2 tahun lalu · 283 view · 3 menit baca · Politik kampenye-gombal-okezone.jpg
Ilustrasi: theglobejournal.com

Partai Politik dan Kaum Sofis

Kesan itu selalu nampak bahwa partai politik (kini) tidak lagi melaju di atas rel kebenaran—sebuah spirit yang senantiasa harus melandasi gerak perjuangan partai politik sebagai lembaga Negara.

Memang, kita patut khawatir akan eksistensi partai politik yang kini hanya eksis jadi tunggangan para pembual. Ketika dulu kita harus berharap banyak pada peran lembaga ini sebagai wadah pendidikan sekaligus penyambung lidah rakyat, tetapi kini, dengan gelagat yang ditampilkannya di hadapan publik dari para kader atau aktivisnya, kehati-hatian untuk meletakkan peran mulia di pundaknya tersebut pun harus terus kita jaga.

Kita memang tidak hendak pesimis dengan menyatakan sikap seperti ini. Hanya saja, waspada serta menjaga kehati-hatian adalah bentuk sikap bahwa kita tak mau jatuh pada lubang yang sama untuk kali kedua. Bahwa pesimisme adalah bentuk kewaspadaan kita ketimbang sebagai sebuah ketakutakan semata.

Berlandas pada judul tulisan ini, saya hanya ingin menggambarkan realitas politik di negeri yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, tapi didominasi kuat oleh kaum Sofis dan centeng-centeng pertahanannya. Dan nantinya, dengan penggambaran awal ini, setidaknya ini bisa kita jadikan sebagai satu solusi atau alternatif dalam rangka menghadirkan kembali rupa partai politik sebagai lembaga yang relevan bagi pembangunan bangsa ke depannya.

Dominasi Kaum Sofis

Adalah rahasia umum bahwa istilah “sofis” pertama kali kita kenal ketika membaca pemikiran Socrates melalui paparan Plato. Plato menyebut bahwa gurunya ini tidak hanya tampil untuk memposisikan manusia sebagai objek kajian, yang sebelumnya memang didominasi oleh pencarian hakikat alam semesta dari para filsuf seperti Thales. Tetapi dirinya sekaligus tampil sebagai pengkritik ulung kaum Sofis yang kerap menilai diri sebagai “orang-orang bijak”.

Memang, kaum Sofis adalah mereka-mereka yang ahli dalam debat. Mereka pintar membangun retorika. Mereka lihai memanipulasi pikiran guna menarik simpati dan pengaruh atas nama kebenaran—sayangnya kebenaran sepihak yang tendensius.

Seiring berkembangnya waktu, para arif-bijaksana ini terus-menurus tampil dengan ke-jago-annya bersilat lidah tapi kosong dalam praktik. Seperti ditunjukkan oleh Socrates melalui muridnya Plato, kaum Sofis tak henti merekayasa realitas kebenaran untuk tujuan-tujuan yang bukan demi kepentingan kebenaran itu sendiri. Dengan kata lain, keahlian yang mereka kuasai, diabdikan hanya untuk kepentingan mereka sendiri: menyampaikan kebenaran bukan berlandas pada apa adanya, melainkan pada ada apanya.

Jika kita lihat bagaimana para politikus dalam kubangan partai politik di negeri kita hari ini, tidak sedikit dapat kita temui di mana mereka beretorika bak seorang Sofis yang sejati. Oleh karena kepentingan individu yang melulu mereka bela, tak ayal kiranya jika beragam macam cara direkayasa guna memenuhi tuntutan tersebut. Kebenaran sepihak terus mereka canangkan, dengan tanpa pertimbangan rasional yang objektif. Kalau kata Pram, mereka tidak pernah adil, bahkan sejak dalam pikiran sekali pun.

Sebuah Upaya

Mengingat dominannya praktik kaum Sofis di tubuh partai, meminjam seruan Widji Thukul, hanya ada satu kata untuknya: lawan!

Kiranya patut untuk kita bersama-sama mengumbar perlawanan atas kaum Sofis ini. Sebab partai politik sebagai lembaga negara yang masih relevan jadi wadah pendidikan sekaligus penyambung lidah rakyat, jelas tak sedikit dari kita yang sudi jika lembaga ini hanya meng-ada tanpa tendensi kuat pada kebenaran.

Pertanyaannya, bagaimana kita harus menghadapi ancaman nyata dari kaum Sofis yang tak mampu mengemban tanggung jawab moral dan sosial ini? Salah satu caranya adalah dengan ikut berpartisipasi dalam partai politik.

Sedikit mengkhawatirkan memang ketika penulis menghimbau cara yang demikian ini ke khalayak publik. Ketakutakan itu bukan karena bahwa partai politik adalah ruang para pembual yang mengaku bijak (kaum Sofis). Melainkan bahwa masyarakat kita sendiri (kebanyakan di antaranya) masih mengasumsikan bahwa partai politik identik dengan lumpur-lumpur kotor dalam bahasa yang pernah digumam oleh seorang Soe Hok Gie.

Ya, upaya penyadaran dari dalam penting menjadi keutamaan sebelum beralih ke pelibatan diri pada partai politik. Hanya saja, langkah ini tidak melulu jadi prasyarat belaka.

Adalah bodoh untuk kita menunggu daripada menjemput bola. Dengan kata lain, upanya penyadaran dengan pelibatan diri dalam partai politik bisa kita jalankan secara sinergis. Ini jauh lebih memberi efek ketimbang menunggu terealisasinya satu hal untuk hal-hal lainnya yang mungkin bisa kita selesaikan dalam waktu yang beriringan.

Mampukah? Bukan soal itu. Tapi kemauan dan kesetiaan adalah dua elemen yang harus kita jadikan pedoman atau spirit dalam bergerak.