Penikmat kopi
2 bulan lalu · 119 view · 3 min baca · Agama 13992_49694.jpg
Tribun

Paradoks Hari Kemenangan

Idul Fitri baru saja usai, meski suasananya masih terasa. 

Sebelumnya umat Islam baru saja melaksanakan ibadah puasa selama sebulan. Ramadan yang bertujuan menghadirkan manusia bertakwa faktanya paradoks ketika kita saksikan sampah koran bekas. 

Laporan beberapa media menyebutkan, di beberapa tempat pelaksanaan salat Idulfitri, seusai salat, sampah koran bekas berserakan. Misalnya di halaman Kantor Gubernur Sumatra Barat (Tribunpadang).

Sungguh pemandangan yang tidak elok, bentuk pemborosan yang tentu tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Padahal koran-koran tersebut bisa didaur-ulang. 

Anehnya, persoalan sampah koran bekas selalu terjadi setiap tahun. Sepertinya upaya edukasi kepada pengguna tidak pernah dilakukan. Sebuah prilaku yang sangat paradoks dengan hari kemenangan. 

Menurut informasi, para pengguna membeli koran bekas seharga Rp1.000 per lembar. Sampah koran bekas yang mudah tertiup angin tersebut harusnya menjadi tanggung jawab pengguna. 

Pihak penyelenggara, dalam ini panitia salat Idulfitri, sebaiknya memberikan pengumuman sebagai pengingat kepada jemaah. Misalnya, jemaah wajib membawa wadah atau membawa pulang koran bekas. Jika tidak, maka jemaah bisa pula diarahkan ke mana harus membuang sampah koran bekas.

Kepedulian lingkungan menjadi poin penting dalam merayakan kemenangan. Islam sangat peduli terhadap kebersihan lingkungan. 


Misalnya, sebuah hadis yang artinya: Sesungguhnya Allah itu Mahabaik yang mencintai kebaikan, Mahabersih yang mencintai kebersihan. Oleh sebab itu, bersihkanlah halaman-halaman rumah kamu dan jangan menyerupai Yahudi. (HR Tirmidzi dan Abu Ya'la).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 2014 mengeluarkan fatwa tentang pengelolaan sampah untuk mencegah kerusakan lingkungan dengan nomor 47 tahun 2014. 

Diterangkan dalam fatwa pertama bahwa setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan dan memanfaatkan barang-barang untuk kemaslahatan dan menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tabdzir (menyia-nyiakan harta yang masih bisa dimanfaatkan) dan israf (berlebih-lebihan dalam menggunakan sesuatu).

Fatwa kedua bahwa membuang sampah sembarangan dan atau membuang barang yang masih bisa dimanfaatkan untuk kepentingan diri maupun orang lain hukumnya haram. Sayangnya, fatwa yang begini jarang dipopulerkan sehingga jarang diketahui umat. 

Harusnya fatwa ini disosialisasikan, terutama jelang pelaksanaan salat Idulfitri agar umat tidak membuang koran bekas sembarangan. Fatwa ini juga tak banyak dibela sebagaimana fatwa ulama terkait Ahok pada saat itu.

Paradoks hari kemenangan dengan melakukan yang diharamkan berdasarkan fatwa ulama terjadi setiap tahun. Bagaimana mungkin menjadi hamba bertakwa sementara kita melakukan yang haram di hari kemenangan?

Barangkali kita menganggap sepele hal itu, ternyata perilaku itu bertentangan dengan ajaran Islam bahkan sudah difatwakan haram sejak 2014. Tentu saja pihak penyelenggara juga bersalah karena tidak menyosialisasikan fatwa tersebut.

Buktinya, masih banyak tempat pelaksanaan salat Idulfitri yang menyisakan sampah koran-koran bekas. Bahkan koran-koran bekas tersebut bertebaran ke parit-parit tempat aliran air. Tentu saja hal itu bisa mengganggu aliran air. 

Ini fenomena yang harusnya tidak boleh berulang kali terjadi, apalagi baru saja melakukan ibadah. Bahkan bukan tidak mungkin salah satu tema khotbah mengenai kebersihan. Tapi setelah khotbah selesai, langsung terjadi pelanggaran. 

Bagaimanapun, fatwa ulama yang dikeluarkan MUI semua selevel. Tidak ada fatwa yang lebih hebat atau lebih rendah.


Fatwa MUI terkait membuang sampah sembarangan sama pentingnya dengan fatwa-fatwa lain. Anehnya, kita lebih senang meributkan fatwa yang melibatkan agama lain ketimbang fatwa yang terkait seluruh manusia bahkan lingkungan. Paradoks ini tak boleh terulang, minimal pada pelaksanaan salat Iduladha. 

Tahun depan, tidak boleh lagi sampah koran-koran bekas bertebaran di lapangan maupun di sekitar masjid. Saya berharap pengurus masjid maupun media ikut berperan menyadarkan masyarakat terkait fatwa MUI tersebut. Larangan membuang sampah sembarangan harus dipertegas sebagaimana tegasnya terhadap ucapan Ahok. 

Selain itu, koran-koran bekas masih bermanfaat sehingga tak elok dibuang sembarangan. Para pengurus masjid atau pelaksana salat Idulfitri dapat memanfaatkan koran-koran bekas tersebut. Setidaknya, tempat sampah disediakan sembari menyosialisasikan fatwa haramnya buang sampah sembarangan.

Menjaga lingkungan bukan hanya sekadar membuat lingkungan terasa nyaman, namun itu juga bagian dari menjalankan perintah Allah Swt. 

Bagi yang melakukannya, maka akan mendapat pahala; namun bagi yang tidak mengindahkan perintahNya, maka murka Allah Swt akan didapat, apalagi Dia telah melarang hambaNya untuk membuat kerusakan di muka bumi.

Gerakan TSP (Tahan, Simpan, Pungut) harus dimulai pada hari kemenangan. Tahan maksudnya tidak membuang sampah sembarangan. Simpan maksudnya ketika dalam perjalanan atau belum menemukan tempat sampah. Dan pungut maksudnya apabila menemukan sampah pungut dan buang ke tempatnya.

Jangan lagi mencampuradukkan antara yang hak dan batil. Buanglah sampah pada tempatnya bila tak mau mendaur ulang. Namun bila mampu mendaur ulangnya, tentu lebih baik lagi. Jangan bersih hati namun lingkungan kotor, itu paradoks.

Artikel Terkait