Bagaimana sikap kita jika sedang berada di tempat umum? Mayoritas orang pasti akan menjaga tingkah lakunya. Bertingkah laku yang terbaik supaya dinilai “baik” oleh orang lain.

Namun, pernahkah kita berpikir bahwa apa yang kita lakukan itu apakah murni kesadaran diri sendiri atau semata-mata hanya mengikuti peraturan yang ada? Banyak kasus yang dapat dijadikan contoh.

Pertama, saat berada di lampu merah, sering kita jumpai orang yang berhenti di area penyebrangan. Tanpa rasa bersalah, dia mengambil hak orang lain yang seharusnya digunakan untuk menyebrang.

Lampu lalu lintas yang masih kuning pun sudah berubah makna menjadi hijau. Semua sudah siap tancap gas seakan sedang mengikuti lomba Moto GP. Semua merasa acuh dengan ketentuan yang seharusnya ditaati.

Berbeda situasi jika sedang berada di lampu merah lalu ujung mata melihat ada polisi yang dengan gagah berjaga di pos polisinya. Dilengkapi dengan setumpuk kertas dan bolpoin tanda siap untuk menindak tegas para pelanggar.

Apakah sikap kita akan acuh begitu saja? Oh, tentu tidak semudah itu. Pasti semua orang saat itu juga akan menaati peraturan yang ada supaya tidak terkena tilang tentunya.

Contoh lain, sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk asmara sedang hang out di sebuah mal dengan niat awalnya hanya untuk jalan-jalan dan sekadar menonton film di bioskop. Tentunya niat ini akan berubah jika melihat kondisi di dalam bioskop yang gelap dan dirasa “aman” untuk bermesraan.

Beberapa waktu lalu, ada video yang sedang viral di media sosial tentang sejoli yang berbuat mesum di taman kota. Mereka nekat berbuat tindakan tak senonoh serasa dunia hanya milik berdua.

Walaupun kondisi taman kota yang sedang sepi, lantas apakah mereka berpikir tidak akan ada yang mengetahui tindakan mereka? Tempat yang mereka pikir “aman” justru menjadi boomerang bagi mereka sendiri.

Ya, begitulah sepintar-pintar menyembunyikan lama-lama bau kaos kaki akan tercium juga. Niat hati melampiaskan nafsu. Kini harus menanggung beban malu karena videonya viral di media sosial.     

Ada juga kasus Ibu muda yang nekat mencuri di sebuah toko. Dengan modus hanya membeli sesuatu barang. Namun, tangannya dengan lihai menyelipkan barang lainnya di tas kosong yang dibawanya. Toko yang tak dilengkapi CCTV dianggap aman untuk melakukan aksinya.

Malangnya, ekspetasi tak seindah realitas. Aksi buruk sang Ibu ternyata diketahui oleh salah satu karyawan toko. Mau tak mau sang Ibu pun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Contoh lain di masa pandemi yang tak kunjung usai ini. Pemerintah semakin memperketat protokol kesehatan yang ada. Misalnya, para pengendara diwajibkan untuk mengenakan masker. Namun, bagaimana fakta yang terjadi di lapangan?

Banyak kasus para pengendara yang ingin mengelabuhi petugas saat terkena razia masker dijalan. Segala cara dapat dilakukan untuk lolos dari razia ini. Seperti, baru memakai masker saat menjumpai petugas.

Selain itu pemerintah juga mewajibkan bagi orang yang berkepentingan melakukan perjalanan jarak jauh untuk melampirkan surat hasil cek kesehatan yang menyatakan bahwa dirinya dalam keadaan sehat.

Namun, lagi-lagi masih ada saja oknum yang memberikan surat palsu dengan cara membelinya di situs belanja online. Tentunya tak habis pikir, surat kesehatan saja dapat diakali oleh masyarakat negara berflower untuk berubah menjadi ladang bisnis.

Ada juga contoh yang paling membuat saya heran. Yaitu kasus tentang pemalsuan ibadah yang biasanya kerap dilakukan oleh segelintir generasi millennials. Bersolek rapi pamit ingin ibadah ke gereja namun malah ganti haluan ke mall.

Atau mungkin suara Ibu yang menggelegar membangunkan anak untuk sholat subuh. Besarnya rasa malas menggiring siasat anak untuk berbohong. Daripada kena omel lantas cepat-cepat mengambil air dan mengacak sajadah sebagai tanda sudah melakukan sholat.

Apakah ada kasus seperti ini? Tentu saja banyak. Miris memang, agama sebagai tiang hidup saja bisa di siasati. Bagaimana kita mau menaati peraturan yang dibuat manusia apabila peraturan yang dibuat Tuhan saja berani kita langar?

Ya, inilah realitanya. Masih banyak orang mematuhi sesuatu hal hanya saat ada yang mengawasinya secara fisik. Tak dapat dipungkiri, hal-hal seperti ini sudah menjadi kebudayaan yang sudah dianggap wajar di Indonesia.

Bahkan hal-hal yang sifatnya mendasar di masa pandemi seperti kesehatan saja masyarakat masih sering mengabaikannya. Hal-hal kecil seperti ini yang seharusnya menjadi renungan bersama.

Hal yang lebih anehnya lagi, saat ada orang yang melakukan kesalahan. Lantas orang lain langsung menghakiminya tanpa mencari tahu terlebih dahulu yang terjadi.

Semua orang mengenakan topengnya masing-masing. Mengambil peran yang sesuai. Berlagak menjadi yang paling benar. Dan seakan menghakimi yang salah.

Mengapa kita masih saling menyalakan satu sama lain, bahwa sebenarnya kita semua sama saja. Sama-sama manusia yang tak luput dari salah. Hanya saja setiap orang memiliki porsi kesalahan yang berbeda.