Researcher
3 tahun lalu · 353 view · 3 menit baca · Ekonomi 12094789883_8cf69c3a0d_z.jpg
[Foto: David Stanley/Flickr]

Pasar: Penolong Kemanusiaan

Catatan sebelumnya  membeberkan tiga keberatan perluasan ekonomi pasar: obyektifikasi, eksploitasi, dan argumen tebing licin. Catatan kali ini memaparkan sanggahan terhadap keberatan-keberatan tersebut.

Tanggapan terhadap dua keberatan pertama

Dikhawtirkan jika pasar meluas maka akan terjadi fenomena obyektifikasi yang merendahkan martabat manusia. Ekonom menanggapi kekawatiran itu dengan menunjuk pada pasar tenaga kerja. Di dalam pasar tenaga kerja, orang miskin banyak yang mengambil pekerjaan yang tidak menyenangkan dan berisiko tinggi. Namun jarang yang menganggap pilihan tersebut sebagai pilihan yang merendahkan martabat manusia. Bahkan pilihan tersebut sering kali mendapat pujian jika dilakukan sebagai pengorbanan bagi keluarganya.

Terhadap kekhawatiran eksploitasi. Ekonom menanggapi dengan argumen regulasi. Regulasi yang dirancang secara tepat dapat mencegah terjadinya eksploitasi. Salah satu contohnya adalah regulasi yang mengharamkan penjualan rokok, minuman keras dan pornografi kepada anak-anak, karena anak-anak dianggap kelompok yang rentan terhadap eksploitasi

Penolong yang dituduh pemerkosa?

Saya akan bahas lebih panjang lebar kekhawatiran ketiga. Kehawatiran bahwa ekspansi pasar lambat laun akan menggeser altruisme. Bayangkan seorang ibu yang memiliki komitmen altruistik; ingin menghemat air demi pelestarian lingkungan. Bayangkan situasi di mana tidak ada pasar untuk air sama sekali.

Bagaimana ibu tersebut memperkirakan jumlah konsumsi air yang optimal? Ibu tersebut tentu tidak ingin mengkonsumsi air terlalu banyak karena komitmen altruistiknya. Namun, jika ibu itu mengkonsumsi air terlalu sedikit, hanya untuk sekedar bertahan hidup, maka besar kemungkinan kesehatannya akan terganggu.

Terganggunya kesehatan si ibu pada gilirannya akan menambah beban yang ditanggung masyarakat, berlawanan dengan niat ibu tersebut untuk bertindak altruistik.

Dengan kata lain, terdapat tingkat konsumsi air yang optimal secara sosial, tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak. Tanpa harga pasar, ibu itu akan sulit sekali mengetahui tingkat optimal tersebut dan dengan demikian tidak dapat mewujudkan tujuan altruismenya.

Steel (1992) mengatakan ”an entirely altruistic or benevolent person, without a trace of self-interest, will try to guess the correct trade-off, but in the absence of market prices will make mistake, with inefficiency resulting.” Jika endemi kesalahan-kesalahan perorangan dalam menentukan tingkat konsumsi optimum ini dijumlahkan untuk seluruh masyarakat maka bisa menghasilkan inefesiensi yang massif. Inefisiensi ini justru menghalangi tercapainya tujuan altruistik.

Kalau pasar dianggap pemerkosa, ya sudahlah kita cari non-pasar yg efisien

Ah ... argumen di atas itu kan cuma teori ekonom Austrian yang semakin sedikit penyokongnya. Bagaimana dengan bukti empirisnya? Kelangkaan pasokan darah itu hal yang jamak terjadi, bukan pengecualian. Menurut penelitian, dari populasi yang layak menyumbang darah hanya 5-10% yang benar-benar menyumbang di negara maju. Presentasenya lebih kecil lagi di negara berkembang. Altruisme murni itu barang langka.

Pertanyaannya bagaimana mendorong 90-95% populasi untuk menyubangkan darah, agar lebih banyak jiwa yang terselamatkan?. Ekonom pada umumnya percaya bahwa insentif, apapun bentuk insentif itu, dapat mengubah perilaku manusia seperti dikatakan Easterly … “incentive, incentive, incentive.”

Namun Titmus (1970) menolak solusi insentif, khususnya insentif moneter. Titmus berpendapat bahwa penerapan insntif moneter justru akan mengurangi pasokan darah karena tergerusnya altruisme. Kalau insentif moneter dianggap counterproductive atau begitu menjijikan, ya sudahlah, bagaimana kalau dicoba insentif yang lain?

Lacetera dan Macis (2008) mencoba menguji efek insentif non-moneter pada frekwensi menyumbang darah. Dengan menggunakan data longitudinal termasuk rekam jejak seluruh donor darah di Itali, Lacetera dan Macis meemukan bahwa: (i) pemberian insentif liburan satu hari dan (ii) penganugerahan medali penghargaan dapat mendorong masyarakat untuk lebih sering menyumbangkan darahnya.

Mereka menemukan berbagai fenomena menarik. Misalnya memberikan libur sehari bagi pendonor darah menambah frekwensi donasi satu kali dalam setahun. Yang lebih menarik lagi, pemberian medali penghargaan hanya menambah frekwensi donor darah jika penghargaan itu dianugerahkan dalam seremoni publik dan/atau disiarkan dalam media.

Ekonom lain yang bersikap “ya sudahlah” adalah Al Roth. Kalau jual-beli organ tubuh dianggap menjijikan, ya sudahlah, kita coba sistim barter, tapi barter yang lebih efisien. Penderita gagal ginjal A, walaupun sudah mendapatkan penyumbang ginjal B, belum tentu bisa memanfaatkan donasi ginjal tersebut karena ketidakcocokan tipe darah atau penolakan fisiologis yang lain.

Ketidakcocokan yang sama mungkin juga terjadi pada Penderita C dan penyumbang D. Tapi jika penyumbang D cocok dengan penderita A, dan penyumbang B cokok dengan penderita C. Maka dapat dilakukan barter ginjal sehingga A dan C dapat terselamatkan. Al Roth, Tafyun Sonmez, dan Utku Unver merancang sistim barter ginjal di mana “double coincidence” ini dapat dipecahkan secara efisien

Apakah “mata tepuk-tangan-an” dan “mata liburan” lebih mulia dari “mata duitan”? Apakah barter lebih luhur dari jual-beli organ tubuh? Itu sudah diluar kewenangan artikel ini untuk menjawab

Artikel Terkait