Researcher
3 tahun lalu · 623 view · 5 menit baca · Ekonomi 176146762_29beeea213_b.jpg
[Foto: Maciej Lewandowski/Flickr]

Pasar: Pemerkosa Kemanusiaan?

Laila dan Rama saling mengasihi, tetapi terlalu miskin untuk menikah sekarang. Mereka diam di dua desa yang terpisah oleh sungai besar, yang didiami banyak buaya.

Pada suatu hari Laila mendengar, bahwa Rama sakit keras tanpa ada yang merawat. Ia bergegas ke tepi sungai dan mendesak tukang perahu, agar menyeberangkan dia, meskipun ia tidak punya uang untuk membayarnya.

Tetapi tukang perahu jahat itu menolak, kalau ia tidak mau tidur dengan dia malam itu. Wanita celaka ini memohon dan mendesak, tetapi tidak berdaya. Maka karena putus-asa ia setuju dengan syarat si tukang perahu.

Ketika ia akhirnya sampai ke tempat Rama, ia menemukannya hampir mati. Tetapi ia tinggal bersama dia sebulan lamanya, dan merawatnya sampai sembuh kembali. Pada suatu hari Rama bertanya, bagaimana ia dapat menyeberangi sungai. Karena tidak bisa berbohong kepada kekasihnya, ia menceritakan apa nyatanya.

Ketika Rama mendengar ceritanya, ia menjadi marah sekali, karena ia menilai keutamaan melebihi hidup. Ia mengusir dia dari rumahnya dan tidak sudi melihat dia lagi. (Anthony de Mello dalam Doa Sang Katak)

***

Sebelum melanjutkan perlu saya beri peringatan. Cerita-cerita model chicken soup of the soul ini cenderung menggedor emosi dan mengaburkan penalaran. Karenanya, saya sedikit berimajinasi dan mencoba menunjukkan kemungkinan-kemungkinan lain dalam babak akhir alegori Rama-Laila di atas.

Bisa saja Rama tidak mempersoalkan insiden Laila-Tukang Perahu, tetapi akhirnya Laila menjadi ketagihan tidur dengan tukang perahu sampai akhirnya melupakan Rama (skenario 2). Versi yang lebih tragis, tukang perahu melempar Laila ke sungai setelah memperkosanya (skenario 3).

Atau sebaliknya, pertimbangkan sekenario 4, tukang perahu tidak memperkosa sama sekali. Rama saja yang berprasangka buruk, terus menginterogasi Laila, sampai terpaksa mengakui sesuatu yang tidak dia lakukan. Pemerkosaan hanya ada dalam imajinasi Rama.

***

Alegori yang dikemukanan De Mello saya gunakan untuk mengilustrasikan kemungkinan adanya dilema moral dalam penerapan ekonomi pasar. Berkat adanya pasar (tukang perahu), kesejahteraan umat manusia meningkat (Rama terselamatkan) namun dengan ongkos rusaknya nilai-nilai kemanusiaan, seperti persahabatan dan altruisme (Laila yang kehilangan kemurniannya).

Dilemanya adalah mana yang lebih penting, menyelamatkan nyawa manusia atau mempertahankan nilai kemanusiaan. Dalam bahasa alegori di atas, apakah kita mengikuti Laila menilai hidup melebihi keutamaan, atau mengikuti Rama, menilai keutamaan melebihi hidup?

Namun jika skenario 2 dan 3 yang terjadi maka, tidak ada dilema moral. Kesejahteraan manusia tidak meningkat juga, malah dalam jangka panjang penerapan ekonomi pasar akan ”membunuh” nilai-nilai yang dianggap luhur tersebut. Dalam skeneraio 4 juga tidak ada dilema moral. Berkat ekonomi pasar, kesejahteraan meningkat dan nilai-nilai kemanusiaan tidak hancur.

Debat-debat moralitas pasar cenderung dibingkai dalam dua titik ekstrim. Kelompok yang sangat anti pasar maupun kelompok yang sangat pro pasar cenderung menganggap tidak ada dilema moral. Penentang fanatik ekonomi pasar cenderung mengambil skenario 2 dan 3, Laila ketagiihan, atau tukang perahu memperkosa dan membuang Laila ke sungai yang penuh buaya. Pendukung fanatik ekonomi pasar cenderung percaya skenario 4; tukang perahu sama sekali tidak menyentuh Laila.

***

Michael Sandel (2005), misalnya mengangkat masalah di atas dalam kuliah umumnya yang berjudul The Moral Limits of Markets dengan mengajukan dua pertanyaan: "Are there some things that should not be bought and sold, and, if so, why?"

Al Roth (2007) mengkompilasi jawaban masyarakat terhadap pertanyaan pertama. Ya, ada cukup banyak kasus di mana masyarakat berpendapat bahwa ada hal-hal yang tidak boleh diperdagangkan. Roth menyebutnya Repugnance Market.

Yang menarik dari kompilasi Al Roth tersebut adalah pendapat masyarakat tentang batas-batas etis penerapan pasar itu tidak permanen, bergeser dengan berjalannya waktu. Perbudakan misalnya, dahulu dijinkan. Malah mendapat sokongan dari kitab suci.

Sekarang sangat sedikit masyarakat yang masih menyetujui perdagangan manusia. Sebaliknya bunga bank dahulu dilarang, sekali lagi dengan dukungan kitab suci, sekarang diijinkan. Dahulu, ketika negara sebagai entitas politik belum ada, tentara bayaran dianggap wajar oleh masyarakat.

Namun sejak munculnya konsep negara bangsa dengan tentara regularnya. Membunuh karena alasan uang dianggap memuakkan. Sebaliknya membunuh karena patriotisme dimulyakan.

Terhadap pertanyaan why ada tiga jawaban mengapa dalam beberpa hal, pasar dianggap memuakkan.

Obyektifikasi: dengan memberikan nilai moneter dan memperjual belikannya sesuatu, maka sesuatu yang seharusnya personal, menjadi impersonal. Kalamgan Marxist menggunakan istilah komodifikasi untuk menunjukkan fenomena yang sama; sesuatu yang sebelumnya tidak diberi nilai moneter dan diperdagangkan menjadi memiliki nilai moneter dan diperdagangkan.

Jadi obyektifikasi/komodifikasi merujuk pada fenomena ekspansi ekonomi pasar ke wilayah-wilayah yang tidak seharusnya dimasuki pasar. Termasuk dalam kategori ini misalnya pelacuran, perbudakan, dan perdagangan organ tubuh.

Misalnya, dalam pidatonya dihadapan para dokter spesialis cangkok organ tubuh, Paus Johanes Paulus II mengatakan: “any procedure which tends to commercialize human organs or to consider them as items of exchange or trade must be considered morally unacceptable, because to use the body as an ‘object’ is to violate the dignity of the human person.”

Posisi yang lebih toleran terhadap perdagangan organ tubuh misalnya diwakili oleh agama Yahudi. Avraham (2004, p. 271-2) melaporkan pendapat Rabbi Shlomo Zalman Auerbach bahwa mereka yang menjual ginjal dengan niat meyelamatkan kehidupan melakukan perbuatan mulia, meskipun meyelamatkan kehidupan bukan satu-satunya motivasi mereka.

Namun dia menambahkan catatan kritis: “In spite of all that has been said above, it seems to me that it is the community that needs soul-searching for allowing a person to reach such a depth of despair that he must sell a kidney, either because of poverty, debts, or the inability to pay for a relative’s medical expenses.”

Eksploitasi: komersialisasi dikhawatirkan akan membuat sebagian orang, khususnya orang miskin, menjadi rentan terhadap eksploitasi. Menurut mereka menyelamatkan nyawa orang kaya pembeli organ tubuh dengan membiarkan eksploitasi terhadap orang miskin penjual organ tubuh hanya menggeser tragedi dari orang kaya ke orang miskin.

Argumen tebing licin (slippery slope): walaupun transaksinya sendiri saat ini secara etis dapat diterima, namun dikhawatirkan akan membuka pintu bagi transaksi tidak etis di masa depan. Misalnya, pengusung argument ini khawatir jual beli organ tubuh ini akan masuk dalam kontrak sebagai kolateral untuk perawatan kesehatan yang lain, atau utang.

Kehawatiran lain dalam kategori ini adalah, lambat laun pasar akan menggeser donasi yang sifatnya altruistik. Jika ini terjadi maka, menerapkan pasar, bukannya meningkatkan donasi, namun justru akan menurunkan pasokan donasi.

Richard Titmus membandingkan sistim di Amerika Serikat yang tidak melarang dan sistim Inggris yang melarang jual beli darah dan menggantungkan sepenuhnya pada donasi darah. Titmus menemukan bahwa komersialisasi darah justru mengakibatkan kelangkaan darah dan semakin seringnya ditemukannya darah yang terkontaminasi.