Politikus Golkar Yorrys Raweyai mengusulkan Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar dipercepat, yakni sebelum Presiden terpilih Joko Widodo menentukan para menteri di kabinet pada Oktober 2019. Pernyataan itu disampaikannya dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Tak hanya itu, dalam wawancara dengan beberapa media, ia juga menyebutkan beberapa nama calon Ketua Umum pengganti Airlangga Hartarto. Yorrys juga mengancam akan menghadang jika Airlangga kembali mencalonkan diri. 

Yorrys pun mendesak Airlangga memilih jabatan Menteri atau Ketua Umum Partai Golkar. Pertanda pecahkah Partai Golkar?

Golkar memang partai yang paling sering berkonflik. Meski demikian, ia tetap menjadi partai besar. Lihatlah bagaimana tokoh-tokoh nasional yang keluar dari partai itu namun tidak mengganggu perolehan suara mereka. Padahal mereka yang keluar sudah memiliki partai sendiri.

Sebut saja Surya Paloh, Wiranto, dan Prabowo yang kini menjadi tokoh sentral di partai masing-masing. Setelah mereka pergi, Partai Golkar masih langganan dengan konflik internal. 

Menariknya, meski didera konflik, namun mereka sukses meraih posisi strategis di dalam pemerintahan. Partai ini memang tidak memiliki DNA oposisi. 

Kalau kita tarik ke belakang, partai ini malah pernah digoyang isu pembubaran. Demo mendesak agar Partai Golkar dibubarkan tidak membuat partai ini berhenti berkarya. Mereka justru sukses melewati 'badai' itu saat dipimpin Akbar Tandjung. 

Desakan mempercepat Munas bukan barang langka di internal partai tersebut. Tanpa konflik internal, bukan Partai Golkar namanya.

Malah saya menilai ucapan Yorrys sebatas mencari sensasi. Barangkali ia mengincar posisi menteri dalam pemerintahan ke depan. Apa pun motif Yorrys, bila dianggap remeh, bukan mustahil perpecahan bakal kembali terjadi. Meski gaungnya hanya sayup bahkan tanpa respons dari petinggi Partai Golkar sendiri.

Secara momentum, desakan percepat munas sudah tepat. Partai Golkar memiliki banyak kader yang dapat dipromosikan, entah itu sebagai calon menteri atau calon Ketua Umum. Dinamika yang selalu terjadi merupakan nilai lebih partai warisan Orba tersebut. Mereka tidak mengultuskan seseorang sebagaimana yang terjadi di partai-partai lain.

Bila kita bandingkan dengan Demokrat, Gerindra, bahkan PDIP, maka Golkar terbilang lebih demokratis. Bukan hanya di tingkat pusat, regenerasi dan kaderisasi di daerah juga berjalan baik. Bukan hanya pemilihan Ketua Umum di pusat, pemilihan pimpinan di daerah juga berjalan penuh dinamika dan demokratis. 

DNA tersebut tidak dimiliki partai lain. Bayangkan Partai Demokrat tanpa SBY, bayangkan Gerindra tanpa Prabowo, maupun PDIP tanpa Megawati. Bisa jadi partai-partai tersebut akan tercatat dalam sejarah pernah menjadi partai besar. Namun eksistensi mereka belum teruji tanpa tokoh-tokoh sentral. Ini berbeda dengan Partai Golkar yang selalu menghadirkan tokoh baru di pentas politik nasional.

Andai kata kali ini perpecahan kembali terjadi, menurut saya, barangkali Anda juga sepakat, Partai Golkar akan tetap menjadi partai besar. "Silakan tinggalkan Partai Golkar. Tanpa Anda, partai akan terus berkarya," demikian kira-kira jika Yorrys atau siapa pun mengancam keluar dari partai itu.

Dalam dunia sepak bola, Partai Golkar dapat diibaratkan seperti Real Madrid atau Barcelona. Pemain lapis dua mereka tak kalah jauh dari pemain utama. Jika pemain top mereka berpindah klub sekalipun, eksistensi mereka di liga tetap mengancam puncak klasemen. 

Wajar jika kapan pun Partai Golkar ingin pindah koalisi selalu diterima. Wajar pula bila posisi menteri selalu ada untuk Partai Golkar. 

Dan bicara rekonsiliasi, maka partai ini pantas sebagai rujukan. Bicara manajemen konflik, juga pantas belajar dari partai ini. Wajar pula bila di kemudian hari PKS meniru Partai Golkar dalam perekrutan kader. PKS menguasai kampus dan merekrut mantan elite mahasiswa seperti Ketua BEM agar menjadi kadernya.

Partai Golkar memang diisi para mantan aktivis kampus maupun ketua lembaga yang sudah cukup berproses. Mereka sudah pernah berdinamika di tempatnya masing-masing. Para purnawirawan yang menjadi kader juga sudah sering berkonflik. Sehingga wajar bila polarisasi menjadi pasangan hidup partai tersebut.

Satu hal yang patut dijadikan teladan partai lain, betapa hebat 'badai' yang datang, kader-kader Partai Golkar akan selalu menjaga eksistensi partainya. Akan selalu ada kader yang siap menggantikan kepemimpinan yang gagal. Itulah mengapa gagasan Munas dipercepat dengan segala dinamikanya tidak mengganggu 'kecantikan' Partai Golkar.

Lihatlah ketika Partai Gerindra dan Demokrat saling sindir di media sosial, ketika partai lain cakar-cakaran, Partai Golkar hanya tersenyum manis sembari menikmati 'kue' kekuasaan. Ketika partai lain tergerus suara karena isu SARA atau suara bertambah, Partai Golkar tetap stabil. Ketika partai lain begitu emosional menghadapi Pilpres, mereka tetap rasional.

Pemenang Pilpres dan Pileg, menurut saya, bukanlah Jokowi atau Prabowo, bukan pula PDIP. Secara kualitas, pemenang Pilpres dan Pileg adalah Partai Golkar. 

Jadi, akankah Partai Golkar akan pecah lagi? Mari bedakan petang dan subuh, sama-sama gelap, namun gelap subuh menuju terang, dan petang menuju gelap gulita. Konflik Partai Golkar, subuh menuju pagi yang cerah.