tidak adil. Segala kelucuan ditempuh demi popularitas, itu tak intelektualis. Pertemanan, hubungan sosial yang terjalin lama, remuk karena liarnya nafsu berkuasa.

Jangan bayangkan posisi di BPIP yang tunjangannya ratusan juta. Mereka rela menghunus golok, saling melempar kursi ke sesama kader, bukan demi uang operasional yang menggiurkan, tapi hanya untuk jabatan remeh yang di luar HMI pun tak dipandang. Gejala berandalisme seperti ini memalukan bagi organisasi yang pendirinya sudah dapat gelar pahlawan.

Perjuangan kita memang bukan seperti Razan Al-Najjar, yang barusan meninggal beberapa hari lalu. Tidak ada peluru beterbangan, tak pula roket jet Israel bedebah. Ketika unjuk rasa, personel kepolisian pun gemetar walau hanya untuk meletupkan peluru hampa ke udara di depan massa HMI. Secara politis, organisasi ini berada dalam kedudukan elite. Seniornya bahkan menjadi orang nomor dua di republik ini.

Sebuah organisasi hidup dalam lingkaran sejarah yang terus mencetak torehan. Secara konseptual, tidak ada perubahan berarti dalam simbol sebuah perkumpulan. Tetapi, tiap tahun orangnya bergonta-ganti. Mobilnya relatif tetap, sopir dan penumpang berdinamika tiap waktu.

Ada yang masuk, ada yang keluar. Beruntunglah kalau yang naik makin dewasa tiap waktu. Siallah kalau kapal ini akhirnya dikendarai orang-orang amatir yang tak bijak walau hikmah betebaran di mana-mana.

Memilih berorganisasi itu harus diambil dalam keadaan waras akal. Mereka yang mencemplungkan diri ke komunitas atau perkumpulan, pertama-tama, harus paham tujuan pergerakan itu untuk apa. Orang yang tak memiliki totalitas tak layak mengorganisir diri dalam suatu gerakan. HMI bukan tempatnya pribadi labil, yang hari ini mau A, besok sudah berganti melakukan B.

Selain peka sosial, unsur utama dalam berorganisasi itu totalitas. Segala hal di dunia ini terlalu besar untuk digeluti satu-satu oleh seseorang. Tiap bidang, dibutuhkan pribadi yang berani memilih dan tekun.

PB HMI itu berada di tingkatan nasional. Ia mewakili suara kaum mahasiswa dan masyarakat bawah. Orang-orang yang duduk di dalamnya tidak boleh berpikiran kerdil. Berpikir luas itu berarti mengutamakan yang bernilai ketimbang yang remeh.

Sesuatu dikatakan bernilai kalau ia bertahan lama dan abadi. Remeh, itu yang mudah datang, mudah hilang, mudah lenyap, itulah materi (uang).

Sepanjang sejarah peradaban umat manusia, hanya kebenaran yang benar-benar abadi. Saking bernilainya, ia selalu didambakan semua kebudayaan. Jadi sudah tepat orang berwawasan luas mencampakkan godaan materi dan memilih kebenaran sebagai landasan geraknya.

Kalau tidak sukses berkarier di organisasi, minimal jangan merusak rumah ini. Jangan pernah pakai dogma "Tak kudapatkan, lebih baik kuhancurkan daripada dimiliki orang lain". Prinsip sakit hati tersebut tak pantas digenggam seorang yang mengaku anak bangsa.

Anda boleh gagal rebutan ketua cabang, tapi jangan pernah menyia-nyiakan skripsi. Karena perkuliahan itu bukan tentang gengsi, tapi tanggung jawab pada keringat orangtua di desa sana.

Perjuangan sekarang bukan pakai peluru, apalagi desakan massa unjuk rasa, tapi keahlian. Jauh-jauh hari, semua orang harus sadar kalau jabatan itu hanya satu. Tidak mungkin semua jadi ketua PB HMI, tidak mungkin posisi ketua cabang dibagi-bagi. Kalau sudah tahu pimpinan cuma satu, maka carilah lahan perjuangan lain yang lebih memungkinkan.

Kalau dilihat dari perspektif politis, badan-badan khusus, lembaga pengembangan profesi, dibentuk untuk memecah nafsu kuasa. Untuk membuyarkan orang-orang ingin duduk jadi ketua PB HMI, atau ketua cabang, dibentuklah badan lain supaya bisa diduduki mereka yang kalah kontestasi.

Di era global saat ini, kader harusnya makin cerdik menangkap peluang. Ketika @maell_lee bisa dapat penghasilan dari posting video di Instagram, kenapa kader HMI capek-capek rebutan posisi yang kemungkinan berhasilnya kecil? Padahal dengan berpikir kreatif, kemapanan itu bisa diringkus dengan banyak cara tanpa harus menjadi elite di HMI.

Andai saya becus Bahasa Inggris, sudah kutinggalkan HMI yang tak pernah dewasa ini elitenya. Saya akan mendaftar beasiswa, lalu melanglang buana ke Berlin atau Chicago, untuk mereguk ilmu sambil lihat luasnya dunia.

Andai saya jago IT, akan kutinggalkan organisasi ini. Mengasah kemampuan informatika, lalu menciptakan sistem keamanan cyber yang ditawar mahal oleh banyak multinational corporation.

Saya tidak ingin kader yang jumlahnya ratusan ribu bertahan di HMI karena alasannya seperti saya, karena lemah skill dan serba kekurangan. Orang tetap menggeluti organisasi karena memang kuliahnya tidak lulus-lulus.

Ada banyak kader tetap di dalam HMI bukan karena setia, tapi belum waktunya meninggalkan perkumpulan ini. Yang saat ini mengabdi belum tentu sudah yakin memilih jalan ini, tapi ia merasa belum waktunya pergi. Kepergian itu bukannya tidak dipikirkan, tapi waktunya memang belum pas.

Kalau Anda tidak bisa total di struktural, harusnya bisa fokus di akademik. Jangan HMI ditelantarkan, perkuliahan dianaktirikan, masa muda habis entah untuk apa.

Entah berapa kali saya berteriak pentingnya revitalisasi BPL dan pembinaan kader muda, berkali-kali saya gelorakan itu. Karena memang di situlah masalahnya dari dulu, dan selalu diacuhkan PB HMI. Mengadakan basic training di Malaysia bagus untuk citra di depan publik, tapi sebenarnya tidak menyentuh kanker persoalan.

Adakah yang melihat masalah besar menjangkiti organisasi ini? Kalau Anda pelototi lebih jernih, objektif, dalam, dan nyata, ternyata banyak sekali badan-badan khusus di HMI tak berfungsi. Dari sekian ratus atau puluh peserta LK1, hanya beberapa gelintir yang akhirnya aktif.

Di banyak struktur, Anda tidak melihat ada perangkat terorganisir, tapi hanya ketua-ketuanya saja yang menonjol. Padahal cabang itu bukan tentang ketuanya seorang, tapi tentang kesatuan kepengurusan yang harusnya berjalan padu, beriringan.

Organisasi itu bukan konsentrasi ketokohan, tapi pembinaan bersama-sama pada tiap anggota. Kalau hanya ketuanya saja yang menonjol, sedang anggotanya entah hilang ke mana, sejatinya itu bukan wajah keorganisasian.

Kegagalan perkumpulan itu terjadi ketika ia hanya mampu mengerek nama ketua, tapi anggota tenggelam dalam sekadar catatan arsip dan data belaka. Wadah ini mempunyai sistem yang demokratis dan sarat saluran aspirasi, bukan dunia feodal yang berciri ketokohan, instruksional mutlak, dan personifikasi seorang saja.

Sebagai manusia lemah, kita yakin masing-masing diri ini terbatas. Tapi ada semacam khalayan bersama, di mana harapan dan andaian kita terkumpul. Komitmen imajiner inilah yang membuat leluhur kita membentuk HMI.

Kita generasi keempat dari konsensus sejak angkatan Kanda Lafran Pane, dkk, setuju jika organisasi ini menjunjung tinggi kemajuan semua anggota. Bukan kepala kader ’’dijual’’ dalam politik populisme, yang menguntungkan seorang pimpinan.

Daripada kerja sama pengadaan mobil ambulans, sedang fungsi tersebut sudah dipegang kementerian kesehatan, lebih baik PB HMI mengusulkan pemerintah untuk setiap RW di seluruh Indonesia disediakan mobil gawat darurat gratis untuk orang miskin.

Kalau menteri bandel, atau lari dari tanggung jawab kenegaraan, gugat secara hukum bahwa negara berbohong, karena dalam UUD 1945 negara wajib melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Artinya, kalau ada fakir sakit, di situlah gunanya negara. Ia harus mengambil alih tanggung jawab sosialnya.

Kalau PB HMI mengambil peran teknis, misalnya, apakah juga akan menunjuk seorang kader menjadi sopir mobil Ambulans? Lalu bergegas meluncur tatkala ada kader sakit, atau kecelakaan?

Tidak mungkin. HMI ini organisasi nasional, kadernya tersebar di seluruh penjuru negeri. Kalau ada kebakaran, Anda jangan beli mobil pemadam kebakaran, itu fungsi teknis yang sudah ada petugasnya. Tinggal dorong sekuatnya agar fungsi dan petugas di bidang itu bekerja sebaik mungkin. Kader HMI, Anda itu bibit pemikir besar, bukan tenaga teknis.

Menjadi pimpinan organisasi itu bertindak, bagaimana caranya peran negara lebih aktif melayani rakyatnya. Kalau ada kekurangan kebijakan, lalu kita mengambil peran negara, itu menjadi tak elok karena tumpang tindih kewenangan.

HMI hadir menjadi penekan rezim supaya fungsi pokok negara ditunaikan. Saya rasa, menekan menteri kesehatan untuk bagaimanapun caranya, rakyat kecil dapat mengakses layanan kesehatan dasar, lebih tepat. Di LK1 itu kita dididik berpikir kritis, menjadi pembaru yang memikirkan hal-hal tak dibayangkan banyak orang.

Penyakit perjuangan kita ternyata bukan akibat dari kekurangan ide. Tapi kelebihan inisiatif, sehingga cenderung lucu dan merendahkan martabat organisasi. Kalau hanya menyediakan ambulans gratis ketika kader sakit, tidak perlu ikut Advance Training. Cukup lulusan LK1, ajari cara bikin proposal, lalu ajukan ke dinas kesehatan kota setempat agar menyediakan mobil gawat darurat manakala ada yang sakit.