Mahasiswa
1 tahun lalu · 66 view · 6 menit baca · Cerpen 20583_90691.jpg
Dok. Pribadi

Payung dan Kenangan

1.

Pukul 17 : 00 sore ini. Aku duduk di warung makan yang sudah menjadi langgananku bahkan sudah kujadikan tempat 'nongkrong', di sinilah kami menghabiskan waktu, aku menggunakan kata kami, iya karena memang aku tidak sendiri, banyak teman-teman yang juga nongkrong di sini dari berbagai fakultas dan jurusan di kampus. 

Hari ini, memang tidak ada kelas berhubung aku mahasiswa tingkat akhir boleh dibilang kekampus hanya untuk mengisi mata kuliah yang mengulang dan tidak se-intens seperti mahasiswa baru. Kebetulan hari ini teman-teman yang nongkrong di warung itu tidak banyak, seperti kebiasaanku ketika tiba aku langsung memesan, 'Kopi Hitam'.

2.

Tidak lama berselang ketika aku tiba hujan turun. Aku duduk dan langsung mengambil 'headset' dalam tasku. Menikmati kopi hitam diiringi lagu, 'with or without you' milik U2, yang ku play dari aplikasi pemutar musik di handphoneku. Karena di luar warung hujan sangat menggelitik sore ini. 

"Dengar musik kayaknya enak", ucapku pada seorang kawan yang sama-sama nongkrong di situ.

Tidak lama berselang Adzan berkumandang waktu Maghrib telah tiba, ku jeda sebentar untuk mendengar musik kemudian bersiap untuk menuju Masjid yang kebetulan jaraknya cukup dekat dari warung.

3.

Curah hujan sangat tinggi beberapa hari ini nyaris tak pernah berhenti kalaupun berhenti hanya sebentar saja, Setelah menunaikan kewajiban sebagai seorang Muslim. Hujan tak kunjung redah, oh iya seingatku tadi saya bawa payung dari warung tapi setelah kulihat payung itu tidak lagi di tempatnya.

'Mampus', keluhku dalam hati.

Mana payung itu milik Ibu yang warungnya ku tempati nongkrong tadi. Setelah menimbang-nimbang akhirnya aku nekat saja menerobos hujan dengan berlari, di tengah jalan kemudian aku berfikir aku harus mengganti payung yang hilang itu, meminta maaf dan menjelaskan alasan yang sebenarnya kepada Ibu pemilik warung. 

4.

Setelah sampai di warung aku kemudian langsung menemui Ibu pemilik warung untuk meminta maaf karena telah menghilangkan payungnya di Masjid tadi, dengan pakaian yang lumayan basah, aku menemui Ibu menjelaskan bahwa payungnya telah hilang dan mengutarakan niatku untuk mengganti payungnya. 

Ternyata dengan kebaikannya ia menolak untuk payungnya diganti; 

'Udah Mas, tidak apa-apa kok, santai aja'

'Jangan buk, biar aku ganti aja,  kan payungnya aku yang pake', aku berusaha untuk mempertahankan niatku.

'Nggak Usah mas, serius nggak apa-apa kok', yang namanya tidak sengaja'. Katanya dengan bijak.

'Serius Buk, nggak apa-apa? Sekedar lebih memastikan. 

'Iya mas'. 

'Terima Kasih buk', jawabku, dengan sedikit perasaan tidak enak. 

"Semoga kebaikan ibu, di terima dan diberi ganjaran yang lebih oleh-Nya", Do'aku dalam hati.

***

1.

Setelah itu, aku kembali duduk di bangku kayu tempat ku tadi, melanjutkan mendengar lagu U2 yang kujeda sebelum ke masjid, mendengarkannya di sela hujan.

Tak tahu kenapa lagu itu seakan-akan membuka pintu-pintu waktu yang telah ku lalui sepanjang hidup, membawaku pada dimensi waktu yang lampau, menghidupkan kembali memory masa itu pada seseorang yang dulu pernah dekat denganku, bahkan sangat dekat. Perempuan yang memiliki sorot mata yang khas, wajah manis, rambut hitam nan lurus, ini terjadi di luar rencana ku. 

"Ah sungguh hidup begitu menakjubkan, ada saja kejutan-kejutan yang selalu dihadirkannya".

Tetiba, aku bertanya pada diriku sendiri

Apa kabar Dia? 

Tanpa sebelumnya aku tidak pernah kefikiran tentangnya, apa lagi "Rindu" Sama sekali tidak, mungkin perihal lagu U2 yang kudengar itu liriknya bagai merefleksikan kembali kenangan tentangnya. 

Tidak tahu kenapa tapi itulah yang terjadi ? 

Apakah ini rindu ?

Tapi masa "iya", aku merindukannya? tanyaku lagi coba untuk meyakinkan diriku sendiri. 

Memang ku akui sejak dia memutuskan pergi upayaku untuk membunuh dirinya dalam ingatan selalu gagal, aku hanya bertahan dalam ego-ku untuk selalu berkata "aku sudah melupakannya". Tapi tidak pernah benar-benar melumpuhkannya.

Disisi lain aku mempertanyakan,

apakah yang kulakukan ini salah ? 

Sementara dia sudah memiliki kehidupannya, telah berbahagia dengan orang yang dia cintai juga orang-orang yang mencintainya, terlebih akupun tahu bahwa ia telah memiliki keluarga, karena waktu itu ia sempat mengutarakan, jika telah ada seseorang yang siap 'meminang-nya', itulah komunikasi terakhir yang kami lakukan tepatnya seminggu setelah ia mengutarakan keinginannya pisah denganku, mungkin karena urusan jarak ?karena memang waktu itu, aku memutuskan untuk sekolah di luar kota. 

Sebenarnya sebelum itu kami sudah terlibat masalah, yang sangat tidak sopan jika ku ungkapkan karena takut akan mengorek kembali luka lama. Terlebih sekarang dari kabar yang kudapat bahwa ia telah dikaruniai satu orang anak. Aku bahagia mendengar kabar itu.

2.

Perasaan bersalah dan rindu ini menggelitik dalam fikiranku bagai rintik - rintik yang menggelitik syahdu diawal gelap ini.

Salah, jika aku merindukannya ? Tanyaku sekali lagi. 

Malam mengalir pun halnya dengan air hujan yang mengalir jatuh, ke tanah seolah ingin mengabarkan kepada setiap makhluk di Bumi tentang kerinduan langit kepada tanah pun sebaliknya. Lantas aku bagai terserat dalam permainan mereka.

Aku kemudian teringat peristiwa 'Payung' tadi yang hilang. Jika saja aku menyimpannya di tempat yang aman dan tak membiarkan payung itu jatuh ke tangan orang lain. Aku tidak perlu merasa kehilangan juga tidak harus merasa bersalah. 

Aku, menggambarkannya seperti kisahku, jika saja waktu itu aku lebih bisa mengontrol emosi untuk lebih bijaksana lagi, mungkin ceritanya akan beda. 

Akan tetapi penyesalan selamanya akan jadi penyesalan tidak guna untuk bersedih dalam waktu yang lama toh hidup itu bergerak, harus kedepan sesekali melihat kebelakang boleh-boleh saja hanya sebagai pelajaran'. Setidaknya itulah petuah bijak dari seorang Ibu kepada anaknya.

3.

Kini kehidupan sudah sangat jauh berbeda membawa perubahan demi perubahan, sementara kenangan akan selalu jadi kenangan.

Setelah berselang beberapa tahun dari kejadian itu, aku menjalani hidupku biasa-biasa saja layaknya orang-orang. Sengaja aku memutuskan untuk tidak lagi membiarkan ada celah untuk dia dalam hidupku, bahkan untuk berkomunikasi meski hanya sekadar menanyakan kabar, kenapa aku memilih sikap seperti itu bukan karena aku membenci atau menyimpan dendam, mungkin rasa kecewa ada tapi itu sudah berlalu di awal-awal saja, sekarang aku sudah menerima kenyataan dan bisa berdamai dengan keadaan. Bagiku dengan cara seperti itu aku lebih bisa 'sadar diri', bahwa dia telah memiliki kehidupan sebagai seorang istri bagi suaminya dan ibu bagi anaknya. Yang intinya haram bagiku untuk terlibat walau hanya sebatas komunikasi, mungkin bagi beberapa orang terlihat berlebihan tapi, ini adalah pilihanku. 

Aku hanya tidak mau ada orang lain yang terluka atau kecewa. Dulu seorang teman mengabariku, kalau 'dia' ingin berkomunikasi denganku, aku menolaknya karena alasan itu. Sekali lagi kubilang ini bukanlah sikap karena aku dendam. 

***

1.

Meski begitu persoalan kenagan tentang dirinya sepertinya tak akan pernah bisa kulumpuhkan dalam ingatanku. 

Ku akui meski aku memilih sikap seperti itu, aku selalu mengenangnya tapi tak tahu kenapa baru hari ini aku merasa seolah sampai pada titik yang orang bilang itu 'Rindu'. Aku juga tidak tahu kenapa ? urusan apakah dia rindu ke aku ? Tidak begitu ku persoalkan, bukankah rindu adalah hak yang sifatnya sangat personal bagi seseorang. Aku tidak punya hak untuk menentukan itu, dia juga tidak 'Rindu' tidak apa-apa, aku masih tetap bisa menghirup udara. "Intinya, Aku 'Rindu' Dia, itu saja. 

Ada hal yang unik bagiku meskipun kubilang Aku rindu, tapi tidak lantas membuatku ingin bertemu dengannya, sebagian orang mungkin memahami "bahwa obat dari rasa rindu adalah pertemuan" tetapi bagiku "Rindu" yang ku derita ini tidak memerlukan obat atau semacam penawar karena ini bukanlah racun yang mematikan.

2.

Dan pertanyaan tentang "Rindu" itu biarlah tidak terjawab, aku hanya ingin berterima kasih untuk waktu dan setiap moment yang ku lalui bersamanya. 

Waktu di mana kami pernah bertengkar di atas motor matic, bertengkar di parkiran mobil sebuah mall, aku sudah lupa sebab-nya apa. Dan untuk semua tawanya serta canda yang berhasil membuatku tertawa hingga semua orang melihat ke arahku. Dan ketika Dia marah karena aku terlambat membalas pesannya. Dan hal lain yang membuatku merasa sangat bahagia dan bangga karena telah memilikinya, Terima kasih juga telah memilihku diantara banyak laki-laki yang suka denganmu (Dia),"Waktu itu". Dan hal yang penting, "Dia telah berhasil meninggalkan semua kenangan dan itu Indah". Terima Kasih!. Itulah beberapa potongan kenangan indah yang Dia tinggalkan, ketika dulu masih bersama-ku. 

Ah, "Dia". 

3.

Biarlah perasaan Rindu kepadanya ini terus kubawa, untuk mungkin bisa menemaniku di hari-hari sepiku nanti karena perjalananku tidak dan belum terhenti. Karena setiap orang meninggalkan, kenangannya masing-masing dan itu berbeda! Termasuk dia yang meninggalkan kenangan dan Itu beda !!!

"Dimanapun dia Berada, Aku Rindu".

Yogyakarta. 

Artikel Terkait