"Membaca akan membuat kita menjadi orang yang memiliki kedalaman imajinasi, keluasan hati, tidak mudah diprovokasi, dan akan punya pengetahuan terhadap kedalaman atau khazanah sejarah. Karenanya tidak perlulah razia 'buku kiri', Pak Moeldoko. Suatu kemubaziran sempurna dan pembodohan yang luar biasa ketika razia buku-buku sejarah dilakukan."

Demikian adalah sekutip ucapan yang disampaikan oleh Mbak Nana a.k.a Najwa Shihab dalam sebuah acara Indonesia Millenial Summit, 19 Januari 2019 lalu.

Statement yang dilontarkan Mbak Nana tersebut rasanya sangat kontekstual dengan apa yang terjadi pada tanggal 27 Juli 2019 lalu, di mana penyitaan terhadap buku-buku yang diduga memuat ajaran komunis milik komunitas literasi, yaitu Vespa Literasi, yang dilakukan oleh pihak Kepolisian Polsek Kraksaan dan TNI Kabupaten Probolinggo. 

Kejadian ini akhirnya menambah rentetan koleksi penyitaan buku yang dilakukan oleh aparat negara selama tahun 2019, yang total telah tercatat empat kali setelah sebelumnya terjadi di Pare (Kediri), Padang, dan Tarakan.

Di sini yang menjadi sorotan sebenarnya adalah tindakan razia, sweeping buku, serta pengamanan barang-barang cetak lainnya secara sepihak sebenarnya sudah dilarang sejak adanya putusan Mahkamah Agung tahun 2010 melalui pencabutan Undang-undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang 'Pengamanan terhadap Barang-Barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum'. 

Pada intinya, sejak 2010, aparat sebetulnya tak boleh lagi ada praktik penyitaan buku tanpa izin Kejaksaan Agung. Dalam proses perizinannya, Kejaksaan Agung pun mesti melalui tahap verifikasi bertahap dahulu, alias pantang asas duga sangka. 

Lha terus dasar dan maksud razia buku tersebut apa? Yakali penegak hukum justru malah melanggar hukum. Yakali hendak bernosalgia-nostalgiaan dengan zaman Orde Baru.

Insiden yang menimpa jagat literasi di negara kita ini haruslah menjadi perhatian serius. Barangkali sangat menarik bila diapologikan dengan novel karya sastrawan Rusia, Mikhail Bulgakov, yang berjudul Manusia Berjiwa Anjing. Karena bila ditinjau dari latar belakang, Indonesia dan Rusia (baca: Uni Soviet) memang sama-sama pernah memiliki catatan kelam dalam fenomena limitasi kebebasan berpikir dan berpendapat.

Satir yang Paling Anjing dalam Novel Manusia Berjiwa Anjing

Sebenarnya kalau kita membaca sinopsis dari karangan ini, gambaran eksplisitnya sudah pasti tertebak, namun kita tak akan memahami satir-satir seksinya dengan saksama bila tak membacanya. 

Novel Manusia Berjiwa Anjing (Собачье Сердце) ditulis ketika masa Stalin berkuasa (1925), di mana saat itu terjadi pembersihan politik dan nilai-nilai moral banyak sekali yang terdistorsi. Pada saat itu, pembentukan tatanan politik baru di Republik Bolshevik muda tengah menyongsong wajah baru bertajuk Uni Soviet. Di situlah Mikhail Bulgakov mengalami surealisme kehidupan.

Ketika medio 1930-an, Bulgakov tidak bisa menerbitkan karyanya karena ia telah disingkirkan dari panggung permainan politik negara. Buku ini dilarang terbit dan tetap tidak dipublikasikan hingga tahun 1987 (masa-masa terjadinya perestroika). 

Namun demikian, beberapa orang di Uni Soviet tetap membaca naskah buku Bulgakov ini melalui terbitan yang dilakukan oleh Samizdat (sekelompok pegiat literasi underground zaman Uni Soviet), yang tidak hanya ilegal tetapi berbahaya.

Mikhail Bulgakov menunjukkan dengan tepat bahwa April 1917 adalah tanggal ketika semua permasalahan rumah tangga Uni Soviet telah dimulai. Pada saat buku itu ditulis, penindasan tengah terjadi merajalela, dan Bulgakov mencoba untuk mengeksposnya dalam satir alegori. 

Bulgakov juga menyebutkan bahwa penggunaan nama Marx saja sangat sensitif secara retoris dan dapat memungkinkan represi dari aparatur negara mengingat ideologi yang terjadi saat itu tengah mengalami inkonsistensi.

Berdasarkan latar dan tempo waktu penulisan novel Manusia Berjiwa Anjing ini, Mikhail Bulgakov memberikan sebuah satir yang teramat mendalam terhadap kemunafikan pemerintahan komunis. Pemerintahan yang dijalankan sewenang-wenang oleh Stalin di masa Uni Soviet pada saat itu memang banyak menganaktirikan sebagian besar masyarakat.

Syahdan dalam cerita, eksperimen luar biasa yang dilakukan oleh Prof. Philip Philippovich akhirnya mengubah seekor anjing kumal menjadi perwujudan manusia. Namun hal ini terabaikan dengan banyak faktor yang ternyata jauh dari ekspektasi sebelumnya. 

Sharik, nama anjing tersebut, yang semula hanya beredar di sudut-sudut tong sampah di kota Moskwa, melalui tangan Philippovich, menjelma menjadi sesosok manusia primitif yang lambat laun mampu menangkap beragam fenomena baru di sekitarnya dan perlahan mampu menjadi manusia seutuhnya. 

Namun, di antara semuanya, Sharik (yang kemudian berubah nama menjadi Polygraph Polygraphovich Sharikov) tetaplah memiliki naluri sebagai seekor anjing, makhluk di muka bumi yang memiliki dendam abadi terhadap kucing (sungguh, kita telah termakan sugesti oleh Metro-Goldwyn-Mayer).

Tapi masalah terbesar bukanlah sifat keanjingan Sharik yang tertinggal (di sini kita tak menyebutkan hewani, karena pada hakikatnya manusia juga sebenarnya hewan, beruntungnya kita diberikan kenikmatan akal). Yang menjadi masalah Philippovich justru Sharik menjelma menjadi manusia seutuhnya, juga pula memiliki hati manusia seutuhnya. Hal ini bisa kita lihat di mana ketika Mikhail Bulgakov memberikan sebuah satir yang teramat manis melalui dialog dalam novel,

"… Kau lihat, yang mengerikan adalah hatinya bukan lagi hati seekor anjing, tapi hati manusia. Dan hati terkejam yang pernah ada!" (halaman 124).

Kata-kata itu mewujud dalam siasat Sharik dalam menyerang Pilippovich lewat ketidaksukaan sang profesor terhadap pemerintah.

Novel yang diterbitkan tahun 1987 ini akan tetap relevan dan kontekstual pada era apa pun. Bila kita mencoba mengaitkan dengan konteks sekarang, salah satunya kita bisa bercermin pada kasus razia buku yang dilakukan oleh aparat. 

Sharik adalah penggambaran fiksi tentang anjing yang menggigit tuannya yang telah memberinya makan. Sementara orang-orang yang melakukan sweeping terhadap buku (yang notabene pengetahuan selama ini adalah salah satu faktor yang telah menghidupi kita) adalah gambaran persis di dunia nyata.

Teruntuk para pengglorifikasi pseudo-operasi (baca: sita buku), alangkah baiknya kita memahami dan merenungi luapan marah dari Philippovich dalam menghadapi kelancangan Sharik kepadanya dan asisten pribadinya, Bromenthal:

"Kau makhluk yang baru dalam proses pembentukan, dengan kecerdasan yang rendah.  Semua tindakanmu adalah tindakan binatang. Namun berani-beraninya kau bicara lantang terhadap dua orang berpendidikan tinggi – menawarkan saran dalam skala kosmis dan kebodohan yang sama kosmisnya mengenai bagaimana membagi segala…" (halaman 106).

Kita tahu, mungkin itu adalah suatu wujud klimaks penggelembungan ego Philippovich sebagai bagian dari kelas terpelajar. Tapi itu menjadi pengingat untuk tak sekadar melakukan suatu hal, tanpa memahami betul apa substansi yang dilakukan. Hal ini menjadi pukulan telak, hanya saja kita merasa mengerti, belum berarti kita benar-benar mengerti.

Sedikit kita bergeser ke sastrawan Rusia (baca: Uni Soviet) lain, Maxim Gorky, beliau memiliki teori sederhana yang berimplikasi terhadap karya-karya agungnya: The people must know their history (yang konon teori ini di kemudian hari sangat memengaruhi pemikiran Pramoedya Ananta Toer, yang salah satu novel dari Tetralogi Buru-nya, Bumi Manusia, akan diangkat ke layar bioskop, lakon utama akan diperankan oleh Iqbaal, dan tentunya ini menjadi film yang dinantikan banyak umat manusia). 

Dari teori Maxim Gorky tersebut, kalau kita membaca sejarah para pendiri bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, dan tokoh-tokoh lain, juga adalah orang-orang yang mendapatkan wangsit karena membaca 'buku kiri', sehingga tercerahkanlah kesadaran politik, ekonomi, dan sosialnya.

Yang mesti kita ingat, apa yang dilakukan oleh teman-teman yang menggelar lapakan buku (baca: gratis, inklusif, dan alternatif) dan membaca buku-buku kiri bukanlah atas dasar komunisme yang lantas terafiliasi dengan in-group mereka (baca: komunisme wa 'ala alihi, sungguh telah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kita semua), tapi dengan demikian adalah upaya menjunjung tinggi (setinggi-tingginya) nilai-nilai demokrasi. 

Tidak ada dasar dan legalitas aturan pada orang yang membaca atau mengoleksi buku-buku terkait sejarah kaum kiri, isu 65, atau buku-buku biografi tokoh kiri.

Bersama paragraf yang nasibnya di ujung tanduk ini, penulis hendak mengutip cuitan twitter sejarawan JJ Rizal pada tanggal 30 Juli kemarin: "Republik ini basisnya buku, stop razia buku, jangan jadi bangsa durhaka!" 

Mari jangan menjadi anak-anak durhaka terhadap ibu pertiwinya sendiri. Mari jangan mengebiri pengetahuan anak bangsa, dan mari segera bertaubat. Ingat, titah pertama kali Tuhan Yang Maha Pandai adalah 'Iqro'!'

Oh, iya, di atas tersemat diksi durhaka, ya? Ngomong-ngomong, jadi teringat dengan satirnya Bulgakov, toh kita juga memiliki hati manusia, hati terkejam yang pernah ada.