Setiap jiwa tidak akan bisa hidup seorang diri, ia pasti memerlukan jiwa yang lain atau pasangan hidup. Jiwa akan merasa kosong dan hampa tanpa ada pasangan hidup. Sesungguhnya setiap jiwa diciptakan berpasang-pasangan, sesuai dengan firman Allah:

Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)”. (QS. Adz-Dzariyat: 49).

Pada ayat lain Allah berfirman: “(Allah) menciptakan langit dan bumi. Dia menjadikan kamu berpasang-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak berpasang-pasangan (juga), dijadikan kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan dia. Dan dia maha mendengar, maha melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).

Pasangan hidup seorang wanita adalah pria. Sebaliknya, pasangan hidup seorang pria adalah wanita. Sudah menjadi fitrah dan naluri manusia untuk hidup berdampingan, membutuhkan dan  melengkapi satu sama lain. Manusia tidak bisa hidup sendiri sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Quran tentang Nabi Adam a.s. yang hidup seorang diri.

Kemudian Allah SWT berfirman: "Hai manusia, bertakwalah kepada tuhanmu yang menciptakan kamu dari seorang diri, dan darinya (tulang rusuknya) Allah menciptakan istrinya”. (QS. An-Nisa: 1).

Pada mulanya Allah SWT menciptakan Nabi Adam seorang diri. Lalu Allah menciptakan pasangannya dari tulang rusuknya (yakni Siti Hawa). Ketika itu Nabi Adam a.s. sedang tertidur kemudian Allah menciptakan Siti Hawa dari tulang rusuknya sebelah kiri bagian belakang. Pada saat Nabi Adam a.s. terbangun, ia merasa kaget ketika melihat seorang wanita berada di dekatnya kerena tidak ada penduduk surga dari jenisnya yang ada di surga selain dirinya.

Setelah itu rasa cinta di antara keduanya mulai tumbuh dan bersemi di dalam hati mereka. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad Ibnu Muqatil, telah menceritakan kepada kami Waki, dari Abu Hilal. Dari Qatadah, dari Ibnu Abbas mengatakan,

“Wanita diciptakan dari laki-laki, maka keinginan Wanita dijadikan terhadap laki-laki; dan laki-laki itu dijadikan dari tanah, maka keinginannya dijadikan terhadap tanah, maka pingitlah wanita-wanita kalian.” Dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah saw bersabda:
“Wanita diciptakan dari tulang rusuk. Kamu tidak akan meluruskannya dengan cara apapun. Nikmatilah dia, tapi ada sifat bengkok padanya. Jika kamu memutuskan untuk meluruskannya berarti kamu mematahkannya. Mematahkannya berarti menceraikannya”.

Wanita adalah belahan jiwa laki-laki, belahan jiwa yang lebih kecil darinya. Bagian yang lebih kecil ini tentunya akan senantiasa meminta perlindungan dari bagian asalnya.

Demikian juga jiwa induknya, yang akan senantiasa mencari belahan jiwanya untuk bersatu dan dilindungi. Inilah sebabnya, pria selalu mendambakan dan mencari wanita untuk menjadi pendamping hidupnya. Sebaliknya, wanita juga selalu mendambakan dan mencari pria untuk menjadi pendamping hidupnya.

Keduanya akan selalu berusaha untuk saling menemukan dan bersatu. Keduanya akan selalu saling mencintai dan merindukan satu sama lain. Jika seorang manusia belum memiliki pasangan jiwanya, maka jiwanya akan senantiasa merasa kurang, tidak nyaman, dan merana. Meski demikian, kebutuhan seorang pria akan lebih besar terhadap wanita, karena pria kehilangan salah satu bagian jiwanya, yang harus ia miliki kembali.

Sedangkan wanita dapat berdiri sendiri, namun akan kehilangan arah hidupnya tanpa dipimpin dan dibimbing oleh seorang pria yang merupakan pokok hidupnya.Bagaimana dengan pria yang memiliki banyak wanita (istri)? Pria yang memiliki banyak wanita (Istri) ia tidak akan mampu adil dalam masalah cinta, karena cinta tak pernah adil.

Sebagaimana dalam firman Allah swt, “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istrimu, walupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sungguh, Allah maha pengampun lagi maha penyayang” (QS. An-Nisa: 129).

Kita tidak akan bisa berlaku adil dalam problematika cinta, karena tidak pernah ada keadilan pada cinta manusia. Bahkan pada Rasulullah saw sekali pun, beliau tidak bisa adil terhadap istri-istrinya dalam masalah cinta. Dinyatakan dalam sebuah hadis sahih dari Hammad bin Salamah dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Abdullah bin Yazid dari Aisyah ra, ia berkata,

“Rasulullah saw telah membagi-bagi jatah di antara istri-istrinya. Beliau telah berusaha berbuat adil. Lalu beliau bersabda, “Ya Allah, hanya sejauh inilah tindakan yang aku mampu. Janganlah engkau mencelaku pada hal-hal yang engkau mampu namun aku tidak mampu.” (HR, Abu Dawud, Tirmizy, Nasai, Ibn Majah, dan Ahmad). Rasulullah saw hanya mampu bertindak adil dalam hal nafkah saja, dengan membagi rata di antara istri-istrinya.

Sedangkan menyamaratakan cinta di antara mereka beliau tidak mampu melakukannya. Abu Qays pembantu Amr bin Ash berkata: “Amr bin Ash pernah mengutusku menemui Ummu Salamah. Ia berkata, “Tanyakan kepada Ummu Salamah; apakah Rasulullah saw pernah mencium istrinya ketika sedang berpuasa?

Jika ia menjawab, Tidak, maka katakan kepadanya; bahwa Aisyah pernah mengisahkan bahwa Rasulullah saw pernah menciumnya ketika beliau sedang berpuasa. Lalu ia pergi dan bertanya kepada Ummu Salamah. Lalu ia menjawab, Tidak, kemudian Abu Qays memberitahukan peristiwa yang diberitahukan oleh Amr bin Ash.

Lalu Ummu Salamah berkata: “Rasulullah saw jika melihat Aisyah tidak pernah mampu menahan diri terhadapnya. Namun tidak demikian terhadapku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjelaskan bahwa problematika cinta tidak bisa adil bahkan seorang Rasul Allah sekalipun tidak mampu berlaku adil dalam masalah cinta.

Cinta pada wanita berbeda dengan cinta pada pria. Cinta pada kaum wanita kebanyakan tidak rasional. Sedangkan cinta pada kaum pria memiliki syarat-syarat dan perhitungan rasional. Mengapa demikian? Karena wanita memiliki rahim di dalam dirinya. Rahim berarti kasih sayang.

Rasulullah saw bersabda, “Dari Allah Azza wa Jall (hadis qudsi): “Aku adalah Allah, dan Aku adalah ar-Rahman (sang maha penyayang). Aku menciptakan rahim. Aku membelah untuknya sebuah nama yang berasal dari nama-Ku. Maka siapa yang menyambungnya, aku akan berhubungan dengannya. Tapi siapa yang memutuskannya, maka aku juga akan putus dengannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmizi).

Maka dari pada itu cari lah pasangan yang memang benar-benar membuat dirimu dan diri pasanganmu menjadi sama-sama nyaman, karena kekuatan kenyamanan akan mengokohkan hubungan antar satu sama lain.