Pak Paijo dan keluarga berniat pindah dari kota asal keluar pulau yang lebih ramah lingkungan. Ia, keluarga dan beberapa keluarga lainnya akan bedol kota karena jenuh dengan riuh-rendah kota saat ini menuju sebuah lokasi yang lebih tenang, nyaman, dan guyub. Mereka menganggap kota yang didiami sekarang hanyalah sebagai kota sementara saja.

Motivasi Paijo dan kawan kawan semakin membesar ketika berbagai media memberitakan adanya tempat hunian yang lebih menjanjikan, akses mudah, kawasan hijau, bebas banjir, dan masih langka penduduk. Meskipun diantara mereka ada yang lebih memilih kembali ke kampung halaman, namun yang pasti keputusan mereka untuk segera hengkang dari kota tersebut semakin bulat. Opini lainnya di tempat baru ingin mencari suasana baru.

Paijo masih berharap mendapat pekerjaan sesuai di tempat baru kelak, meskipun harapan tersebut masih sebatas harapan. Beberapa kepala keluarga tetap menggantungkan pekerjaan di kota meskipun menempuh puluhan kilometer dari tempat baru nanti. Berbagai harapan di tempat baru rata-rata beralasan keluar sama yaitu mereka ingin meninggalkan buruknya pengelolaan lingkungan sosial di kota tersebut.

Paijo, hanyalah kurban dari ketidakteraturan pengelolaan kota meskipun di tempat baru nanti tidak ada jaminan kenyamanan oleh sesuatu yang masih perlu waktu untuk diperjuangkan. Proses adaptasi Paijo dkk terhadap kondisi eksternal juga perlu diimbangi adaptasi internal seperti mencari pekerjaan, dan pastinya kondisi seperti ini tidak mudah.

Para Pemimpin Daerah memiliki karakteristik permasalahan lingkungan sosial berbeda-beda. Daerah tertentu mungkin memiliki masalah dalam desain kotanya sehingga berdampak pada kemacetan lalu-lintas, sementara lainnya memiliki pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali. Selebihnya, sangat mungkin gabungan permasalahan di atas terakumulasi di satu daerah, meskipun kondisi tersebut disebabkan oleh kebijakan pusat yang tidak dapat dihindari oleh daerah tersebut.

Paijo berada dalam kondisi dilematis memilih diantara dua lokasi yang keduanya tidak bisa menjamin kehidupannya. Pertama, Paijo dihadapkan pada kerumitan kota meskipun telah bertahun-tahun menetap, dan kedua, ia tetap berjuang dalam ketidakpastian. Paijo tahu bahwa sebuah kekekalan adalah perubahan, tapi kekhawatirannya justru harga yang harus dibayar untuk berubah mengganggu stabilitas perekonomian keluarga.

Kota tersebut sebenarnya terus berbenah agar dapat segera keluar dari keterpurukan, Pemimpin Daerah berupaya sekuat tenaga agar warganya bahagia. Berbagai fasilitas transportasi umum disempurnakan agar warganya bisa hidup dengan nyaman. Sebelum pindah, sebagian tetangganya yang masih bertahan mengingatkan Paijo untuk mengurungkan niat kepindahan karena tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah baru.

Era konsumtif mendorong masyarakat berbelanja barang, keberadaan kota tidak bisa disamakan dengan barang yang habis pakai. Mereka suka membuang barang agar bisa membeli barang baru, ujung-ujungnya kualitas barang dibuat tidak tahan supaya habis terbuang setelah dipakai sebentar. Kebiasaan melekat masyarakat ini tidak bisa diterapkan dalam pengelolaan perkotaan karena perkotaan harus dipergunakan selamanya.

Alih-alih mempertahankan eksistensi sebuah kota, namun justru fungsi kota tersebut dialihkan ke kota lainnya. Dengan dalih kota tersebut lebih siap dibanding kota sebelumnya yang sudah ketinggalan jaman. Infrastruktur buruk, angkutan massal kotor, hanya mengandalkan sumber energi tidak terbarukan, dan penggunaan kendaraan pribadi, adalah penilaian yang dihukumkan pada ibu kota Jakarta.

Saatnya membahagiakan Paijo dan kawan-kawan sebelum mereka pindah ke kota lain. Paijo dan generasi-generasi berikutnya berhak mendapatkan kenyamanan bertempat tinggal sampai kapan pun. Setelah fasilitas sosial-ekonomi terpenuhi, masyarakat dapat menentukan caranya sendiri untuk bertahan hidup.

Pertumbuhan penduduk berlangsung cepat, maka dibutuhkan pembangunan berkelanjutan. Pembangunan adalah mempertemukan kebutuhan sekarang tanpa mengganggu kepentingan generasi mendatang dalam pemenuhan kebutuhannya. Pembangunan berkelanjutan membutuhkan kepiawaian pemimpin dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk.

Pembangunan perkotaan yang ada dapat ditingkatkan terus-menerus agar dapat dihuni warganya dalam jangka waktu yang panjang. Sarana transportasi yang baik diharapkan dapat mengurai pergerakan masyarakat lebih merata didukung pengolahan limbah secara efektif. Penggunaan sumber daya terukur menuju kualitas hidup serta ketahanan kota.

Partisipasi dan kontribusi Paijo selaku warga masyarakat sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan permasalahan sosial-ekonomi sebuah kawasan. Pengelolaan sampah melalui pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan dapat dilakukan. Tinggal sejauh mana komitmen Pemerintah dalam menyajikan berbagai fasilitas dan regulasi yang dibutuhkan dalam menyediakan sarana pemilahan hingga pengolahan sampah secara memadai.

Komitmen juga diperlukan dalam pembangunan tata kota secara berkelanjutan. Investasi, pengembangan transportasi publik, penciptaan ruang hijau, serta perencanaan dan pengelolaan kota yang inklusif dan partisipatif. Pembangunan infrastruktur berbasis transportasi perlu didorong untuk meningkatkan aksesibilitas dan transportasi publik.

Masyarakat melihat, membentuk ibu kota baru adalah manfaat tapi fokus menyelesaikan segala kerumitan ibu kota yang ada jauh lebih bermanfaat. Dengan melakukan pembiaran, sama halnya melakukan pengabaian terhadap nasib Paijo dan kawan-kawan, dan pastinya menggerus anggaran belanja nasional. 

Paijo dan masyarakat telah hidup di kota tersebut berpuluh tahun silam, mereka masih dapat dikembalikan untuk bertahan di kota tersebut untuk melanjutkan penghidupannya.

Sebelum penutup, kita berharap tidak ada lagi kisah kelu paijo-paijo yang berharap keadilan dari sebuah kota yang nyaris habis pakai karena sibuk menyiapkan pendatang baru. Ibu kota baru memang menarik karena berlokasi di provinsi yang memiliki hutan tropis dengan sumber daya alam melimpah. 

Tapi, sadarkah kita bahwa Negara-negara lain kesulitan mempersiapkan perubahan iklim karena tidak memiliki hutan tropis serta sumber daya alam seperti kita.

Wahyu Agung Prihartanto, Penulis dari Sidoarjo