“Hello, it's me
I was wondering if after all these years you'd like to meet
to go over everything
they say that time's supposed to heal ya
But I ain't done much healing.

(Hello – Adele)

Saya amat yakin kalau kalian semua yang baca tulisan ini telah mendengar lagunya Adele yang Hello ini dan baper* sejadi-jadinya. Ya, kalau baper adalah sebuah agama, Adele pantas jadi nabinya. Mulai lagu Someone like you yang bikin garuk-garuk tanah dan sekarang lagu Hello keluar. Saya aja abis denger lagu Hello itu langsung message mantan pacar jaman SMA, nanya: “apa kabar?” Seriusan. Karena lagu sekali puter, rusak move on sebelanga.

Mengapa move on itu begitu sulit? Mari kita berterimakasih pada kemajuan ilmu pengetahuan sekarang yang menyatakan bahwa kita, manusia, adalah sebuah mesin yang dikendalikan oleh hormon-hormon tertentu. Rasa sedih, marah, bete, mager** semuanya karena proses kimia yang bekerja dalam tubuh. Kalau kita mengetahui itu dan mampu menguasainya, kita akan mampu mengontrol diri sendiri! Oke, trik ini akan kita pakai untuk mengatasi gagal move on tak berkesudahan.

Kaisar Romawi Karl yang Agung atau Karolus Magnus atau dalam bahasa prancis disebut Charlemagne, dari wangsa Merowinger mengatakan: “Right action is better than knowledge; but in order to do what is right, we must know what is right.” Mari kita telaah apa saja pencetus dan hormon-hormon yang membuat baper dan susah move on.

Kenangan atau memori. Dalam Ilmu Sejarah, kenangan pasti bersifat subjektif karena ia hidup dalam perasaan. Bila kalian sudah menonton film Inside Out dari Disney Pixar, kalian kan lihat tuh bagaimana memori dihasilkan dari emosi (Joy, Sad, Anger, Disgust, Fear). Memori ini yang mengeluarkan perasaan-perasaan sedih dan galau akut.

Kedua, mari ambil filosofi dari sang Buddha dulu: “Jika kita ingin bahagia, maka kita harus menghilangkan ‘ingin’.” Kamu terjebak masa lalu karena kamu menaruh harapan-harapan pada masa lalu itu. Kamu berangan-angan kalau kamu masih bisa membina hal-hal yang sebenarnya tidak berhasil itu. Maka teruslah kamu terjebak.

Tubuh sebagai mesin kimiawi membuka peluang untuk meng-hack-nya. Kita adalah pengendali hormon-hormon dalam tubuh kita sendiri. Misal, hormon serotonin yang bertanggungjawab terhadap mood kita, bisa dipancing dengan makanan yang mengandung Triptofan, seperti coklat misalnya. Dan untuk memunculkan rasa senang, kita bisa ‘memanggil’ hormon endorphin si morfin alami.

Cara ‘memanggil’ hormon-hormon membuat bahagia ini adalah dengan berolahraga. Dan melalui tulisan ini, saya, Nadyazura yang sotoy ini akan mengenalkan olahraga yang pas buat kamu-kamu yang sedang berusaha buat move on.

Namanya Parkour. Berasal dari bahasa Prancis parcours du combatant yang berarti pelatihan halang rintang militer. Karena nama asalnya pakai bahasa Prancis, udah tau dong berarti Parkour ini berasal dari mana? Yap! Saya sudah kasih petunjuk di atas dengan mengutip Charlemagne!

Parkour adalah olahraga dari wilayah kekaisaran Romawi yang sekarang namanya jadi Prancis. Filosofi Parkour sendiri adalah olahraga berpindah tempat dari titik A ke titik B secara efisien. Tapi kalau merujuk ke Wikipedia sih, Parkour tidak bisa disebut cabang olahraga karena Parkour tidak mengenal kompetisi, hanya Jamming (berkumpul dan menunjukan kebolehan masing-masing).

Parkour juga bukan seni bela diri. Alih-alih membela diri, Parkour adalah seni untuk melarikan diri. Nah loh! Jadi Parkour lebih digolongkan sebagai bentuk latihan kedisplinan, melalui latihan fisik dan halang rintang.

Saya sendiri mengenal Parkour sejak SMA, kebetulan mantan pacar waktu SMA adalah seorang Traceur. Traceur adalah sebutan untuk praktisi Parkour. Saya pacaran dengan dia sebelum dan selama dia jadi Traceur. Perubahan yang saya lihat dari dirinya yakni lengannya jadi berotot dan keras banget, enggak empuk lagi buat dipeluk atau dicubit-cubit mesra. Bentuk tubuhnya juga jadi bagus. (Ah udah, ngapain saya ngomongin mantan disini, ntar jadi baper lagi. Huh!)

Saya sendiri mulai latihan Parkour sejak empat bulan terakhir. Satu bulan setelah putus saya memutuskan untuk memulai hidup baru dan bentuk tubuh yang baru. Saya mengenal tubuh saya dengan baik. Kalau saya ini nafsu makannya enggak kira-kira, saya enggak bisa diet. Maka saya memilih berolahraga untuk mendapatkan bentuk tubuh yang ideal.

Saya latihan bersama Parkour-Freerun Cibinong. Eh iya, Parkour beda dengan Freerun. Walaupun, kalau lihat latihannya suka rada-rada mirip. Freerun disertai dengan akrobatik seperti flip dan sebagainya. Kalau Parkour hanya berpindah secara efisien.

Pertama saya latihan, seperti biasa, ada latihan fisik yang membuat keesokan harinya lengan ini gak bisa ngangkat gayung. Tapi itu cuma pertama, selanjutnya saya sangat menyukai latihannya. Gerakan-gerakan dasarnya seperti Presisi (lompat), Vaulting (melewati halang rintang), rolling (berguling demi jatuh yang baik). Tiga bulan saya latihan, lengan saya langsung berotot macem Rounda Rousey.

Di Parkour-Freerun Cibinong, saya adalah satu-satunya perempuan yang ikut latihan. Sedih banget sih, karena pernah suatu ketika tali surga*** saya lepas dan panik karena gak tau mau minta bantuan siapa buat benerin, Huhuhuhu.

Beda dengan kelas Yoga yang pernah saya ikuti isinya 100% perempuan, Parkour 100% laki-laki. Saya pikir mungkin ada stereotyping gender disini. Karena setelah latihan saya pikir Parkour memang bukan olahraga ekstrim seperti yang bisa dilihat di Youtube (coba tonton https://www.youtube.com/watch?v=NX7QNWEGcNI)  nontonnya bikin merinding btw****.

Ya, saya pernah cedera keseleo dan lecet-lecet di bagian tulang kering karena latihan ini. Tapi enggak sampe patah tulang. Lama-kelamaan saya belajar bahwa setiap orang punya batasan dan konsentrasinya. Kalau konsentrasi dan tubuh sudah lelah, biasanya konsentrasi dan ‘kesingkronan’ tubuh jadi berkurang. Kalau kita tetap paksa latihan, maka akan membuat cedera. Parkour ini olahraga yang butuh kedisiplinan dan konsentrasi. Dua minggu gak latihan, otot-otot indah itu bisa balik berubah jadi ager-ager.

Parkour: berpindah secara efisien. Baik parkour maupun move on, kita sama-sama berpindah. Berpindah dari satu hati yang terjajah kenangan menjadi hati yang merdeka. Kita butuh kemauan, butuh latihan, butuh keberanian, butuh strategi.

Dalam parkour, instruktur saya selalu mengatakan bahwa kita harus berani untuk bisa lompat yang tinggi. Enggak hanya mental untuk berani, tapi juga otot paha dan lengan harus dilatih juga agar kuat menopang beban tubuh. Saya pikir move on juga begitu. Selain kemauan dan strategi, kita harus melatih diri agar kuat menghadapi masa depan yang tak tentu arah. Menghadapi hari-hari tanpa si dia.

Jamming berbeda dengan Kompetisi. Dalam Jamming kita hanya menunjukan kebolehan tanpa ada persaingan atau si A lebih bagus dari si B. Semua punya perbedaannya sendiri, dan semua saling membantu untuk mengembangkan tekniknya masing-masing.

Dengan memilih Parkour sebagai kegiatan untuk mengisi hari-hari yang sepi tanpa dia bisa meningkatkan hormon senang, dan dapat bentuk badan yang lebih bagus pulak. Kalau manfaatnya untuk akhirat, mungkin dengan latihan presisi macem Jump kalau suatu saat kita mati dan jadi pocong, Traceur Parkour pasti jadi pocong yang hebat karena bisa melompat dengan baik.

Selamat dan semangat berolahraga!!!

Keterangan:

Baper = Bawa Perasaan*
mager = males gerak**
tali surga = tali bra***
btw = by the way****