Kata banyak orang yang memiliki pasangan dalam dunia mereka, saling berkomunikasi adalah kunci dari bertahan atau tidaknya suatu hubungan. Dengan komunikasi membuat hari yang tadinya suram terasa mendebarkan, hari yang tadinya datar berubah menjadi bergelombang mengasyikkan.

   Apakah hanya aku yang tidak ingin berkomunikasi dengan pasangan? Apakah hanya aku yang tidak ingin mendengar pasanganku berbicara menceritakan tentang dirinya? Apakah hanya aku yang tidak ingin mengetahui seberapa besar rasa cintanya?

    Namaku rindu, seorang gadis tunanetra. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana gemerlapnya dunia dan seisinya. Bagaimana seluruh musim bergantian menjaga bumi dan juga warganya. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana seluruh manusia tersenyum saat bersama kebahagiaan, dan menutup mata menangis karena kesedihan, tapi aku buta terhadap jagad diriku sendiri.

   Pasanganku bernama kematian. Kemanapun kaki melangkah ia selalu mengawal. Hingga kakiku melangkah ketempat terpencil pun, langkahnya tak pernah jera mengikuti kakiku. Aku pernah bertanya padanya dengan geram “wahai kematian? Apakah kau tak pernah bosan mengikutiku?”

   Ia menjawab dengan wibawa yang tak pernah kutemui dalam diri pria manapun, “bagaimana bisa aku lelah dan bosan mengikutimu wahai rindu? Jika kehadiranku di jagad semesta adalah sebagai teman sejati sekaligus pengingatmu setelah kitab sucimu. Dan bagaimana aku bisa tega meninggalkanmu jika kau pun adakah gadis buta, yang tak bisa melihat dirinya sendiri”

     Jawaban yang tak pernah berubah sedari aku berusia belasan tahun hingga saat ini.

    Aku termenung dalam kesendirian. Bersama kesunyian aku menari dan bercengkrama, aku tak perlu sibuk melucuti gawai dari whatsaap hingga instagram, tak perlu menunggu pesan, telepon, ataupun lainnya. Pasanganku sudah setia bersamaku setiap saat tanpa kuminta.

   Terkadang, ia amat jauh hingga aku merasa bisa bernafas dengan merdeka. Namun, sungguh tak selang dari dua kecepatan kilatan kaki, ia kembali hadir.

“Aku ingin sendiri, aku ingin bersama teman-temanku. Tidak bisakah kau pergi?” tanyaku geram. Selagi ia bersamaku, sedikit pun aku tak pernah bebas menjangkah kesana kemari. Dan aku takut.

     “Aku tidak bisa pergi darimu, sebelum kau benar-benar siap kutinggalkan,” ucapnya. Kulihat dua sejoli saling bercengkrama di taman, tangan si wanita membelai lembut rambut pria yang duduk di pangkuannya. Aku ingin merasa merdeka seperti mereka, batinku.

     “Tidakkah kau melihat, rindu?”  tanya kematian padaku, kujawab dengan nada keputusasaan “Aku melihatnya. Aku ingin seperti mereka.”

    “Bukan itu, bukan sepasang sejoli yang harus kau lihat, rindu,” ucapnya dengan nada yang mengerikan seperti biasa. “Lalu apa?” Aku tak pernah paham bahasa cintanya, setahuku seorang pasangan selalu membicarakan segalanya dengan bahasa cinta, tapi entah dengan pasanganku.

  “Rindu, mereka memiliki pasangan yang sama sepertimu. Yakni aku. Tapi mereka tidak pernah sadar kehadiran pasangan hidup mereka yang sesungguhnya. Kau tahu, beberapa menit lagi, si wanita akan menangis histeris.” Aku termangu.

“Kenapa harus menangis?” Kurasa tidak ada yang perlu ditangisi disana, si wanita tengah bahagia mengelus rambut si pria yang ada di pangkuannya dan sebaliknya si pria tengah dengan manja menggelayutkan tangannya di pipi si wanita, lantas hal apa yang perlu ditangisi sampai histeris oleh wanita itu?

     “Temanku akan tiba sebentar lagi. Langkah dua manusia itu, tengah berada jauh dari batasan yang seharusnya, rindu. Dan aku tidak ingin meskipun kau termasuk manusia yang buta terhadap dirinya sendiri. Aku tidak ingin kau kutinggalkan dalam langkah yang terlampau jauh. Itu kenapa aku selalu mengikutimu. Tak penah jera menakutimu.”

“Apa maksudmu?” Belum selesai rasa ketidakpahamaanku terhadap pasanganku yang rancu, kudengar tangisan yang mencuar dari taman. Aku tak paham siapa, yang jelas ia wanita.

      Aku berlari menujunya, yang juga telah dikerumuni banyak manusia lainnya. Kulihat bentuk bando dan kaos yang ia kenakan, tak kusangka ia wanita yang tadi kulihat. Kulihat tangis yang  membanjiri seluruh kujur tubuhnya, pria yang tadi tangannya kulihat bergelayut manja, sekarang terbujur kaku dalam dekapannya. Kupejamkan mata dan menggelengkan kepala, apakah ini benar? Apakah nyata?

   Tak selang lama mobil putih bertuliskan ambulance datang dengan sirene yang memekikkan telinga, aku menutup telinga dan menjauh. Aku tak pernah suka dengan bunyi sirene, sekalipun itu dalam film-film.

  “Dia menangis bukan?” Hampir saja, aku terjerembap karena kaget mendengar suaranya yang juga memkekikkan seluruh jagad diriku.

  “Dia menangis bukan?” Aku mengangguk dan tertunduk. Baru kali ini aku merasa ia seperti berbeda, ia tidak berwujud momok yang biasanya kutemui kala pagi tiba. ia tidak berwujud ketakutan seperti kala malam telah sampai pada ujungnya.

“Rindu, dengarkan aku. Setiap manusia takut saat bersamaku, takut saat mengingatku, kecuali orang terpilih. Mereka ingin aku lekas pergi bukan karena takut, melainkan ada dunia lain yang akan mengantarkan mereka pada keabadian. Dan melepaskan belenggu diri dari kefanaan dunia.”

“Aku tahu, kau tidak pernah suka saat mengingatku, terlebih matamu sangat tajam saat melihatku, meskipun kau buta terhadap dirimu sendiri. Tapi, ketahuilah rindu. Jika dengan mengingatku itu bisa menjaga langkahmu dari lubang-lubang yang melampaui batas. Maka tetaplah bersamaku, tetaplah mengingatku, meksipun aku sering berwujud ketakutan, dan jarang berwujud kebahagiaan.”

Aku menunduk, air mataku menetes, “Rindu sungguh, aku tidak ingin kau pergi meninggal jasadmu dengan tangan kosong. Aku tidak ingin melihat setiap sendi dari tubuhmu berpamitan dengan sendi yang lain dengan air mata. Sungguh aku tidak ingin itu terjadi. Aku akan membantumu mengenali dirimu sendiri, asal kau mau. Bersediakah?” tanyanya.

Aku mengangguk. Dan mulai saat ini, aku tahu bahwa kematian adalah teman sekaligus pasangan terbaik bagi setiap jiwa.