2 tahun lalu · 195 view · 4 menit baca · Politik 14125065_1081076292011842_2762555090705416543_o.jpg
Foto: Alwin Bangga

Partai Politik dan Peran Kaum Muda

Sejauh ini Partai masih sangat di butuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena itu Partai pun menjadi sangat dominan dalam mengatur kepentingan-kepentingan Publik. Apa lagi negara yang menganut sistem Demokrasi keberadaan sebuah Partai menjadi keharusan.

Pasca runtuhnya rezim Orba pada 1998, di tandai Reformsi menjadi era baru kehidupan berbangsa dan bernegara tatkala keran demokrasi di buka seluas-luasnya, elemen penting demokrasi yang paling di untungkan adalah partai politik, negara seperti Indonesia yang menaganut sistem tersebut, menjamurnya Partai tidak mungkin terhindari.

Sebagai pilar demokrasi partai memang di beri ruang dan keluasan hingga di legitimasi secara konstitusi, Partai pun masih di anggap  instrumen efektif dalam memperjuangkan kepentingan Politik Publik. Secara tidak langsung kebutuhan atas Partai menjadi mutlak.

Namun ada fakta yang kontras tatkala banyak Partai dengan elit-elitnya tersandung Pidana Korupsi dan terjadi merata Pusat sampai daerah. Tingginya angka Prilaku Koruptif di tubuh Partai, masih kah Partai mendapat tempat di hati Rakyat.?

Di lain pihak Partai hanya berisi elit-elit tua yang tidak lagi produktif dan kreatif dalam mengelola Partai, Partai akhirnya terlihat kering dan gersang tanpa ide dan gagasan progresif. Imajinasi Politik kaku dan sempit membuat Partai hanyalah wadah Politik merebut kuasa tak ubahnya Monster ganas melahap mangsanya.

Selain itu Partai menjadi ruang terciptanya oligarki baru dan konglomerasi bisnis pun mulai di bangun, membuat dinamika Partai berjalan tidak sehat karena keputusan strategis apapun yang di buat makin tidak jelas ujungnya akan kemana. Orentasinya melulu kekuasaan yang hanya berputar pada kelompok itu-itu saja.    

Partai kemudian di sesaki dengan cara kerja pragmatis dan transaksional, selain itu hanya berkutat pada kalkulasi angka. jumlah perolehan suara, dan kursi. kemudian Partai sebagai mensin politik perubahan menjadi hilang ruh perjuangan strategis berdasarkan Idiologi, cita-cita besar, dan program tematik jangka panjang.

Fakata di atas kemudain menjadi tidak menarik melihat Partai, hingar bingar Politik yang jauh dari nilai-nilai demokratis. Publik pun akhirnya dibuat jenuh dengan Politik gaduh tanpa moral, setuasi seperti ini cara paling rasional yang di ambil adalah apatis dan ujungnya menjadi golput adalah pilihan.

Kaum muda dan gerak Politik Alternatif

Kehadiran kaum muda dalam pentas Politik baik Nasional maupun lokal sudah seharusnya, keterlibatan aktif dalam politik menjadi momentum sekaligus gerak politik alternatif, sejauh bila di perhatikan kaum muda sebagai lokomotif perubahan, aset bangsa dan penerus peradaban.  tidak di lihat sebagai potensi, apa lagi direkrut sebagai pelapis untuk di siapkan menjadi calon pemimpin masa depan.

Terabainya potensi kaum muda dan ditutupnya ruang politik, menjadi hal paling menjemukan. Ini sering di lakukan oleh Partai-Partai besar dan mapan, dengan yang berisi elit tua yang hanya bisa menjaga kenikmatan sesama mereka (Honocoroko). kaum muda belum bisa di hitung sebagai penerus potensial yang sudah selayaknya dirawat.

Itu artinya kaum muda membutuhkan wadah politik di luar maenstrim sebagai gerak Politik alternatif, dan kekuatan baru. kahadiran PSI tentu sedikit membawa angin segar dengan tema-tema perubahan, solidaritas, dan brending mewakili kaum muda, ini menjadi segar terlihat. Walau baru akan mengikuti konstestasi di Pemilu berikut bisa saja menjadi harapan baru kaum muda.

Gerakan politik elektoral yang makin terus menguat menjadi alasan kenapa kehadiran kaum muda dalam memainkan politik  allternatif menjadi keharusan. Sebagai eksperimentasi menghadapi  situasi yang labil dan makin tidak bisa di prediiksikan ujungnya menjadi kehawatiran dan kegelisahan kita sebagai kaum muda.

Gerak politik alternatif sebenarnya satu terobosan dalam memcah kebuntuan Politik gaduh, tanpa moral dan melulu orentasinya kekuasaan, Politik menjadi ruang yang kaku dan tidak mengasikan. Di sisi yang lain menujukkan Jenis politik ini akan senantiasi menjadikan kaum muda sebagai pelangkap bukan inti perubahan.    

Sepertinya kita harus menengok agak kebelakan sebagai refleksi, zaman pergolakan ada anak muda laur biasa, pada tahun 1971 sudah di percayakan sebagai ketua Partai Komunis Indonesia (PKI), dialah Semaun. Dengan umur 14 tahun karena bakat dan kemampuan politik yang mumpuni mampu dengan baik mengelola PKI, dan membesarkannya.

Selain itu ada tokoh besar lain, yang sering di lupakan bangsa ini atas jasa-jasanya, Yah, dia adalah Datuk Ibrahim Tan Malaka. Pendiri Parati MURBA, berperan penting dalam pergolakan Politik dengan umur yang terbilang muda. Dengan kemampuan propagandis  dan mengorganisir buruh menjadi senjata paling mematikan yang di miliki.

Sederhananya saya merindukan sosok-sosok Semaun dan Tan Malaka muda yang terlibat aktif dalam dinamika Politik hari ini. Hingga politik menjadi sesuatu yang mengasikan, akan terlihat hidup dengan keterlibatan sosok muda yang kreatif. Memang tidak bisa lagi di hindari merekrut kaum muda untuk terlibat Politik menjadi keharusan.

Meretas Jalan Merebut Kuasa

Mengapa harus kaum muda? Karena sejarah telah mencatat dengan baik hanyan kaum mudalah yang punya kemampuan melakukan perubahan. Selain itu saya percaya, walau dengan kemampuan masih terbatas, namun imajinasi Politik yang jauh menjadi harapan sekaligus niscaya. Dengan sendirinya akan membuka ruang politik yang lebih kumunikatif. Inovatif, dan progresiif 

Memang kaum muda terbatas pengalaman, namun kemauan dan kayakinan serta imajinasi perubahan, hingga kerja keras. mau secara terus menerus belajar dan memperbaiki kualitas diri. Akan mengalahkan setumpuk pengalaman elit-elit tua, bisa di bayangkan dengan potensi yang di miliki sekarang baik sebagai pemilih potensial maupun calon pemimpin masa depan. Kaum muda memaikan peranan kunci  yang cukup penting.

di era digital ini, hanya kaum muda paling di untungkan. Mereka dengan lihainya memainkan media sosial dengan segala jenis, menjadi keunggulan tersendiri. jikalau mampu mengajak mereka akatif dalam politik. Ruang-ruang politik di buat makin berwarna dan hidup, dengan kreatifitas yang di miliki.

Partisipasi politik kemungkinan besar naik dan cukup signifikan tatkala energi potensial ini di garap dengan serius dan rawat, mereka dengan kesadaran sendirinya menjadi asik, ruang politik di buat menjadi nyaman tanpa beban. Justru menjadi maknit untuk manarik kawan-kawan sebaya mereka agar melibatkan dirinya dalam politik karena itu mengasikan.     

kerja-kerja merawat dan mengorganisir potensi kaum muda dalam menumbuhkan kesadaran politiknya, masih cukup relefan di lakukan dalam mengawal dan membangun konsolidasi kekuatan strategis. mengerakkan solidaritas, hingga mampu menuai empati.  Kalau ini betul terjadi dalam jangka waktu 5-10 kedepan tak ada kata lain kecuali Revolusi.

Perubahan hanyalah mitos belaka, jika politik menutup ruang bagi kaum muda, dan bisa sebaliknya kaum muda yang anti terhadap Politik, namun berharap cita-cita besar perubahan akan terwujud itu hanya akan menjadi Utopis semata..!!!