“My soul can find no staircase to Heaven unless it be through Earth’s loveliness” – Michelangelo (1475-1564)

Mencintai bumi, sebuah topik yang sekarang ini sangat giat dikampanyekan di seluruh dunia. Perubahan iklim yang kian memburuk menjadikan isu lingkungan sebagai topik teratas selama beberapa dekade. 

Kini, berbagai macam hal yang dilabeli kata eco telah menjamur. Berbagai aksi lingkungan dalam skala regional maupun internasional pun sudah tak terhitung banyaknya. Sayangnya, semua itu mulai dilancarkan setelah manusia menyadari bahwa bumi tak akan bertahan lebih lama lagi untuk anak-cucu mereka.

Disadari atau tidak, usaha manusia untuk melestarikan lingkungan selalu diiringi dengan timbulnya paradoks, sekelompok pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi. 

Memang sesuatu yang tercipta memiliki lawannya masing-masing. Terang memiliki gelap, cahaya memiliki bayangan, dan pertanyaan memiliki jawaban. Namun paradoks tidak semudah itu, tetapi juga tidak sesulit yang terlihat. Tidak mudah namun tidak sulit, paradoksal bukan? Mari kita menoleh ke belakang sebentar.

Tahun lalu kita diramaikan dengan viral-nya spanduk imbauan bertuliskan “Sayangi pohon perindang, jangan dipaku dan dipasang spanduk” yang justru dipaku pada salah satu pohon di Bandung. Tak lama, banyak yang menilai imbauan tersebut tidak mencerminkan pesan yang tertulis di spanduk, sebuah paradoks pun tercipta.

Tree spiking adalah sebutan bagi setiap tindakan memasukkan batang logam, paku, dan sejenisnya ke dalam batang pohon. Selain merusak kulit kayu dan struktur pohon, kekuatan kayu pun akan berkurang karena pohon mudah terinfeksi penyakit melalui titik masuknya paku. 

Pohon yang telah mengalami tree spiking sangat mudah tumbang sehingga mempercepat kematian pohon. Karena itu, kegiatan memaku pohon termasuk ke dalam kejahatan lingkungan.

Jika kita menyayangi pohon, kita tidak memaku pohon. Jika kita memaku pohon, maka kita tidak menyayangi pohon. Namun kembali ke pernyataan pertama, kita menyayangi pohon. Cukup paradoksal bukan? Itu adalah salah satu kisah masa lalu. Mari kita kembali menatap permasalahan kita di masa kini.

Premis Seputar Kertas dan Plastik

Kertas adalah sebuah penemuan yang amat berarti bagi peradaban manusia. Selama berabad-abad kertas digunakan sebagai media komunikasi dan telah menjadi penggerak roda ekonomi beberapa negara, termasuk Indonesia. Seiring kemunculan teknologi digital, peran kertas pun mengalami diversifikasi.

Daripada menganggap fungsi kertas mengalami penurunan lalu tergantikan, penulis cenderung beropini bahwa kertas telah bergeser memasuki kehidupan manusia yang sesungguhnya, dari media komunikasi menuju kebutuhan sehari-hari. Karenanya, kehidupan manusia senantiasa tak lepas dari kertas.

Kini kebutuhan manusia adalah seputar kertas dan plastik. Menjadi kebutuhan sehari-hari membuat mereka selalu dibandingkan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, dan kertas hampir selalu memenangkannya.

Biaya produksi plastik per tahun sebesar 12 juta barel minyak atau 8% dari produksi minyak dunia, setara dengan 14 juta pohon. Itu adalah angka yang besar untuk penggunaan sumber daya tak terbarukan. 

Sifat plastik yang non-biodegredable juga membuatnya sampai dilarang keras untuk digunakan di beberapa wilayah, membuat orang-orang sedikit demi sedikit mulai memerhatikan pola hidupnya dan melahirkan berbagai gagasan menjauhi plastik, ‘Zero Waste Living’ adalah contohnya.

Plastik dan pencemaran laut kini dianggap tak terpisahkan. Masalahnya, sebuah estimasi menyatakan bahwa 8 juta ton sampah plastik terbuang ke laut setiap tahun, membunuh hewan dan mengganggu rantai makanan. Seluruh spesies penyu laut dan lebih dari setengah mamalia laut dan burung laut terganggu, baik karena terjerat maupun menelan serpihan plastik. Ini menyebabkan 1,1 juta kematian hewan per tahun.

Sampah plastik di laut juga berdampak buruk bagi manusia. Plastik mengandung bahan berbahaya, seperti phthalates, flame retardants, bisphenol-A (BPA), pestisida, poliklorin bifenil (PCB), dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Sederet zat itu mengandung racun yang berpotensi membangkitkan sel kanker. Racun mikroplastik tersebut sering tertelan ikan yang akhirnya dimakan manusia.

Dengan semua permasalahan yang ditimbulkan oleh plastik, wajar jika kertas diklaim jauh lebih baik daripada plastik. Kertas memanglah sebuah penemuan yang cemerlang dengan segala sisi positifnya, namun jangan sampai Anda langsung mengklaim bahwa plastik adalah sesuatu yang jahat lalu mulai mengagung-agungkan kertas. Premis mungkin mudah dibentuk, namun akan sulit dipecahkan jika telah membentuk paradoks.

Kertas, benda yang multifungsi dalam komunikasi maupun pemenuhan kebutuhan sehari-hari, dapat dengan mudah terurai oleh alam maupun didaur ulang. Semua deskripsi tersebut terlihat amat baik jika dibandingkan dengan sifat-sifat plastik. Namun, realitanya adalah penggunaan kertas yang terlalu multifungsi menimbulkan banyak kerugian. Lagi-lagi sebuah paradoks terbentuk antara premis amat baik dan merugikan.

Beberapa orang berpikir, “Jika ada kertas yang mudah terurai, mengapa harus menggunakan plastik untuk kebutuhan sehari-hari?” Lalu mereka mulai menggantungkan diri pada kertas dan menjauhi plastik. Jika Anda termasuk ke dalam beberapa orang tersebut atau setidaknya setuju dengan pendapat tersebut, Anda mungkin telah meremehkan plastik.

Dahulu, plastik hadir sebagai pengganti kayu, kaca dan logam selama masa kesulitan Perang Dunia I dan II. Setelah Perang Dunia II, plastik diaplikasikan lebih luas dan berada dalam jangkauan setiap orang karena murah. Bahkan, kini plastik tak terhindar karena terdapat barang-barang elektronik pabrikan atau elemen-elemen kecil yang diproduksi hanya menggunakan plastik.

“Tidak ada yang bisa menjawab ketika ditanya apa alternatif ramah lingkungan pengganti plastik,” kata pakar material dan industri Syed Ammal Engineering College, P. Marimuthu. Pernyataan ini membuktikan betapa besar peran dan kualitas plastik sehingga belum dapat tergantikan.

Ada yang berusaha menggantikan plastik dengan kertas dengan dasar pemikiran ‘kertas lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik’. Padahal, menurut studi yang dipublikasi di jurnal Packaging Technology and Science pada 2010, proses produksi plastik menghasilkan polusi udara dan air yang lebih sedikit dibandingkan kertas.

Produksi kertas dari serat pohon menghabiskan setiap batang pohon berusia 5 tahun dan 2700 liter air untuk hanya 16 rim kertas A4 atau setara dengan 8000 kertas dan menghasilkan limbah CO2 sekitar 2,6 ton, limbah cair sekitar 72.200 liter, dan limbah padat sekitar 1 ton untuk setiap 1 ton produksi kertas baru. Belum lagi, daur ulang kertas memerlukan campuran serat baru sekitar 30%.

Penggunaan kertas sebagai kemasan makanan pun tak dapat diklaim aman dengan mudahnya. Riset yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuktikan bahwa kandungan mikroorganisme di kertas daur ulang memiliki nilai tertinggi dibandingkan jenis kertas lainnya dan melewati batas yang diperbolehkan untuk kemasan makanan.

Selain itu, kertas daur ulang, termasuk kertas nasi yang berwarna cokelat tidak dapat digunakan sebagai kemasan makanan karena mengandung bisphenol-A (BPA) yang sangat berbahaya bagi kesehatan. 

BPA kerap dipakai pada bahan plastik, namun dapat ditemukan pada beberapa produk kertas seperti koran, tisu, struk belanja, hingga kertas tiket yang menyebabkan produk kertas tersebut tidak aman digunakan sebagai kemasan makanan. BPA berdampak negatif terhadap tubuh dan dapat memicu penyakit seperti kanker, kerusakan hati dan kelenjar getah bening, mengganggu sistem endokrin, gangguan reproduksi, meningkatkan risiko asma, dan mutasi gen.

Kemasan makanan berbahan dasar kertas non daur ulang diangap menjadi solusi yang tepat untuk mengurangi ketergantungan penggunaan kemasan daur ulang dan styrofoam. Di luar negeri, hal ini sudah dijadikan sebagai tren.

Produksi kertas membutuhkan energi yang lebih besar daripada produksi plastik. Jika kertas sekali pakai diambil sebagai solusi untuk mengatasi plastik sekali pakai, maka lingkungan akan menanggung kerugian yang lebih besar demi keamanan dan kebutuhan manusia semata. Di sini kita telah melihat paradoks kebutuhan manusia dan lingkungan.

Kertas dari Plastik

Di tengah pemikiran kita tentang paradoks kertas dan plastik, juga kebutuhan manusia, mari kita mundur sebentar dan melihat jalan lain. Pada awal tahun 2015, Meksiko berhasil menghasilkan penemuan yang akan membuat kita ragu akan paradoks-paradoks tersebut, apakah hubungan antara kertas dan plastik benar-benar paradoksal? Apakah kebutuhan manusia dan lingkungan adalah sebuah paradoks?

Cronology’, sebuah industri di Meksiko, telah berhasil merancang botol plastik bekas atau Polyethylene Therepthalate (PET) menjadi kertas mineral yang lebih kuat dari standar. Kertas ini dibuat dari botol plastik daur ulang, kalsium karbonat, dan batu.

Kertas mineral ‘Cronology’ patut dipertimbangkan sebagai salah satu rute terbaik untuk mengatasi segunung permasalahan tentang kertas dan plastik. Belum ada bahan yang lebih baik untuk menggantikan plastik dan kita tetap membutuhkan kertas. Di tengah itu, kita kemudian ditawarkan sebuah jawaban dengan mengubah limbah plastik tersebut menjadi kertas.

Walaupun terbuat dari limbah plastik, kertas mineral ini telah memenuhi standar kualitas yang diperlukan untuk mencetak buku dan alat tulis umum. Biaya produksinya pun 15% lebih murah dari produksi kertas berbahan serat pohon karena tidak membutuhkan air dan bahan kimia seperti klorin. 

Ever Adrian Nava, pendiri Cronology mengklaim bahwa mereka telah menghemat hingga 20 pohon dan 56.000 liter air dalam sekali produksi. Lalu setelah 6 bulan, kertas tersebut akan terurai secara alami.

Gagasan demi mengurangi deforestasi ini disambut dengan respons positif oleh banyak negara. Kini kertas mineral telah dipasarkan besar-besaran, baik secara langsung ataupun melalui toko online. Kertas ini mungkin dapat mendukung kebutuhan kertas yang terus meningkat tanpa mengorbankan lebih banyak lagi pohon sebagai bahan dasar pulp. 

Bahkan pada tahun 2017, kertas mineral telah teruji non-toksik sebagai kemasan makanan dengan sertifikat dari FDA (Food and Drug Administration) dan telah digunakan oleh sekitar 40 negara sebagai kemasan makanan ramah lingkungan.

Lalu apa tujuan penulis membawa pembaca bagaikan melalui rute memutar? Entahlah, dengan tetap menghargai kehidupan yang serba cepat ini, penulis hanya ingin menegaskan satu hal: Di dunia ini tidak ada kebenaran mutlak. Semua hal adalah relatif, yang berarti berpusat pada sebuah pandangan. Apa yang kita pikirkan belum tentu sepenuhnya benar dan apa yang terlihat bertentangan belum tentu demikian adanya.

Menghidupi perilaku paperless dengan berhenti menggunakan kertas belum tentu mengatasi penurunan jumlah pohon. Menghentikan penggunaan plastik belum tentu mengatasi pencemaran pada laut Mengubah plastik menjadi kertas pun barangkali belum cukup untuk mengembalikan kelestarian lingkungan seperti sediakala.

Lalu, apakah membaca tulisan ini hanya sia-sia belaka? Tidak. Yang penulis tahu, selama selalu ada manusia yang berusaha menguraikan hubungan antara lingkungan dan kebutuhan manusia yang paradoksal ini, maka akan ada perubahan yang berarti di masa depan. Karena dengan berpikir, manusia akan menumbuhkan tekad di dalam hatinya, dan dari hatilah terpancar kehidupan.