Pembelajar
1 minggu lalu · 87 view · 4 min baca menit baca · Media 78639_27744.jpg
Ilustrasi: Molas Hombel

Paradoks Media Sosial

Berbicara media sosial, seolah tak pernah berhenti kita membicarakan perlakuan netizen yang dengan sesaknya menghujat sana-sini, berkomentar semau hati, walau dasar kebenarannya juga patut dipertanyakan.

Keberanian di era digital ini, jujur, sejatinya membuat prinsip keberanian pun kian berubah jika tidak kita sebut sempit. Keberanian turut menyempit mengikuti kecilnya layar smartphone itu sendiri.

Bisa juga sebaliknya, kecilnya layar smartphone justru membuat segenap netizen Indonesia malah membuat keberanian untuk mencemooh dan berkomentar semaunya itu tambah besar. Sebab, boleh jadi batang hidung aslinya yang tak tampak – wujud nyatanya tidak tampak, maka perasaan “berhak” kira-kira menjadi satu pilihan, sebuah paradoks keberanian.

Melihat fenomena demikian, saya teringat Buku Subversif karangan Faiza Mardzoeki. Buku menarik – yang merupakan adaptasi dari naskah drama Henrik Ibsen berjudul An Enemy of the People, mementaskan drama agung sisi manusia dalam kemanusiaan, mencakup kebenaran, moralitas juga keberanian.

Bahwa kehendak umum tidak melulu soal putihnya kebenaran meskipun disuguhkan dengan data yang gamblang soal kebenaran itu sendiri. 

Begitulah kisah Torangga yang merupakan lakon protagonisme dalam drama ini. Ia adalah Dokter di Kota yang bernama Tambang Kencana, di mana wilayah itu memiliki satu perusahaan tambang besar yang merupakan satu-satunya penghidupan masyarakat Kota. 

Sebagai dokter, Torangga mengetahui bahwa limbah dari perusahaan besar tersebut mencemari air yang dikonsumsi warga. Bukan asal, Torangga mengetahui kebenaran itu didasarkan pada hasil penelitian ilmiah.

Belakangan, diketahui juga bahwa pendirian perusahaan tambang besar tersebut tidak melakukan syarat-syarat penanganan sebuah pabrik tambang, apa yang mereka dulu janjikan untuk memulai mengebor kekayaan di Kota ini, bahwa mereka akan membuat dan mengolah air limbah, ternyata omong kosong! Sekarang air limbah itu merembas ke pipa warga, merembas ke pantai bahkan sampai pada tumbuh-tumbuhan. Begitulah ujar Torangga.

Beberapa hari kemudian, Torangga memberanikan diri untuk melaksanakan suatu rapat dengan warga kota untuk membicarakan persoalan air limbah yang dihasilkan perusahaan tambang. Ternyata apa yang didapat Torangga dan keluarganya dari hasil rapat, yakni, selain cemoohan langsung, teriakan masa yang kala itu berkumpul, tuduhan makar sampai tindakan subversif.


Pada akhirnya Torangga diusir karena menolak kehendak umum dan membawa kaki serta keluarganya sendiri berjalan keluar dari kampung halaman, di samping kebenaran dan idealismenya.

Hubungan menarik dari naskah tersebut dengan apa yang kita bicarakan di awal tentang media sosial adalah konteks.

Begini. Pertama, yang mesti ditengahkan dari kedua hubungan tersebut adalah apa yang kelak kita sebut sebagai eigenrichting dalam bahasa Belanda, yang berarti main hakim sendiri.

Pada naskah drama, diketahui bahwa Dr. Torangga dan keluarga mendapat kecaman, cemoohan langsung ketika rapat, dan bahkan lemparan bebatuan dari para warga, yang sejatinya tidak terima dengan anggapan Dr. Torangga.

Kenyataan bahwa air limbah merupakan air yang tercemar tidak diterima oleh para warga. Padahal bukti ilmiahnya sudah ada, di samping Torangga juga merupakan dokter yang tentu tahu betul kesehatan air itu.

Di era sekarang, hal sama juga tampak dalam fenomena media sosial. Tatkala netizen-netizen kita berperilaku layaknya hakim, yang seenaknya berkomentar, mencibir satu dengan yang lain, bertindak sesuka hati atas nama kebebasan.

Hal kedua yang perlu ditengahkan dari kedua fenomena di atas adalah pemaknaan terhadap main hakim itu sendiri.

Contohnya, jika di era sebelum media sosial menjamur sebagaimana pada kisah Dr. Torangga, kita lihat fenomena keroyokan di mana warga dengan cemoohannya langsung dan lemparan batunya diakui secara sadar oleh kita sebagai kekerasan.

Namun sebaliknya, hal tersebut justru tidak terjadi dalam fenomena cemoohan media sosial. Meski jiwa zaman berubah (zeitgeist), keroyok juga bisa tampak dalam jempol massal pengguna media sosial terhadap para pengguna yang lain.

Anehnya, kwroyokan jempol ini tidak dibenarkan sebagai tindakan barbar, karena tidak ada kekerasan fisik berupa tonjokan pipi, hidung, dan lemparan batu misalnya. Bukankah esensinya sama saja kekerasan? 

Kekerasan apa pun bentuk dan bagaimana pun caranya juga merupakan suatu kekerasan. Alhasil, ia mesti kita tolak sebagai kekerasan, termasuk kekerasan verbal – teks, nyata ataupun virtual dalam wujud iblis bernama media sosial itu.

Pertanyaanya, mengapa kita merasa “berhak”? Mengapa kesenangan kita untuk mencibir, mencemooh satu dengan yang lain di media sosial sulit dihentikan?


Sulit memang menjawabnya, sebab perlu pemetaan dan perumusan yang memadai dari semua pihak terkait. Tapi izinkan saya membayangkan begini,

Bagaimanapun, user media sosial adalah manusia. Manusia sendiri merupakan dirinya dalam dua wajah, satu identitas lainnya personalitas.

Sebagai identitas, manusia merupakan hasil peradaban, menampilkan persona dirinya dalam produk kebudayaan di mana ia membumi. Ia bergerak dalam kesementaraan, berjibaku dengan segala perubahan layaknya gerak kebudayaan – dari primitif-modern – dari muncul-berkembang-ketinggian-kemunduran-kematian. 

Singkat kata, sebagai identitas, manusia adalah kita yang sekarang.

Pada sisi yang lain, sebagai personalitas, manusia adalah bagian dari keadimanusiaan di mana ia berasal; dari langit. Pada pemahaman ini, manusia diam dalam keabadian dan keutuhan komprehensif yang abadi. Suatu bentuk akhir totalitas keadimanusiaan itu sendiri.

Dengan demikian, maka “aku” hanyalah yang secara kebetulan beridentitas Dadi Setiadi, dalam hal ini manusia pengguna media sosial Facebook, Twitter, Instagram, selesai!

Lalu bagaimana dengan kepersonalitasan yang secara kebetulan beridentitas Dadi Setiadi ini?

15 abad silam, di Baghdad, sekarang barangkali Irak, sekelompok pemikir filsafat Islam yang menamakan diri sebagai Ikhwan As-shafa mengatakan soal “emanasi”. 

Manusia menurut mereka adalah emanasi, yakni merupakan pelimpahan zat cahaya murni dan utama. Ia adalah Tuhan; makrokosmos, kekuatan semesta yang Maha Besar. Sementara manusia adalah entitas kecil dari akhir pelimpahan cahaya yang adiluhur itu, manusia adalah mikrokosmos.

Maka sekarang, manusia bukan lagi persona-identitas apalagi personalitas. Manusia sekarang mesti sebagai resonansi, ia harus menyoal tentang dirinya sendiri yang merupakan pancaran akhir dari pelimpahan zat cahaya Tuhan tentang keadimanusiaanya.

Terus berdengung atau hilang sama sekali? Ke mana hendak kau berpaling dari keadaan ini?

Menjaga marwahnya Tuhan yang penuh dengan kebaikan, keharmonisan atau membiarkannya barangkali membiakannya dalam jagat kubangan bernama media sosial itu? Jagat yang penuh sesak akan speech speech kebohongan dan kemunafikan.

Artikel Terkait