Mahasiswa
3 bulan lalu · 105 view · 3 menit baca · Politik 11606_11956.jpg
www.tribunnews.com

Partai Politik, Generasi Muda, dan Pesta Demokrasi Kita

Pesta demokrasi siap digelar tahun 2019 mendatang. Mulai dari pilpres hingga pemilihan wakil rakyat siap digelar dalam pemilu secara bersamaan. 

Partai politik sebagai kendaraan politik memiliki peranan yang sangat signifikan dalam perhelatan pesta demokrasi. Di lain sisi, pemilu menjadi indikator utama untuk mengukur kedemokratisan suatu negara.

Pemilu di Indonesia terus mengalami perubahan dan perbaikan dari tahun ke tahun. Era reformasi adalah tonggak bersejarah bagi perubahan tersebut. Dalam mengkaji perubahan pemilu, yang perlu diingat dan diperhatikan ialah perjalanan kontribusi partai politik pasca reformasi sampai sekarang. Apakah terus berubah ke arah yang lebih baik atau justru sebaliknya.

Yoyoh Rohaniah dalam bukunya Sistem Politik Indonesia: "Menjelajah Teori dan Praktek" mengatakan bahwa peran strategis parpol dalam kajian ilmu politik terletak pada statusnya sebagai infrastruktur politik yaitu struktur politik non negara yang tidak memiliki pengaruh langsung pada pembuatan keputusan langsung pada pembuatan politik negara, namun pengaruhnya terletak pada empat fungsi infrastruktur politik yaitu: 1) pendidikan politik rakyat. 2) artikulasi kepentingan masyarakat. 3) agregasi kepentingan masyarakat dan 4) rekrutmen pemimpin masyarakat. 

Pada fungsi terakhir, parpol sangat berpengaruh menentukan suprastruktur politik yakni pengisian lembaga negara dalam hal ini eksekutif maupun lembaga legislatif. 

Sedangkan Dwight King menyatakan bahwa peran parpol terbagi atas tiga yakni: 1) Memberikan jembatan institusional antara warga negara dan pemerintah. 2) menggodok dan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang ditawarkan kepada rakyat pemilih untuk dilaksanakan oleh pemerintah hasil pemilu. 3) jalur bagi proses kaderisasi dan seleksi politisi untuk mengisi jabatan publik.

Untuk mengukur peran parpol, kita dapat merujuk pada beberapa hasil penelitian independen. Menurut survei ahli LIPI yang dilangsungkan di 11 provinsi di Indonesia seperti dikutip pada harian Kompas.com pada 7 Agustus 2018 menyatakan partai politik dan DPR menempati peringkat terendah dalam tingkat kepuasan publik.

Berdasarkan hasil penilaian terhadap kinerja kedua lembaga ini (Parpol dan DPR) tercatat sebesar 13.10  persen dan 23.45 persen. Dari data hasil penelitian ini jelas diungkapkan bahwa peran partai politik belum berjalan secara optimal di tengah-tengah masyarakat. 

Penyebab disfungsi peran parpol pasca reformasi menurut Ufen dalam jurnal Rully Chairul Saleh: "Partai Politik Ditengah Ancaman Virus Oligarki dan Politik Kartel" adalah karena adanya proses Philpinalisasi dalam sistem kepartaian di Indonesia pasca reformasi. Hal ini dibuktikan dengan: 1) platform partai lemah. 2) Frekuensi pindah partai tinggi. 3) koalisi dibangun dalam jangka waktu pendek. 3) faksionalisme di tubuh partai 4) absennya apparatus di luar waktu pemilu. 5) rendahnya keanggotaan. 6) para politisi aktif bekerja sama dalam rent seeking dalam sebuah kartel. 

Parpol dianggap gagal memberikan edukasi serta melakukan peranannya sebagai infrastruktur politik, serta gagal menopang perwujudan demokrasi sehat di Indonesia.

Di sisi lain, peran generasi muda dalam menyikapi rendahnya peran partai politik menjadi teramat penting, mengingat bonus demografi yang akan dimiliki oleh Indonesia pada tahun-tahun mendatang, sekaligus sebagai bukti kontribusi generasi muda bagi bumi pertiwi.

Menurut penulis, alternatif yang dapat dilakukan oleh generasi muda dalam mewujudkan demokrasi yang matang dan sehat di Indonesia di antaranya adalah: pertama, mengaktualisasikan nilai-x demokrasi dengan ikut berpartisipasi aktif dalam pemilu. Partisipasi tidak hanya dalam pemberian suara saja, namun ikut dalam keseluruhan proses pemilu, mulai dari menghadiri diskusi publik, hingga ikut menghadiri kampanye guna menilai visi misi masing-masing calon.

Hal ini perlu dilakukan mengingat masih rendahnya partisipasi generasi muda dalam pemilu. Hal ini dibuktikan dengan penilitian yang dilakukan Rezeki Saputra dalam jurnal "Partisipasi Politik Pemilih Pemula di Kecamatanan Mandau".

Hasil penelitiannya menunjukkan absennya partisipasi pemilih pemula di Mandau dipicu oleh ketidakmampuan pemilih pemula dalam membaca visi misi masing-masing calon, serta faktor kemalasan yang menghinggapi generasi muda pada daerah tersebut. Tentu hasil ini menjadi sinyalemen buruk bagi generasi muda. 

Filosofi pemilu adalah perwujudan kedaulatan rakyat. Rakyatlah yang menentukan agar pemimpin buruk tidak dapat terpilih atau kalau dalam frasa positifnya setidaknya memilih pemimpin yang paling baik di antara yang baik. Istilah one man one vote bukan hanya sekadar istilah, ia mempunyai makna yang dalam bagi demokrasi.

Upaya kedua memanfaatkan media sosial sebagai sarana pendidikan publik. Menurut data yang dilansir dari okezone.com dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh We are Social dan Hootsuite setidaknya per 13 Maret 2018 berita ini dikeluarkan ada 130 juta rakyat Indonesia menggunakan media sosial baik itu instagram, facebook dan lain-lain. 

Dalam laporan ini, pada Januari 2018, total masyarakat Indonesia sejumlah 265,4 juta penduduk, sedangkan penetrasi penggunaan internet mencapai 132, 7 juta penduduk. Berarti sekiranya 48 persen penduduk Indonesia sudah menggunakan internet.

Hasil ini menjadikan media sosial sebagai lahan yang bagus bagi generasi muda dalam hal pengejewantahan kontribusi dalam perpolitikan. Misalnya memberikan edukasi tentang pentingnya pemilu melalui gerakan nyata semisal penyelenggaraan diskusi online dengan tema pemilu sehat dan sejenisnya. Upaya ini perlu dilakukan guna mendorong masyarakat untuk beralih dari pemilih yang belum rasional menjadi pemilih rasional dengan penggerak utamanya adalah generasi muda kita.