Mayoritas penduduk Jakarta mungkin mengenal Pasar Minggu. Jika ditanya bagaimana gambaran mengenai Pasar Minggu, pasti akan menjawab pasar yang terletak di Jakarta Selatan. Tapi jika diberikan pertanyaan bagaimana perjalanan sejarah Pasar Minggu, mungkin tidak sedikit yang akan menggelengkan kepala.

Pasar Minggu merupakan salah satu Pasar yang sudah ada sejak era kolonial. Pada masa pemerintahan VOC, pemerintah memberikan tugas para Mayor untuk mengelola tanah-tanah kosong tak bertuan yang ada di luar benteng Batavia atau bisa diartikan tanah Ommelandaen.

Pasar Minggu pada masa VOC berstatus Onderdistrik. Wilayah ini berada di bawah naungan Distrik Kramat Djati. Distrik ini lalu ada pada tatanan pemerintahan Regentschap Meester Cornelis.

Para mayor yang bertugas untuk mengelola tanah-tanah kosong tersebut digunakan untuk menanam buah-buahan. Selain untuk konsumsi pribadi, buah-buahan tersebut juga untuk barang komoditas yang cukup menguntungkan.

Namun, di sisi lain, mayor juga memimpin penduduk yang tinggal di wilayah tempat ia kelola. Berbagai macam peraturan dibuat untuk menguntungkan dirinya sendiri sampai bisa disebut sebagai raja kecil di pinggiran Batavia. Tanah yang dikelola bisa disebut juga sebagai tanah partikelir.

Sebelum tahun 1830, wilayah masih minim sarana transportasi. Transportasi yang dimiliki hanyalah menggunakan perahu kecil yang melewati Sungai Ciliwung atau Sungai Krukut.

Melihat tanah Partikelir yang dikelola oleh para Mayor, ternyata membuahkan hasil pertanian buah-buahan yang cukup menguntungkan. Akhirnya setelah tahun 1830, pemerintah Kolonial membuat akses jalan yang masih berupa tanah dan menghubungkan langsung dengan Batavia.

Dengan kemudahan akses tersebut, banyak penduduk Eropa di dalam benteng Batavia melakukan “liburan” ke Onderdistrik Pasar Minggu karena memiliki wilayah yang masih asri dan sejuk. Pada liburan tersebut, penduduk Eropa melakukan aktivitas mendegarkan musik sambil berdansa dengan ditemani makan buah-buahan.

Karena keberadaannya yang makin penting, pemerintah Kolonial pada tahun 1873 membangun jaringan rel kereta api dan membangun stasiun di Onderdistrik Pasar Minggu. Jaringan rel kereta api ini menghubungkan langsung dengan Batavia dan Buitenzorg.

Sebagai salah satu komoditas yang cukup menguntungkan, buah-buahan akan dikirim ke Batavia menggunakan kereta lalu dari Batavia pemerintah akan menjualkan ke berbagai daerah di Hindia Belanda.

Setelah VOC bangkrut, jalannya pemerintahan diberikan kepada Belanda secara langsung. Berubahnya pemerintahan diikuti juga dengan perubahan sistem peraturan. 

Tanah Partikulir yang dipimpin oleh Mayor berubah menjadi tanah Gubernemen, tanah ini merupakan tanah Partikulir yang dibeli oleh pemerintah Belanda lalu tanah tersebut disewakan untuk penduduk setempat dengan cara membayar dengan uang dan hasil pertanian buah-buahan.

Pemerintah Belanda makin memperhatikan Onderdistrik Pasar Minggu, untuk menghasilkan buah-buahan dengan kualitas yang bagus maka pemerintah Belanda pada 1 April 1921 memutuskan untuk membangun sebuah laboratorium pertanian yang bertujuan untuk membuat percobaan buah-buahan dengan kualitas bagus di Pasar Minggu.

Berganti pada era pendudukan militer Jepang. Onderdistrik Pasar Minggu berubah nama menjadi Pasar Minggu Son, wilayah tersebut berada di bawah naungan Jatinegara Gun. Pemerintah militer Jepang melakukan perubahan dibidang sosial ekonomi dengan tujuan untuk menunjang sumber daya logistik tentara Jepang yang sedang berkonfrontasi dengan Amerika di Samudera Pasifik.

Kebijakan sosial ekonomi pemerintahan militer Jepang berdampak pada Pasar Minggu. sebagian penduduknya dialih fungsikan untuk dijadikan romusha dan tentara PETA. Minimnya sumber daya manusia, akhirnya berakibat pada bangunan penunjang seperti Laboratorium pertanian dan tanah-tanah pertanian menjadi tidak terawat.

Sebagian penduduk Pasar Minggu yang tidak dijadikan romusha atau tentara PETA diberikan mandat oleh pemerintah militer Jepang untuk melanjutkan sistem pertanian, namun bukan buah-buahan yang diprioritaskan tetapi sayur-mayur untuk menjadi logistik tentara Jepang.

Setelah jatuhnya pemerintahan militer Jepang, Pemerintah Indonesia melakukan dekolonisasi beberapa hal. Seperti melakukan dekolonisasi terhadap laboratorium pertanian dan lahan pertanian buah-buahan Pasar Minggu yang terbengkalai.

Pemda Jakarta menjadikan Pasar Minggu sebagai wilayah pengembangan pertanian dari Dinas Pertanian Kotapraja Jakarta. Kebijakan tersebut dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani, pada era kolonial maupun pendudukan militer Jepang rakyat tertekan dan sebagian besar berada dalam strata bawah.

Fungsi kawasan Pasar Minggu sebagai daerah penghasil buah-buahan mengalami peningkatan. Peningkatan ini yang menjadikan acuan pemerintah DKI Jakarta untuk memperluas lahan pada tahun 1950-an.

Salah satu yang menjadi faktor meningkatnya hasil buah-buahan berkualitas adalah hasil kerja keras Kantor Perkebunan Rakyat dan Kebun Percobaan Pasar Minggu. kedua badan ini memiliki tugas untuk memberikan bibit unggul kepada penduduk Pasar Minggu yang bekerja sebagai petani buah.

Selain tugas utama tersebut, Kantor Perkebunan juga memiliki tanah yang cukup luas untuk melakukan pengembangan buah-buahan lebih lanjut. Para petani buah bisa masuk dan keluar dengan bebas di Kantor Perkebunan Pasar Minggu.

Mereka dapat mencontoh dan mempraktikkan apa yang dilakukan Kantor Perkebunan serta mencobanya di lahannya masing-masing untuk bisa menghasilkan buah-buahan yang berkualitas baik.

Bagi sebagian besar masyarakat Jakarta saat ini, mungkin mengetahui salah satu potongan lagu karya Bing Slamet yang berbunyi:

“Pepaya, mangga, pisang, jambu
Dibawa dari Pasar Minggu
Di sini banyak penjualnya
Di kota banyak pembelinya
....”

Dari potongan lagu tersebut, tetua di Pasar Minggu meyakini bahwa pasar tersebut hanya dibuka pada hari Minggu saja dan dibuka hanya sampai pada jam 12 siang. 

Hal tersebut karena pada masa kolonial, aktivitas jual beli hanya dibuka pada hari Minggu. Hari tersebut juga bertepatan hari libur penduduk Eropa dari aktivitas pekerjaan. Berbagai macam buah-buahan sampai pentas kesenian seperti ronggeng dilakukan di Pasar Minggu untuk menghibur penduduk Eropa.

Daftar Pustaka

  • Aziz, Abdul. 2002. “Penggusuran Mengakibatkan Terjadinya Migrasi Lokal di Jakarta 1966-1977”. Skripsi. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.
  • Cribb, Robert. 2010. Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949. Depok: Masup Jakarta.
  • Kurosawa, Aiko. 2015. Mobilisasi dan Kontrol: Studi tentang Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942-1945. Depok: Komunitas Bambu.
  • Suryana, Asep. 2012. Pasar Minggu Tempo Doeloe Dinamika Sosial Ekonomi Petani Buah 1921-1966. Jakarta: LIPI Press.
  • Suwiryo, Suranti. 1997. “Wanita dan Pekerjaan: Studi Kasus Wanita Pembakul di Pasar   Minggu Jakarta Selatan”. Tesis. Depok: Program Pasca Sarjana Studi Antropologi, FISIP, Universitas Indonesia.