Di balik semarak pohon pinus dan batang-batang bambu, Sulaiman bergegas. Angin sepoi berhembus di celah-celah daun, menimbulkan suara derit dan gemerisik, tapi tetap tak bisa mengganggu api yang terlanjur membara dalam selimut dendam. Sesekali benda yang ia pegang berkelebat ditimpa cahaya bulan seperempat. Tak dipedulikannya lagi roh-roh halus yang bermain dan tertawa di sudut-sudut gelap. Di kepalanya sudah tercetak secara kekal dendam yang terlanjur bersarang.

Pintu kayu jati itu terhempas membuka, menampakkan beberapa ruang dan halaman beraroma dupa samar-samar. Lampu yang temaram memperpendek jarak pandang Sulaiman untuk menyisir semua bagian rumah. Namun, ia tak perlu sudut pandang yang luas, hanya dibutuhkan satu sudut pandang, tempat di mana sepasang pria sedang duduk bersila sambil tertawa. Diremasnya parang berkilat yang sedari tadi ia tenteng.

***

Pria tua itu mengawali ritualnya di ruangan redup remang. Di balik mulutnya terkumurlah air rendaman mawar yang sudah bercampur dengan ludahnya. Dengan gestikulasi yang disengaja dan direncanakan, disemburkannya senyawa magis itu ke wajah seorang pasien, seorang pria tua bersorban dan berjanggut abu sedada. Seluruh prosedur itu dilakukan dengan khusyuk dan perhatiannya larut total pada dupa-dupa di depan mata. Nama pria sakti itu Suhubudi.

Saban hari, tidak hanya kaum muda yang mengadu pada jasanya usai gelap mata karena putus cinta. Di lingkungan politisi, keinginan untuk membinasakan rival politik memaksa para pejabat untuk datang di gubuk mistis tersebut. Kediamannya berada di jantung hutan lindung, jauh dari keramaian.

Usailah ritual, usailah pula segala kecemasan si pasien bersorban lantaran kekuasaan sudah di depan mata. Selangkah lagi maka pertempuran itu akan ia menangkan. Di balik wajah basahnya tersembul sebuah senyum simpul.

Skakmat!

***

“Selamat pagi Pak Suhubudi,” ujar Bapak.

“Selamat pagi Sulaiman, silahkan masuk! Ada apa datang jauh-jauh ke sini? Mau menjabat lagi?” sapa Pak Suhubudi. Tampaknya kabar burung tentang pencalonan sudah lebih dulu mampir di sini.

“Iya pak, politik memang membuat ketagihan. Sekali masuk, susah untuk keluar. Jika ada peluang, ya ambil saja, mau kapan lagi?”

“Politik memang selalu berujung urusan yang berkepanjangan dan berlarut-larut. Tak pernah habis secara instan. Apakah mau saya sajikan makanan ringan supaya lebih betah?”. Tak terasa mereka sudah bersila di pelataran rumah Suhubudi.

“Tidak usah repot-repot pak. Lagipula, saya hanya mau bicara masalah permukaan saja. Belum ke dalam-dalamnya. Tidak akan memakan waktu juga.”

“Selama saya hidup, saya akhirnya memahami dengan terang bahwa tidak ada politik yang dangkal. Yang berkaitan dengan politik selalu mengakar hingga ke dalam-dalam, memiliki resiko yang tidak ringan dan membutuhkan waktu yang lama untuk dibicarakan.”

“Pak Suhubudi bisa saja,” ujar Sulaiman tersipu malu.

******

Sejak pekan lalu telah dimulailah masa kampanye politik menjelang pemilihan besar.

“Sejak kemarin, berbondong-bondonglah para puan dan antek-antek oposisi mengunjungi praktisi ilmu kebatinan, kepada teman-teman saya, sesama dukun. Kerepotan sekali mereka dibuatnya. Pak Sulaiman barangkali bukan yang pertama,” Suhubudi memainkan rokok kretek yang setengah tersulut di sela jemarinya.

“Politik berkompromi dengan magis, itu mah sudah kebiasaan dari dulu-dulu,”

“Tapi untungnya, para dukun jadi punya lapangan pekerjaan yang tetap. Beda dengan dulu saat Belanda menjajah tanah air. Orang-orang Eropa memang terlalu rasional sehingga lupa tentang yang mitis-magis. Kami jadi kehilangan nafkah dan anak-anak menjadi liar karena tak bersekolah,” pandangan Suhubudi menerawang menembus gugusan pohon beringin di sudut rumah. Entah apa saja yang ia lihat di sana, yang jelas tidak hanya yang hidup.

Sejak tahun 1900-an, para dukun telah berupaya secara sporadis memerangi bangsa penjajah dengan segala cara. Mereka terlibat dalam gerakan-gerakan reformasi juga. Berbaur dengan barisan aktivis dan mahasiswa. Sebagian lagi mendekam di tempat semedi dan marapalkan kutuk atau meniup santet pada orang-orang kulit putih. Beberapa jenderal Belanda tiba-tiba terserang sakit yang didiagnosa oleh dokter amatir sebagai malaria, padahal itu ulah guna-guna. Esoknya mereka mati mendadak diiringi sukacita orang-orang pribumi.

Seakan diketuk dari mimpinya, Suhubudi terhenyak kembali.

“Kalau begitu, ada keperluan apa sehingga Pak Sulaiman ke sini?”

Yang ditanyai berdeham sekilas untuk memulai keluhannya.

“Jadi begini pak. Partai saya mengutus saya sebagai kandidat cabup. Saya diboyong mewakili partai kami. Banyak yang melihat kewibawaan dan jiwa kepemimpinan saya. Begitu kata mereka. Saya sendiri pun tidak sadar bisa dinilai sekharismatik itu. Usai didaulat, saya segera mengadakan kampanye besar-besaran dan memberikan bantuan di mana-mana, sebagaimana yang selalu saya lihat dilakukan oleh mereka yang ingin mencalonkan diri untuk sebuah jabatan besar. Dari hulu ke hilir saya sambangi warga dan meyakinkan mereka bahwa saya adalah pilihan yang paling tepat. Capek saya berpura-pura tersenyum dan berpura-pura ramah selama kampanye.”

Seekor burung gagak melesat di atas atap dan berkaok sekali, mengalihkan pandangan Suhubudi yang telah terbiasa dengan segala pertanda.

“Kelihatannya sudah banyak yang dipertaruhkan di sini,” komentar Suhubudi.

“Begitulah. Tapi dalam politik tidak pernah ada jalan yang mudah.”

Suhubudi mengangguk kecil, tanda kesepahaman.

“Masalahnya, sekarang ada sebuah partai tandingan yang menjadi rival kuat kami. Mereka itu partai berhaluan agama, memposisikan diri sebagai oposisi dan berkoar-koar membela rakyat kecil atas dasar iman. Dikiranya partai lain tidak punya iman apa? Siapa coba yang menolak tawaran negara beriman? Slogan itu dijadikan jaring raksasa yang menggaet suara para pemilih. Kalau sudah membawa-bawa iman dan agama, pihak lawan mana pun tetap akan menjelma iblis di mata mereka dan di benak para pemilih mereka. Tuhan saja mereka permainkan seperti itu, apalagi kami ini,” lanjut Sulaiman memberi keterangan.

Tanpa tanggung-tanggung, Suhubudi menanyakan inti seluruh keruwetan politik tersebut.

“Siapa namanya?”

“Agus.”

“Baiklah Pak Sulaiman. Untuk urusan ini, saya membutuhkan beberapa barang yang harus dipenuhi; rambut dan seonggok kotoran Pak Agus si pemimpin partai itu.”

Jabatan tangan dan segepok uang telah menandai kontrak penting itu, disaksikan oleh seekor gagak yang masih bertengger di atap rumah dan sepasang makhluk halus di atas beringin di sudut jauh sana.

****

Lamat-lamat dari gedung pusat kantor Bupati, sebuah pengumuman bergaung.

“….dengan demikian, berdasarkan perolehan suara, calon nomor 2 atas nama Pak Agus terpilih menjadi Bupati kita.”

Tidak bisa lagi tergambarkan betapa luar biasanya gemuruh tepukan tangan para pendukung. Mereka ini kebanyakan mengenakan atribut-atribut agama dan simbol-simbol eksklusif untuk menegaskan perbedaan mereka dari partai abal-abalan yang lain.

Pak Sulaiman mendekam dalam markasnya, terpekur melihat dunia runtuh di hadapannya. Ada rasa dikhianati dan kemarahan yang menggelegak dahsyat. Seketika ada dendam yang membeku di dalam dadanya. Percuma saja usahanya selama ini. Kekuatan ghaib tak mampu memenangi politik. Apa mungkin para roh halus yang dimintai bantuan malah menyerangnya balik? Barangkali Suhubudi salah merapalkan mantra?  Atau jumlah uang yang diberikan kurang banyak untuk mampu menyantet orang sekaliber Agus? Bisa jadi, apa mungkin dukun yang disewa Agus jauh lebih tangguh?

Semua pertanyaan ini menyeruak sekaligus dan susah dicerna dalam waktu bersamaan. Ia merasa bahwa si Agus pasti sekarang sedang menertawainya sebagai orang bodoh. Membayangkan tawa itu saja sudah membuat hati Sulaiman bergolak. Dendam sudah terlanjur menjadi batu dan tak bisa lagi mencair seperti sediakala. Di dalam hatinya, ia sudah memutuskan sebuah tindakan yang tidak akan ia sesali, tak juga di akhirat kelak.

****

Seminggu sebelumnya.

Setelah wajahnya basah kuyup akibat guyuran air kumuran, pria berjenggot itu menyodorkan berlembar-lembar uang kepada Suhubudi.

“Ini uang muka, sekedar pengantar awal saja Pak. Jika nanti hasilnya positif, maka akan ditambahkan sekian kali lipat. Akan ada juga bonus nanti,” ujar si pasien.

“Terimakasih atas kemurahannya. Saya pastikan, tahta itu akan jadi milik anda seorang. Saya ini sudah malang melintang di dunia perdukunan. Di kalangan para praktisi ilmu kebatinan, saya yang paling senior dan berpengalaman. Bapak tidak datang di orang yang salah.”

“Saya juga yakin itu pak.”

“Seminggu lalu, Pak Sulaiman juga ke sini. Minta jatah guna-guna untuk menumpas bapak dan partai.” Pria itu tidak terkejut sama sekali. Ia tahu dengan pasti bahwa setiap pejabat politik pasti akan selalu mengandalkan kekuatan magis dalam perebutan kekuasaan. Setelah Tuhan dirasa tidak terlalu meyakinkan untuk mengabulkan sebuah ambisi politik yang berapi-api, para pejabat mulai memohon pada kekuatan roh-roh yang lebih rendah dan daya-daya mitis yang lebih gelap.

Pria berjenggot itu juga tidak mempersalahkan Suhubudi karena hampir mengguna-gunainya. Ini hanya soal tuntutan uang siapa yang lebih banyak. Sebagai seorang dukun yang profesional, ia bekerja sesuai jumlah bayaran. Penawaran yang lebih tinggi akan dilayani sebagai prioritas. Bayaran yang ia berikan jelas di atas bayaran si Sulaiman dan di luar ekspektasi liar Suhubudi.

Mereka tertawa dan menghabiskan sore itu dengan seduhan kopi robusta asli dan sepiring pisang goreng yang masih panas mengepul.

****

Benda itu berkilat usai diasah kemarin. Bilahnya yang panjang dan berat bersandar di dekat kompor dekil di dalam dapur berdinding bambu itu. Istrinya sedang tidak ada di rumah. Diambilnya benda tersebut.

Di atas bilahnya terpantul seperempat wajahnya. Ia melihat matanya sendiri yang tak kalah mengkilatnya. Mata itu adalah mata penuh angkara murka, bagai sebuah rongga hitam yang merindukan pertumpahan darah. Sulaiman sudah memutuskan di dalam benaknya. Malam ini, parang ini tidak akan lagi memotong tubuh daging hewan atau ikan, melainkan tubuh seseorang.

Disarungkannya parang itu. Sulaiman mendatangi rumah di dalam hutan itu dengan parang di tangan dan dendam di dada.