Guru
2 tahun lalu · 189 view · 4 menit baca · Politik parpol.jpg
Foto: news.okezone.com

Partai Politik yang Dirindukan

Mendengar sebutan “partai politik” tidak sedikit diantara kita khususnya generasi muda yang langsung menginterpretasikan secara negatif. Anggapan ini ini tentunya sangatlah wajar dan cukup beralasan. Betapa tidaknya dalam pemberitaan media massa sehari-hari begitu banyak kasus-kasus perbuatan melawan hukum yang turut menyeret oknum kader partai politik yang pada akhirnya juga berimbas pada eksistensi partai politik itu sendiri. 

Tidak cukup sampai di sini, sandiwara elit politik dalam memainkan peran sebagai dalang dalam setiap kompetisi lima tahunan juga membuat sebagian masyarakat muak dan lagi-lagi memberi stigma negatif terkait keberadaan partai politik itu sendiri.

Bahkan tindakan pragmatis Partai politik akhir-akhir ini cukup mencengangkan masyarakat, yang mengisyaratkan bahwa telah terjadi  inkonsistensi dari dan oleh partai politik itu sendiri dalam menunjukkan jati diri sebagaimana mestinya.

Inkonsistensi dimaksud adalah terlalu cengengnya partai politik, sehingga tidak berani untuk terus berdiri tegak sebagai opoisi yang sesungguhnya di luar lingkar kekuasaan. Sebaliknya mereka berbondong-bondong untuk memutar arah berlindung di bawah ketiak rezim penguasa. Akibatnya janji-janji untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dengan sendirinya telah terbantahkan akibat ulah partai politik itu sendiri.

Sampai di sini tentunya kita semua dapat menilai secara objektif, siapa sebenarnya yang salah sehingga mengakibatkan krisis legitimasi terhadap partai politik kian menjadi salah satu hal yang teramat sangat mengkhawatirkan terhadap keberadaan partai politik itu sendiri, dan pada akhirnya akan berimplikasi terhadap kesempurnaan iklim demokrasi yang terus berjalan ini.

Masyarakat khususnya para pemuda mulai alergi dan enggan untuk menoleh apalagi berharap pada partai politik, justru mereka lebih cenderung memilih apatis dan sebagian kecil lebih memilih untuk berjuang di bawah bendera organisasi kemasyarakatan. Mereka disambut hangat dan diberikan ruang yang nyaman untuk menyuarakan kebenaran. Akibatnya semakin minim pemuda yang peduli pada partai politik yang tentunya juga berpengaruh terhadap keberlangsungan demokratisasi itu sendiri.

Pertanyaannya, apakah kondisi seperti ini akan terus dibiarkan sampai pada akhirnya partai politik akan terus terpuruk di jurang kebinasaan. Jawabannya tentu tidak, karena bagaimanapun masyarakat khususnya pemuda memandang partai politik, agen-agen sosialisasi pendidikan politik dituntut untuk memainkan perannya secara maksimal dalam rangka untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa kehadiran partai politik adalah suatu kebutuhan dalam kehidupan negara demokrasi terlebih di era modern seperti saat sekarang ini.

Sudah saatnya partai politik sebagai salah satu agen sosialisasi pendidikan politik secara langsung harus segera sadar dan mengevaluasi akan permasalahan ini. Sederhananya ada dua langkah kongkrit yang kiranya patut di cermati Partai politik saat ini.

Pertama, partai politik harus berani meninggalkan doktrin usang yang sudah tidak relevan dengan perkembangan demokrasi di negeri ini, kemudian secara sadar harus mampu mewujudkan paradigma baru dalam merebut hati masyarakat khususnya para pemuda, tanpa harus menghilangkan esensi dari visi misi yang telah dicita-citakan.

Pada  langkah pertama ini partai politik harus mengevaluasi sistem kaderisasi yang selama ini hanya mengedepankan pada sosok yang ber-uang dan memiliki popularitas saja tanpa mempertimbangkan kualitas. Akibatnya sistem seperti ini hanya melahirkan sebuah kompetisi materil dan popularitas saja di setiap perhelatan pesta demokrasi.

Sialnya, Out put dari kompetisi ini tidak lebih hanya sebatas melahirkan politisi “gampangan” yang kemudian selalu berujung pada perbuatan melawan hukum yang tentunya berimbas pada menurunnya legitimasi masyarakat terhadap perangkat politik.

Sementara mereka yang memiliki kualitas samasekali tidak memiliki kesempatan untuk tampil beradu karya dan gagasan dalam mewujudkan arah cita-cita pembangunan yang sesungguhnya. Ini adalah kesalahan besar yang harus segera diperbaiki, karena telah mengabaikan kompetisi sehat yang seharusnya terjadi.

Untuk itu, pemuda sebagai aset bangsa dengan semangat juang yang tinggi dan tidak diragukan lagi harus berani dipikat untuk tampil menjadi bagian dalam mewujudkan perubahan itu sendiri. Berikan ruang yang nyaman kepada pemuda untuk terus berkarya tanpa mengharuskan mereka meninggalkan idealisme yang teramat sangat mahal harganya.

Sedangkan langkah kedua yaitu partai politik harus benar-benar menjadi sebuah wadah perjuangan yang selalu ada dan dekat dengan masyarakat. Artinya partai politik harus hadir layaknya sebuah komunitas yang selalu peduli dan benar-benar siap dalam membantu masyarakat setiap saat.

Segera eliminasi paradigma untuk mendekatkan diri dengan masyarakat yang hanya dilakukan secara musiman. Ini terlalu murahan dan sangat mudah ditebak bahwa kehadiran partai politik hanya sebatas kepentingan sesaat terutama saat ingin mendulang suara dalam pesta lima tahunan.

Kehadiran partai politik ditengah-tengah masyarakat layaknya sebuah komunitas tentunya tidak cukup hanya sebatas melakukan aksi-aksi solidaritas semata yang hanya berorientasi untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat, akan tetapi harus menyertakan misi untuk memberikan pendidikan politik secara objektif kepada masyarakat. Tindakan ini adalah terobosan yang idealnya dilakukan oleh semua partai politik. Sehingga keraguan publik terhadap partai politik akan mudah diluruskan.

Kita sangat mengimpikan dimana negara tidak lagi harus mengahabiskan anggaran hanya untuk melakukan kegiatan sosialisasi pendidikan politik yang pada umumnya hanya sebatas kegiatan ceremonial belaka. Alhasil upaya untuk meluruskan keraguan dan ketidakpercayaan publik terhadap partai politik hanya sebatas impian yang tidak pernah kesampaian.

Hal ini terbukti dengan semakin tingginya angka golput dalam setiap pesta demokrasi  baik secara nasional maupun di daerah. Oleh karena itu, cukup partai politik yang ada secara sadar memainkan peran yang sesungguhnya sebagai agen utama pendidikan politik untuk malakukan hal tersebut ditengah-tengah masyarakat, karena ini jauh lebih efektif.

Suksesi kepemimpinan yang merupakan hasil dari kombinasi antara partisipasi masyarakat dengan keberadaan partai politik harus menjadi tolok ukur untuk menilai tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi politik. Terlepas dari sadar atau tidaknya masyarakat akan urgensi untuk berpartispasi dalam dunia politik, maka partai politik juga harus berani secara jantan mengikrarkan diri sebagai pihak yang paling bertanggungjawab untuk meluruskan keraguan publik terhadap perpolitikan yang selalu terkesan memuakkan.

#LombaEsaiPolitik