Tidak ada yang menginginkannya, namun pandemi ini memaksakan kenyataan tentang turunnya daya beli masyarakat. Sehingga memicu problem yang mengancam  stabilitas pasar. Banyaknya produsen yang tidak mampu menciptakan keinginan konsumen dan melakukan distribusi kebutuhan pasar akan mengantarkan pada sebuah kondisi yang disebut resesi.

Penurunan daya beli masyarakat ini berpengaruh langsung pada dunia industri di berbagai bidang, seperti transportasi, pariwisata, pergudangan, bahkan makanan dan minuman. Hanya sebagaian dari mereka yang mempu beralih pada digital market yang mampu bertahan.

Problematika industri dan daya beli masyarakat memiliki kaitan yang mengikat. sebagaimana teori ekonomi tentang demand and supply yang menggambarkan atas hubungan-hubungan di pasar, antara calon pembeli dan penjual dari suatu barang dan jasa.

Kondisi ini memicu kontraksi pada Produk Domestik Broto (PDB) yang merupakan indikator ekonomi di Indonesia. Kontraksi tersebut mencapai minus 5,32 persen pada Kuartal II tahun 2020.

Kondisi tersebut diharapkan dapat bangkit sehingga ancaman resesi pada Kuartal III tidak terjadi dan Indonesia mampu melewati masa-masa sulit pada sektor ekonomi. Karena resesi akan terjadi jika dalam 6 bulan berturut-turut terjadi penurunan PDB.

Pasar digital dan saluran pemasaran 

Meskipun belum menyentuh jurang resesi, namun ancaman tersebut sudah berada di depan mata. Sehingga berbagai program stimulus dalam pemulihan ekonomi harus segera terselesaikan baik pada tataran makro maupun mikro.

Pasar digital yang saat ini mulai masuk dalam sendi kehidupan menjadi bagian yang sangat dekat dengan konsumen. Platform digital sebagai pasar baru kini menjelma dalam keseharian masyarakat. Melalui smartphone yang berada pada genggaman menjadikan konsumen mengakses segala kebutuhan hidup pada pasar digital tersebut.

Tanpa disadari, kehadirannya membuka peluang pemasaran baru dalam genggangan digital. Hampir disetiap ruang digital yang ada memiliki akses kesempatan untuk mengisi iklan sebuah produk.

Kondisi ditengah pandemi seperti saat ini akan menciptakan sebuah tantangan baru dalam dunia usaha.  Perusahaan maupun UMKM harus mulai memerankan diri untuk aktif dalam mencari pasar-pasar baru dalam melakukan penjualan sebuah produk.

Kencendrungan konsumen dengan menggunakan teknologi yang begitu pesat, bahkan data mengatakan penggunaan mobile phone connections mencapai 338,2 juta unit per Januari 2020. Ini merupakan ruang yang cukup produktif untuk dimanfaatkan dalam saluran pemasaran.

Saluran pemasaran merupakan sekelompok organisasi yang saling mendukung dan bergantung satu sama lain. Saluran pemasaran memiliki keterlibatan dalam pembuatan produk jasa untuk digunakan dan dikonsumsi, serta sebagai media penjualan produk dan jasa pada pengguna akhir.

Sebagai suatu strategi dalam pemasaran sebuah barang maupun jasa, saluran pemasaran memiliki peranan untuk menjalankan fungsi produksi, distribusi dan konsumsi.

System saluran pemasaran berkembang sesuai dengan fungsi peluang dan kondisi local, ancaman dan peluang yang muncul, sumber daya dan kapabilitas perusahaan, serta factor lainnya.

Dengan memanfaatkan pemasaran digital maka persoalan promosi yang terhambat ditengah pandemi akan semakin relevan dan dapat terselesaiakan dengan baik. Selain terpenuhinya kebutuhan pelayanan, hal ini akan membentuk suatu pasar.

Memahami kebutuhan manusia

Kebutuhan atau hajat merupakan keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu yang diperlukan, dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup dan menjalankan fungsinya.

Manusia membutuhkan makanan dan minuman untuk dapat mencegah kelaparan dan mempertahankan kelangsungan hidup. Sedangkan kebutuhan akan sandang dan papan untuk dapat melindungi diri.

Sebagai produsen, harus memahami bahwa dari setiap kebutuhan memiliki proporsi dan diletakkan atas tujuan utama diciptakannya nafsu. Pada tahapan ini mungkin tidak bisa dibedakan akan keinginan (Syahwat) dan kebutuhan (hajat), serta terjadi persamaan umum antara homo economicus dan homo Islamicus.

Dari sini maka terdapat perbedaan mendasar antara filosofi yang mendasari teori permintaan islam dan konvensional. Dalam Islam ada sebuah kaitan kegiatan memenuhi kebutuhan dengan tujuan utama manusia diciptakan.

Apabila manusia lupa pada tujuan penciptaannya, maka esensi sebagai manusia pada saat itu tidak jauh berbeda dengan binatang yang hanya berorientasi akan kebutuhan makan dan seksual.

Manusia memiliki tahapan dalam pemenuhan kebutuhan hidup secara kualitas. Hal ini didasarkan pada teori Maslow, kebutuhan hidup berawal dari pemenuhan akan kebutuhan hidup yang bersifat dasar (basic needs). 

Selanjutnya mengarah kepada pemenuhan kebutuhan hidup yang lebih tinggi kualitasnya seperti kenyamanan dan aktualisasi. Meskipun teori Maslow ini dinilai menggunakan pola pikir konvensional yang menggunakan pendekatan individual dan material.

Dalam Islam, kebutuhan lebih didefinisikan sebagai keperluan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara itu, keinginan didefinisikan sebagai kemauan manusia terhadap segala hal. Artinya ruang lingkup keinginan lebih luas dengan definisi kebutuhan.

Konsep kebutuhan dasar dalam Islam bersifat statis, sehingga kebutuhan dasar manusia sangat dinamis dan merujuk pada tingkat ekonomi yang ada pada masyarakat. Selain itu juga penting akan kemaslahatan menjadi bagian dari perbedaan kebutuhan dan keinginan.

Sehingga pada kontek pasar digital, memahami konsumen bahwa ditengah kondisi masyarakat yang memiliki daya beli rendah maka dalam hal menciptakan produk haruslah meletakkan pada nilai dasar penciptaan manusia. Tanpa mengabaikan nilai prinsip dasar pemasaran dan kebutuhan manusia.