Tak lama setelah pelantikannya sebagai Menteri Pariwisata, Wisnutama sempat membuat heboh media sosial. Pasalnya, ada media online menuliskan Bali dan Danau Toba masuk dalam program wisata halal. Sontak dunia maya bereaksi keras.

Syukurlah akhirnya Wisnutama mengklarifikasi dengan mengatakan bahwa Danau Toba dan Bali tidak akan menjadi wisata halal.

"Kami selalu bangga dan mengagumi Bali sebagai sebuah role model pariwisata berbasis budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaaan dan toleransi, sekaligus sebuah destinasi yang mampu merefleksikan harmoni dalam keberagaman. Begitu juga dengan Toba," ujarnya.

Wisata halal telah menjadi topik yang sensitif, terutama di daerah mayoritas non-muslim. Kehebohan awal karena usulan Pemda Sumatra Utara agar Danau Toba menjadi wisata halal.

Walaupun akhirnya batal, ketakutan itu masih bersisa karena Presiden Jokowi beberapa kali menekankan ambisinya meningkatkan ekonomi nasional melalui pengembangan ekonomi syariah dengan turunannya, seperti perbankan syariah, wisata halal, industri halal, sertifikasi halal, dan lain-lain.

Wisata Halal

Sejak lima tahun trakhir, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menarget pengembangan wisata halal sebagai salah satu prioritas, karena secara hitung-hitungan di atas kertas nilainya sangat menggiurkan.

Data GMTI (Global Muslim Travel Index) 2019 menunjukkan bahwa hingga tahun 2030, jumlah wisatawan muslim (Wislim) global diproyeksikan akan menembus angka 230 juta di seluruh dunia. Tahun 2017, jumlah Wislim mencapai 131 juta. Sedangkan tahun 2020, diperkirakan mencapai 158 juta.

Pada 9 April 2019 yang lalu, Indonesia meraih peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal dunia versi GMTI, yang diumumkan oleh CrescentRating – Mastercard.

Saya mengamati, peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal dunia tidak otomatis mencatatkan kunjungan Wislim tertinggi. Mirip seperti Film terbaik Oscar, belum tentu penontonnya paling banyak. Sebagai contoh, tahun 2018, Indonesia (peringkat 2) hanya kebagian 2,6 juta (2%) Wislim, sedangkan Malaysia (peringkat 1) hanya mendapat 6,5 juta (5%) kunjungan.

Tahun 2020, diperkirakan ada 158 juta Wislim global. Indonesia sebagai peraih peringkat pertama destinasi wisata halal dunia versi GMTI hanya berani menargetkan 5 juta (3.2%) Wislim. Lho, kalau kue wisata halal itu sedemikian besar, ke manakah Wislim pergi?

Dalam laporannya, GMTI membuat klasifikasi destinasi, yaitu negara muslim dan non-muslim.

Berikut 10 destinasi negara muslim yang paling banyak dikunjungi: Saudi Arabia, Turki, Malaysia, UAE, Bahrain, Moroko, Kazastan, Tunisia, Lebanon, dan Jordan. Indonesia tidak masuk 10 besar walaupun tahun 2018 mendapat ranking 2 terbaik.

Sedangkan 10 destinasi favorit Wislim dunia di negara non-muslim, mulai dari Rusia, Spanyol, Prancis, Thailand, Singapore, Italia, Georgia, Yunani, Inggris, dan India. Singapore yang mendapat skor tertinggi dari GMTI hanya mendapat nomor 5 secara global. Artinya bahwa Wislim itu tidak selalu menjadikan skor wisata halal menjadi patokan destinasi kunjungan.

Menurut stakeholder pariwisata halal Indonesia, yang membuat prosentasi Wislim global masih kecil yang datang ke Indonesia adalah karena sertifikasi halal belum maksimal. Banyak produk yang tidak memiliki sertifikat halal sehingga banyak Wislim yang ragu. Itulah juga alasan pemerintah tahun ini semua produk wajib memiliki sertifikat halal.

Tapi saya ragu dengan alasan tersebut.

Wisatawan nasional (Wisnas) Indonesia yang sebagian besar juga adalah muslim, destinasi favorit mereka adalah Singapore, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, dan Thailand. Hanya satu negara yang anggota OKI (muslim). Tahun 2016, jumlah Wisnas adalah 8,4 juta, 2017 mencapai 9,1 juta, 2019 menembus 10 juta.

Tahun 2018, kunjungan wisatawan ke Indonesia adalah 15,81 juta, yang terdiri dari 2,6 juta Wislim dan 13,21 juta Wisman (wisatawan mancanegara). Wisman yang paling banyak berasal dari Singapura, Malaysia, Australia, Jepang, dan Korea Selatan.

Dari data di atas, saya heran mengapa Kemenpar menjadikan wisata halal jadi prioritas? Apakah karena mayoritas penduduk Indonesia muslim? Padahal dengan segala daya upaya yang dilakukan, yang diperoleh dari Wislim itu hanya sekitar 3%.

Wisata Tak Halal

Bila ada wisata halal, maka seharusnya ada wisata haram, karena itu lawan katanya. Tapi tak elok sebutan itu, maka kita sebut saja wisata tak halal. Untuk pasar ini, potensi Wisman-nya sangat besar dan belum digarap dengan baik.

Menurut data UNWTO (United Nations World Tourism Organisation) 2018, warga negara yang paling banyak mengeluarkan uang untuk jalan-jalan adalah Cina (USD 277 juta), USA (USD 144 juta), Jerman (USD 94 juta), UK (USD 76 juta), Prancis (USD 48 Juta), Australia (USD 37 juta), Rusia (USD 35 juta), Kanada (USD 33 juta), Korea Selatan (USD 32 juta), dan Italia (USD 30 juta).

Sedangkan 10 negara yang paling banyak dikunjungi wisata dunia adalah Prancis, Spanyol, USA, Cina, Italia, Turki, Meksiko, Jerman, Thailand, dan UK. Hanya Turki yang negara muslim. Asumsiku, Wislim global pun lebih banyak mengunjungi negara non-muslim.

Ketika Arief Yahya menjabat Menpar, dia sudah pasang target 20 juta kunjungan Wisman di 2020 dengan strategi border tourism, tourism hub, dan low cost terminalSasarannya adalah Wisman dari negara tetangga.

Berbeda strategi dengan Menpar baru, yaitu dengan branding Wonderful Indonesia, 30 negara di Amerika dan Eropa menjadi target promosi pariwisata Indonesia 2020. Destinasi yang dijual adalah Bali, Raja Ampat, Borobudur, Danau Toba, Pulau Komodo, dan Pantai Gili Kedis.

Bila Menpar tidak tipis telinga, wisatawan dari Cina sangat potensial untuk digarap. Mereka berduit dan royal dalam berbelanja. Pengeluaran mereka untuk wisata nyaris 2 x lipat Amerika Serikat. Garaplah mereka!

Wisata dan Media Sosial

Seperti sudah saya sebutkan di atas, jumlah Wisnas di 2019 melewati 10 juta. Bila pariwisata kita hanya mampu memasukkan wisatawan ke Indonesia sebanyak 20 juta, maka setiap 2 Wisman yang masuk ada 1 Wisnas yang ke luar negeri. Masih untung sih, tapi tipis.

Banyak yang mengatakan tiket murah ke luar negeri, tapi mahal di dalam negeri, adalah penyebab utama Wisnas berpergian keluar dari pada domestik. Ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya.

Sekarang zaman media sosial. Posting-an foto berwisata di luar negeri menjadi salah satu pengangkat gengsi. Lagi pula, para pelancong selalu mengejar pengalaman baru yang berbeda dari keadaan di Indonesia. Misalnya alam, budaya, teknologi, dan lain-lain.

Di Indonesia, tidak ada salju. Orang yang ingin menikmati salju dengan biaya yang lebih murah akan pergi ke Korea Selatan. Bila punya modal yang lebih besar, bisa ke Australia, Eropa, atau Amerika.

Negara non-muslim seperti Korea Selatan dan Thailand mempersiapkan diri menjadi destinasi yang muslim friendly karena jumlah Wislim yang datang cukup besar dan kenaikan tiap tahun juga sangat signifikan.

Tujuan orang berwisata adalah untuk merasakan pengalaman yang berbeda dari keseharian. Itulah sebabnya wisatawan dari negara berkembang pergi ke negara maju, orang dari negara maju pergi ke negara berkembang. Orang dari empat musim ke negara dua musim, orang dari negara dua musim ke negara empat musim.

Pelancong muslim dari berbagai negara juga ingin berwisata ke negara yang berbeda dari keseharian mereka. Banyak wisatawan dari negara yang menerapkan syariat Islam pergi berlibur ke Eropa. Di sana mereka bebas melepaskan jilbab atau abayanya dan menikmati liburan dengan suasana berbeda.

Kalau memang kita ingin menggarap pariwisata untuk meningkatkan perekonomian Indonesia, garaplah dengan tepat. Bila alam dan budaya Indonesia disukai oleh wisatawan dari negara-negara yang berbeda kultur dan agamanya, kembangkanlah di sektor itu.

Berikan energi kita untuk meningkatkan pelayanan di semua aspek demi mencapai standar pariwisata bertaraf internasional. Tak perlu mengejar Wislim yang memang tidak tertarik mengunjung destinasi yang mirip dengan negara mereka sendiri.

Benahilah destinasi wisata yang potensial, mulai dari fasilitas, aksebilitas, kecakapan para stakeholder dan warga lokal dalam menghadapi Wisman. Lakukan promosi dengan cara kekinian. Semoga suatu saat Wisman yang berkunjung ke Indonesia jumlahnya bisa dua atau tiga kali lipat dari 20 juta.

Sumber Data: