Indonesia adalah negara tujuan pariwisata dunia, wisatawan dari berbagai negara ingin mengunjungi Indonesia. Bali, Yogyakarta, Raja Ampat, Lombok dan Labuan Bajo adalah beberapa destinasi favorit, namun membicarakan destinasi wisata Indonesia tidak akan ada habisnya. Wisatawan akan selalu menemukan tempat baru dan hal baru jika mengunjungi Indonesia.

Dikutip dari IDN Times, ada beberapa alasan Indonesia menjadi tujuan wisatawan yaitu: Indonesia punya segudang wisata unik, orang Indonesia terkenal ramah dan sopan, makanan khas yang sangat beragam, tujuan wisata yang bagus dan murah meriah, Indonesia punya banyak suku dan budaya.

Sepanjang 2019, devisa sektor pariwisata mencapai Rp. 280 triliun. Mantan Menteri Pariwisata, Wishnutama mengatakan, ekonomi sektor pariwisata berkontribusi pada PDB nasional sebesar 5,5 %. Jumlah tenaga kerja sektor ini sebanyak 13 juta orang.

Presiden Joko Widodo ingin pariwisata menjadi penyumbang terbesar devisa negara. Selain itu, pariwisata juga harus menjadi nilai tambah bagi industri kreatif. Pariwisata dan ekonomi kreatif akan menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, strateginya adalah mempermudah perizinan untuk menarik investor besar di industri pariwisata dan ekonomi kreatif.

Pariwisata Mengabaikan Kearifan Lokal

Untuk menggenjot devisa negara dari sektor pariwisata, Pemerintah Indonesia sedang membuat proyek 5 kawasan stategis pariwisata nasional (KSPN) prioritas atau Bali baru. Lima destinasi itu adalah Danau Toba, Borobudur, Labuan Bajo, Mandalika, dan Manado-Bitung-Likupang. Dana yang dianggarkan pada 2021 untuk proyek-proyek ini mencapai Rp 3,5 triliun dengan alokasi masing-masing, Danau Toba sebesar Rp 800 miliar, Borobudur (Rp 990 miliar), Mandalika ( Rp 831 miliar), Labuan Bajo (Rp 530 miliar) dan Manado-Bitung-Likupang (Rp 380 miliar).

Namun, pengembangan pariwisata oleh pemerintah Indonesia cenderung mengabaikan kearifan lokal dan kelestarian lingkungan. Salah satu pengembangan pariwisata yang mengabaikan kearifan lokal dan kelestarian lingkungan adalah proyek Jurassic Park di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo. Pulau ini bakal disulap menjadi destinasi wisata premium dengan pendekatan konsep geopark atau wilayah terpadu yang mengedepankan perlindungan dan penggunaan warisan geologi dengan cara yang berkelanjutan.

Nantinya, Jurassic Park di Taman Nasional Komodo akan dilengkapi dengan sejumlah vila, guesthouse, restoran maupun kafetaria – tentu dengan tambahan berbagai fasilitas penunjang lainnya. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno, seperti dikutip tirto.id, mengklaim bahwa pembangunan ini tidak melanggar kaidah konservasi karena berada dalam zona pemanfaatan wisata.

Taman Nasional Komodo yang meliputi Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Pulau Padar, bukan hanya diperuntukkan bagi kepentingan pelestarian komodo (Varanus komodoensis), tetapi juga untuk melindungi seluruh keanekaragaman hayati, baik yang ada di laut maupun yang ada di darat.

Merriam-Webster mendefinisikan kawasan konservasi sebagai “ an area of land that is protected and that cannot be built on or used for certain purposes.”

Merujuk kepada definisi Merriam-Webster tersebut, jelas sekali bahwa kawasan konservasi bukan cuma harus dilindungi, tetapi juga terlarang untuk dibangun atau dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, yang tidak ada kaitannya dengan urusan konservasi. Oleh sebab itu, pembangunan yang sedang dilakukan untuk pembuatan Jurassic Park di Taman Nasional Komodo sekarang ini patut disayangkan.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nur Hidayati mengatakan "Pembangunan Jurassic Park di Pulau Rinca jelas menunjukkan pembangunan yang tidak berbasis keilmuan dan bertentangan dengan kearifan lokal masyarakat setempat".

Selain berdampak pada kelangsungan habitat dan hidup komodo, pembangunan Jurassic Park, lanjut Nur juga memiliki dampak pada masyarakat sekitar. Ia mengatakan, proyek tersebut akan membuat masyarakat menjadi terasingkan di tanah kelahirannya sendiri. "Dampak pada kehidupan masyarakat lokal di sana yang sudah menyatu dengan kehidupan komodo," ucap Nur Hidayati.

Koalisi masyarakat Pulau Komodo mendesak agar DPR menggagalkan rencana pemerintah membangun wisata ala Jurassic Park di kawasan Taman Nasional Komodo. Mereka khawatir jika proyek super mewah direalisasikan, maka aktivitas petani dan nelayan akan dibatasi. Geopark ini secara perlahan menyingkirkan warga setempat, termasuk warga yang menggantungkan hidup dari hasil bertani ataupun nelayan.

Pandemi Menghancurkan Pariwisata

Pandemi Covid-19 mengakibatkan pendapatan dari sektor pariwisata negara kita mengalami penurunan. Industri pariwisata Indonesia diperkirakan telah mengalami kerugian mencapai Rp 85,7 triliun. Target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia tahun ini dipastikan pula meleset.

Sebelumnya, Indonesia menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2020 sebanyak 17 juta kunjungan. Tahun 2019 silam, jumlah wisman yang datang ke Indonesia adalah sebanyak 16,1 juta, meningkat dari jumlah kunjungan wisman 2018, yang berjumlah 15,81 juta kunjungan.

Bali menjadi daerah yang sektor pariwisatanya paling terdampak pandemi. Banyak pelaku pariwisata di Bali yang kehilangan penghasilan dari jasa pariwisata. Hal tersebut, membuat mayoritas pekerja pariwisata memutuskan pulang kampung untuk bertahan hidup.

Kepulangan warga ke kampung halaman dimanfaatkan seorang kepala desa di Buleleng untuk menghidupkan sektor pertanian yang telah lama ditinggalkan, karena warga lebih tergiur keuntungan dari pariwisata. Kini, saat bisnis pariwisata melandai, Yudi Astara, sang kepala desa, mengajak warganya kembali menggarap tanah, berkebun dan bertani.

Selain kembali bertani, masyarakat di Bali selatan kini banyak yang mencari hasil laut di Teluk Benoa. Banyak hasil laut yang mereka dapatkan di Teluk Benoa, yaitu ikan, udang, kepiting, kerang, bahkan rumput laut. Hal tersebut menampar masyarakat yang menganggap alam Teluk Benoa sudah rusak dan ingin mereklamasi untuk dijadikan destinasi pariwisata eksklusif.

Jangan Hanya Bergantung Dari Pariwisata

Raja Ampat di Papua Barat adalah contoh kawasan wisata yang tidak sepenuhnya hidup bergantung dari sektor pariwisata. Mark Erdmann, Vice President Marine Asia Pasifix Field Division Conversation International dalam Indonesian Ocean Pride mengatakan “saat pariwisata Raja Ampat terhenti karena pandemi, masyarakat Raja Ampat kembali berkebun dan mencari hasil laut. Konservasi di Raja Ampat justru berfungsi untuk ketahanan pangan masyarakat lokal”.

Sejak dahulu tokoh masyarakat disana mendesain Raja Ampat menjadi kawasan wisata yang mengedepankan konservasi, jadi tidak ada mimpi membuat Raja Ampat menjadi Mass Tourism seperti Bali dan Jogja. Raja Ampat didesain menjadi kawasan Quality Tourism.

Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati mengatakan “Raja Ampat tidak butuh wisatawan datang untuk menikmati dan pergi selfie, kita membatasi wisatawan datang untuk menjaga kekayaan laut Raja Ampat”.

Pandemi Covid-19 menjadi refleksi besar bagi industri pariwisata Indonesia agar tidak sepenuhnya hidup bergantung dari sektor pariwisata. Sebelum kawasan pariwisata terdampak pandemi, sektor lainnya seolah terabaikan. Pertanian dipandang sebelah mata, perikanan termasuk nelayan menjadi profesi kelas dua, bahkan mereka kerap disingkirkan demi destinasi wisata baru.