“Ayo nyuci, calon istri salihah…
Sapu… sapu yang bersih… biar jadi istri idaman
Beresin barang-barangnya, kan mau jadi istri kesayangan
dan lain-lain… dan lain-lain…

Okelah, itu cuma contoh celetukan teman-teman di asrama yang notabene mahasiswi magister semua. Jenis ungkapan yang disampaikan di atas memang tidak secara khusus menuju satu individu spesifik atau siapa, lebih berupa ajakan buat teman lainnya di sekitar mereka.

Ya, kebetulan saya memang hidup dalam lingkungan ini, dalam lingkup komunal yang penuh kekeluargaan dan memiliki kepedulian antar sesama yang tinggi. Ungkapan-ungkapan di atas pun dilontarkan bukan dengan intonasi tinggi berupa perintah, namun seperti yang sebelumnya saya sampaikan, lebih kepada ajakan bahkan sebagai bentuk perhatian buat lainnya.

Lalu, apa masalah? Lebih pada konteks yang diberatkan pada satu titik. Bagi saya pribadi tentunya.

Sebagai perempuan, sebenarnya merupakan fitrah untuk menjaga keindahan dan kebersihan baik diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Ia memiliki kepekaan yang lebih tinggi dalam hal yang menyangkut ketidaksesuaian secara visual maupun sense lain karena memang itu telah terinstal dalam dirinya sadar atau tidak.

Kembali pada konteks celetukan teman-teman di atas, terkesan ada syarat tertentu untuk menjadi istri salihah, istri idaman, sampai istri kesayangan yang mana syarat-syarat itu justru segala kegiatan yang pada dasarnya bukanlah kewajiban mutlak seorang ‘istri’. Sampai di sini mungkin akan ada yang terheran dan bingung dengan apa yang saya sampaikan. Sejujurnya si penulis juga bingung bagaimana menuliskannya.

Kegiatan mencuci pakaian, menyapu lantai, dan pekerjaan rumah tangga lainnya merupakan kegiatan rutin yang perlu dilakukan pada suatu komunitas keluarga yang hidup sebagaimana mestinya, sesuai dengan kultur dan struktur masyarakat paling umum yang dapat kita temui. Pola seperti ini pasti muncul di benak kita saat ada yang mengatakan apa yang dilakukan seorang ibu di rumah. 

Kita telah terbiasa dengan bayangan majemuk yang hampir setiap orang memiliki persepsi serupa dalam mendeskripsikan hal tersebut. Nyatanya sebagian besar hal ini berlaku dalam masyarakat kita

Dalam keluarga saya pun, walau tidak semua dilakukan ibu saya sendiri –tentu saja, anak-anak beliau putri dan telah diadakan pembagian tugas untuk pekerjaan-pekerjaan domestik, namun pengontrolan kondisi rumah tetap dipegang oleh beliau. Asumsi umum ini tidak dapat dipungkiri dan telah menjadi bagian dari framework berpikir masyarakat.

Contohnya saja, kalau kita minta seorang anak untuk menggambar pemandangan, ia akan menggambar dua buah lengkungan; entah gunung atau bukit. Di tengahnya ada lengkungan yang lebih kecil, dapat diasumsikan sebagai matahari yang baru terbit dan kadang dihiasi mata dan lekuk senyum. Lalu ada hamparan sawah, sungai, saung, awan-awan berarak, seklise itulah gambar pemandangan bagi kita. 

Padahal, kalau kita lihat dalam photo bucket ataupun galeri foto di internet – bahkan kalender jenis pemandangan alam sangatlah beragam dan bisa jadi di luar dugaan kita saking eksotis dan indahnya penampakan tersebut. Ada jurang, kawah, air terjun, rawa, bahkan langit saja –tanpa objek darat lainnya telah bisa dikatakan sebagai gambar pemandangan yang kompleks.

Kembali pada bahasan awal. Jika untuk dianggap salihah seorang wanita yang telah menjadi istri harus rajin mencuci dulu, apakah jika ternyata pakaian tersebut dicucikan orang lain –anggaplah anaknya sendiri maka ia tidak bisa disebut sebagai istri yang salihah? Juga untuk pekerjaan-pekerjaan domestik lainnya yang secara umum dikerjakan oleh seorang istri atau ibu rumah tangga. 

Apakah sedemikian wajibnya hal itu dilakukan sendiri hingga bisa dijadikan parameter kesalehan dan kebaktian seorang perempuan? Bagaimana jika sang istri atau ibu memiliki sakit menahun yang tidak memungkinkannya untuk melakukan hal-hal tersebut? Apakah keistrian dan keibuannya menjadi gugur? Tidak juga. 

Lalu jika berkenaan dengan wanita yang bekerja dan memerlukan asisten rumah tangga dalam mengatur keperluan di rumah, apakah wanita ini dapat dibilang sebagai ibu yang tak becus? Tidak tentu.

Saya memiliki seorang bibi yang hebat. Beliau merupakan politisi dan pengusaha sukses tanpa mengabaikan keluarganya. Selain memiliki karier yang bagus, kehidupan keluarga beliau pun cukup bahagia. Apakah beliau mencuci pakaian keluarganya sendiri hingga menyapu lantai rumahnya yang amat luas itu sendiri? Iya, jika beliau di rumah. Kalau sedang dinas, pahamilah, tubuh manusia tidak bisa dibelah dua. Tetap asisten rumah tangga turut membantu.

Perempuan yang cerdas tidak akan membiarkan tempat tinggalnya tidak terurus secara komprehensif. Tanpa dipaksa bahkan tidak digaji pun ia akan melakukan yang terbaik demi keluarga yang dikasihinya. 

Tapi sungguh naif sekali jika menjadikan tugas-tugas yang tanpa disuruh pun seorang manajer dalam rumah tangga pasti akan mengusahakannya dengan sebaik-baiknya sebagai acuan untuk mengukur kesaeihan, kebaikan, dan keunggulan seorang wanita yang menjadi ibu dan istri dalam keluarga. 

Bagaimana jika keluarga itu tinggal di rumah yang beralas tanah, perlukah ia disapu setiap hari? Bayangkan jika semua anggota keluarga hanya memiliki satu potong pakaian di badan, bisakah sang ibu mencuci dan menyetrikanya untuk disimpan rapi di lemari? Kalaupun sebuah keluarga hanya memiliki gerobak sebagai tempat untuk bernaung dan mengangkut barang kepemilikannya, dibutuhkankah sang ibu untuk menata-nata barangnya berkali-kali? 

Pada kenyataannya, dunia nyata jauh lebih absurd dan di luar batas pikiran kita kalau sering jalan-jalan. Banyak hal yang tidak kita duga tapi ada di luar sana.

Beranjak dari ucapan-ucapan teman saya yang mungkin saat mengatakannya tanpa pikir panjang, saya malah terpikir hal-hal tidak penting seperti ini. Padahal cuma mau bilang, ya sudah, mumpung belum nikah suka-suka aja. Kan kewajiban saya sekarang adalah berbakti pada orangtua, dan sekarang saya diamanahi untuk menuntut ilmu. Maka saya harus belajar dengan benar. 

Tidak perlulah membebani diri sendiri dengan harus begini atau begitu untuk menjadi istri salihah. Kita tahu apa yang menjadi prioritas. Lagipula, semua ada waktunya.