Meski bukan bintang, ia bersinar sangat cemerlang. Ia adalah Quasar, obyek luar angkasa mirip bintang yang memiliki cahaya paling terang di alam semesta. Ia  memancarkan gelombang radioaktif, yang pada suatu waktu, getarannya bahkan pernah menyapa Bumi, berderak mengisi kehidupan.

Malam itu, seorang anak perempuan berusia sebelas tahun bersinar bagai Quasar. Dia berdiri dan menari dengan gemulai di atas kendi. Putaran demi putaran kendi yang seirama dengan putaran payung yang dibawanya, bagai Bumi yang sedang berotasi pada porosnya sekaligus seperti Bumi berevolusi mengitari Matahari. Merobek keheningan malam yang dingin di antara kabut gunung. 

Di hadapan tujuh tamu dari mancanegara, ia begitu bersinar dengan kostum yang dikenakannya. Dodot prodo emas warna hijau membuatnya semakin tampak istimewa saat menarikan tariannya itu. Kegelapan seolah tak bisa menyentuhnya. Kekuatan maha dahsyat dari lubang hitam yang sangat besar pun rasanya tak akan sanggup mengisapnya. 

Dengan konsep menari untuk Tuhan, malam itu ia menarikan Tari Bondan dengan gemulai di hadapan Tuhan bersama alam semesta. Ia pun bercahaya sangat cemerlang, meskipun ia bukanlah bintang. 

Sejatinya, Tari Bondan atau Beksan Bondhan memanglah simbol dari tarian alam yang keindahannya tak lekang oleh waktu. Seperti arti dari kata bondan itu sendiri yang dalam bahasa Jawa bermakna abadi dan juga hamba yang merupakan simbol dari manusia. 

Bondan sendiri menurut asal usul katanya adalah dari bahasa Sansekerta yakni bondhan yang berarti menari dan juga merupakan simbol keindahan dalam menjalani hidup. 

Tari Bondan memang senantiasa berkaitan erat dengan simbol kehidupan, karena ia adalah simbol dari hubungan yang selaras, serasi dan seimbang antara manusia, Alam dan Sang Pencipta.

Properti yang dibawa dalam gerak gemulai tarian ini, masing-masing memiliki makna yang sangat dalam. Tarian ini memang mengandung nilai artistik yang memikat dan nilai luhur yang sangat tinggi karena pesan yang dibawanya. 

Sebagai tarian alam, payung terbuka yang dibawa sang penari dapat dimaknai sebagai simbol dari langit dan kendi yang diinjak dapat pula dimaknai sebagai simbol dari Bumi. Sedangkan sang penari dan seluruh gerakan tariannya adalah simbol dari kehidupan yang mengisi ruang dan waktu.

Sekilas tentang Tari Bondan

Selain pemaknaan dari perspektif subyektif di atas, Tari Bondan yang mengisahkan tentang kasih sayang seorang ibu kepada anaknya ini juga merepresentasikan tentang wanita Jawa yang lemah lembut namun kuat, tak sekedar berparas ayu tapi juga memiliki jiwa keibuan, bagaikan Ibu Pertiwi yang senantiasa memelihara dan menyediakan keperluan hidup bagi seluruh makhluk tanpa terkecuali dengan ikhlas tanpa pamrih.

Payung terbuka dalam tarian ini adalah simbol perlindungan dari seorang ibu terhadap anak dan keluarganya. Sedangkan menggendong anak merupakan lambang bahwa tugas utama dari perempuan Jawa itu adalah merawat dan mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang dengan mengarahkan anaknya untuk dapat menjadi manusia Jawa yang bisa memayu hayuning bawana. 

Dan kendi adalah simbol dari urusan dapur atau urusan rumah tangga, tugas mulia yang juga diemban oleh seorang perempuan Jawa. Kendi sendiri menurut asal usul katanya atau kerata basa dalam bahasa Jawa adalah kendhi yang berasal dari istilah kendhalining budi yang berarti kendali atas hati dan pikiran. Kendi sendiri adalah tempat air minum dari tanah liat yang merepresentasikan tanah (Bumi) yang dapat pula difungsikan sebagai pancuran untuk membersihkan badan (menyucikan).

Dan karena air yang dimasukkan ke dalam kendi adalah air bersih, maka keluarnya pun tentu juga bersih dan suci, bisa melepaskan dahaga dan menyucikan. Demikian pula dengan manusia, bila apa yang didengar dan dipelajari adalah hal baik dan benar, maka apa yang diucapkan dan dilakukannya pun tentu adalah sesuatu yang baik dan benar pula.

Sesuai dengan pesan luhur dari kendi (properti dalam tarian ini), maka sepatut dan sepantasnya perempuan Jawa itu memang diharapkan dapat mengendalikan hati dan pikirannya dalam mengurus rumah tangganya, membawa kebaikan dan kebenaran seperti pesan air dalam kendi, hingga dapat memberikan kebahagiaan untuk seluruh keluarganya, dengan senantiasa melibatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa.

Kerata basa yang berarti singkatan dari satu kalimat, juga dikenal dengan istilah Jarwa Dhosok. Jarwa berarti penjabaran atau keterangan yang disingkat (dhosok/dhesek). Kreativitas orang Jawa dalam othak-athik gathuk (menghubungkan sesuatu agar cocok) memang telah diakui sejak dulu, apalagi dalam merangkai kata hingga menjadi makna yang lebih filosofis.

Dengan kostum dodot prodo emas bahu terbuka yang melambangkan penghormatan terhadap tempat suci (paseban agung), malam itu nuansa warna emas dan hijau yang misterius seolah meminjamkan sayapnya pada jiwa sang penari dan membiarkannya terbang bebas, menyatu ke dalam tariannya yang indah. 

Sang penari tampak menikmati tariannya malam itu. Ia menari dengan gemulai di atas kendi, menyibak sampur dan mengayunkan tubuhnya dengan anggun berpadu dengan tatapan matanya yang misterius. Ia seolah lupa sedang berada di atas kendi, membuat yang menyaksikan tarian ini harus pasrah dan percaya dengan kemampuan sang penari dalam menjaga keseimbangan tubuhnya di atas kendi.

Tak hanya gemulai dalam menari, mengayunkan badan dengan anggun dan menyibakkan sampur, masih di atas kendi, sang penari pun juga memutar kendi yang dinaikinya searah dengan jarum jam ke delapan arah mata angin bersamaan dengan memutar payung yang dibawanya. 

Partikel Tuhan 

Di ujung malam itu, sang penari seolah menjadi pusat dari alam semesta. Berputar dan berinteraksi dengan zat tak terlihat yang mengisi ruang, hingga dapat menghadirkan eksitasi atau cipratan yang disebut sebagai Partikel Tuhan, memberikan massa pada gerak gemulainya dan menjadikan tariannya benar-benar hidup, merambatkan gelombang kasih ke seluruh semesta.

Partikel Tuhan adalah partikel antimateri yang sangat susah dicari dan ditemukan seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Ia hanya hadir dalam waktu yang sangat singkat sebelum kemudian berubah menjadi partikel lain. Namun demikian, ia menjadi penentu keberadaan kehidupan di alam semesta. 

Maka sangatlah tepat bila partikel itu memang disebut sebagai partikel Tuhan, suatu eksitasi atau cipratan dari interaksi zat tak terlihat yang mengisi ruang/medan higgs dengan kuark dan elektron hingga dapat memunculkan keberadaan atom, yang memungkinkan kita: manusia, hewan, tumbuhan, bumi, bintang dan juga galaksi menjadi ada. 

Bila kita ini adalah materi, maka antimateri adalah lawan katanya, seperti hitam dan putih. Apabila materi adalah sebuah keberadaan, maka antimateri adalah  ketiadaan. Dan karena nyatanya ketiadaan itu memang ada, maka dalam diri kita yang kita sebut sebagai materi ini, memang terdapat pula antimateri, seperti keberadaan cahaya ilahi dalam setiap diri manusia.

Gendhing Ayak-ayak Ladrang Ginonjing terus mengalun lembut mengiringi sang penari menuntaskan tariannya malam itu. Membangkitkan hasrat kasih yang tak berkesudahan dan menciptakan karsa sarat makna kehidupan saat mengiringi tarian tersebut.

Dan ritual pecah kendi pun kemudian dilaksanakan dengan khidmat usai tarian berakhir. Sang penari menjatuhkan kendi didampingi oleh salah seorang perwakilan dari tujuh tamu mancanegara yang menyaksikan Tari Bondan, salah satu tari Jawa klasik yang memiliki daya pikat luar biasa itu.

Ritual pecah kendi ini sendiri merupakan simbol dari terpecahkannya segala permasalahan. Meskipun pecah kendi dapat pula dimaknai sebagai simbol dari terpecahkannya satu per satu misteri kehidupan, seperti antimateri yang setelah melewati penelitian panjang para ilmuwan, akhirnya keberadaannya pun  dinyatakan ada sebagai sang pemberi massa pada partikel elementer (kuark dan elektron). 

Tanpa adanya massa, partikel elementer ini memang akan terus bergerak dengan kecepatan cahaya tanpa ada yang bisa menghentikannya. Dan kuark pun tidak mungkin membentuk proton dan neutron sehingga inti atom tidak akan ada. Demikian pula dengan elektron, tanpa adanya massa tidak akan mungkin berikatan dengan inti atom sehingga atom tidak mungkin ada.

Jika atom tidak ada, manusia, tumbuhan, hewan, bintang dan galaksi juga tidak ada. Karena itu, massa adalah merupakan pemberian Tuhan yang sangat berharga dalam proses penciptaan alam semesta. Sebagai sang pemberi massa, maka antimateri ini menjadi sangat istimewa hingga disebut sebagai partikel Tuhan.

Maka bersama dengan kehadiran partikel Tuhan, Tari Bondan malam itu benar-benar mendapatkan massanya. Sang penari dapat terus berputar di atas kendhi dengan penuh semangat namun terkendali dan juga nyawiji, fokus dan konsentrasi menyatukan pikiran, hati, jiwa dan raganya ke dalam tarian yang ia persembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa hingga tarian tersebut benar-benar memiliki ruh dan menjadi pusat dari semesta. Menembus ruang dan waktu. Memecahkan satu per satu misteri kehidupan. Seiring dengan pecahnya kendi, ketika ia menjatuhkan dan mengembalikannya pada pangkuan Pertiwi.