Peradaban sebagai bagian integral kebudayaan lahir dalam konteks yang senantiasa relevan dengan masyarakat sebagai penggagasnya. Peradaban itu berjalan sama tuanya dengan usia manusia. Ia dibentuk dalam pola perilaku dan interaksi yang majemuk, tumbuh dan runtuh dalam dinamika kemasyarakatan. Peradaban selalu diasumsikan sebagai bentuk konkret kecerdasan manusia. Ide yang ternyatakan dalam materi dikategorikan peradaban.

Agama, suatu institusi yang dibentuk manusia melalui legitimasi Yang Ilahi adalah produk kebudayaan yang sangat mendasar. Ia lahir karena adanya ketakmampuan manusia menyingkap sejumlah misteri dunia, tetapi juga dikehendaki oleh Si Empunya Dunia. Setiap peradaban memiliki pandangan tersendiri tentang entitas yang dipandang sebagai Yang Tertinggi, Yang Menyebabkan tetapi tidak Disebabkan, dan segala predikat transendental lainnya.

Di samping agama, perkembangan peradaban melahirkan sejumlah kompleksitas pemikiran yang tidak selalu rukun dengan dogma keagamaan. Kemajuan ilmu pengetahuan yang berbasis rasionalisme dan empirisisme pada gilirannya mengerdilkan cara pandang manusia terhadap agama, sehingga justifikasi kritis terhadap pengetahuan tidak memasukkan institusi termaksud dalam objek analisanya.

Layaknya dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, dikotomi masyarakat yang pro-agama dan pro-rasionalisme dan empirisisme melahirkan konflik tak berkesudahan. Agama dan intelegensia berbasis paradigma filosofis lahir dari rahim peradaban, kadang damai, kadang berkonflik, dan secara paradoksal, keduanya berdamai sekaligus berkonflik. Beberapa pemikir kegamaan cum sains berupaya mendamaikan keduanya, namun jalan itu kadung putus akibat sifat paradoksnya.

Paradoks sebagai Basis Pengetahuan

Paradoks, dalam definisnya menjelaskan “ke-dua-an sifat dalam ke-satu-an entitas.” Ia menjelma menjadi akar pemikiran epistemologis dan ontologis, serta dipertegas oleh aksiologi. Paradoks adalah kedalaman pengetahuan yang secara aktif sulit dipahami secara komprehensif. Ia terlampau sukar dimengerti namun senantiasa menyatu dalam individu yang memikirkannya. Ia transenden sekaligus relevan.

Paradoks selalu berada dalam sejumlah konteks, a) Paradoks selalu tampil dan mendefinisikan dirinya sendiri dalam suatu hakikat; b) Paradoks bersifat semu. Ia bagaikan dua hal, namun nyatanya ia ada dalam sebuah ketunggalan yang hakiki; c) Paradoks memperkaya pengalaman dan rasionalitas manusia, namun ia pun tak luput dari objek pengalaman dan analisa rasion manusia dan; d) Paradoks, secara filosofis merupakan bagian dari desisi, tetapi desisi pun merupakan bagian dari paradoks.

Membedah Konflik Agama dan Sains melalui Pisau Analisa Paradoks

Perjalanan historis lembaga keagamaan secara umum menggambarkan kecenderungan yang sama, bahwa akar permusuhan potensial disulut oleh sentimen tertentu terhadap latar belakang religiositas. Kelompok-kelompok radikal dengan lantang menyerukan ilmu pengetahuan yang bersumber dari pandangan material adalah haram dan kafir.

Azyumardi Azra dalam tulisannya “Reintegration of Sciences in Islam,” dalam buku “on Islamic Civilization” mengetengahkan sejumlah tokoh Islam seperti Abu al-A’la al-Mawdudi, Sayyid Ahmad Khan, dan Jamal al-Din al-Afghani  yang secara tegas menolak ilmu pengetahuan modern yang dikembangkan dunia Barat dengan berbagai alasan, sementara itu, Ibn Khaldun menjelaskan bahwa peradaban termanifestasi dalam tiga elemen penting, di antaranya kemampuan manusia untuk berpikir yang menghasilkan sains dan teknologi.

Dalam konteks kristianitas, akar-akar permusuhan institusi keagamaan dan para praktikus keilmuan telah tergenealogi dalam periode Abad Kegelapan selama satu milenium. Gereja Katolik  secara terus-menerus melancarkan inkuisisi terhadap para pemikir bebas, yang menyalahi kaidah teologi. Giordano Bruno, filsuf dan astronom Italia pada 1603 dibakar hidup-hidup pada tiang pancang dengan tuduhan bid’ah, (Dalam hal ini bid’ah didefiniskan sebagai pengikut sains dan cenderung skeptis tentang kebenaran dalam teologi).

Tiga puluh tahun kemudian, astronom dan pemikir termasyhur, Galileo Galilei dipenjara seumur hidup karena dukungannya terhadap teori Heliosentris Nicolaus Copernicus.  Hal ini dilakukan terkait penentangannya terhadap dogma gereja yang melegitimasi pengetahuan kala itu. Sebaliknya, posisi pengetahuan ilmiah pun telah menginisiasi perlawanan frontal terhadap paham keagamaan.

Pada era Qin Shih Huang/Shih Huang Di (221-210 SM), sebagian besar buku Confusianisme dibakar akibat ketidaksukaannya terhadap paham keagamaan yang mengesampingkan pengetahuan. Pada masanya, Dinasti Qin diantarnya mencapai puncak kejayaan pengetahuan dengan kebijakan pembakuannya.

Fakta historis seyogianya memberikan interpretasi komprehensif terhadap variabel-variabel penting dalam memahami konflik agama-sains. Sepanjang zaman, tampak jelas bahwa konsiliasi dan kompromi senantiasa dilakukan, namun tetap saja secara filosofis, paradigma yang digunakan terlampau berbeda.

Dalam membedah problematika ini, pisau analisa yang digunakan haruslah setajam penjelasan ideal terhadap agama dan sains pada dirinya sendiri. Dalam pendekatan  paradoks, relasi subjek-objek tidaklah dipentingkan karena keduanya saling mempengaruhi. Menempatkan agama sebagai subjek konflik tentu benar sekaligus salah, begitupun halnya sains.

Dalam berbagai paradigma, terminologi paradoks kerap menjadi jawaban pragmatis terhadap suatu isu, karena ia memberikan eksplanasi yang cenderung berbelit-belit sehingga susah dipahami, namun dalam sejumlah isu yang sarat sentimen etis, pendekatan paradoks dibutuhkan untuk membuka peluang terjadinya konsiliasi dan rekonsiliasi.

Agama dan sains lahir dari basis yang sama, namun berbeda secara paradigmatik. Sebuah fenomenon paradoksal menggambarkan sebuah kesatuan antara keduanya. Keduanya lahir dari dialektika idealis manusia yang secara sadar membutuhkan legitimasi positif terhadap segala sesuatu.

Perkembangan kebudayaan dan peradaban secara garis besar menghasilkan jawaban-jawaban yang relatif tak memuaskan semua pihak, namun toh diterima sebagai pengetahuan, sehingga konteks paradoks sebagai ide dan alternatif (agar lebih netral) menawarkan rekonsensus bagi keduanya.

Penutup   

Permasalahan yang tengah menghantui peradaban kita adalah ketiadaan kemungkinan bagi agama dan sains berrekonsiliasi, padahal keduanya lahir dari rahim pengetahuan yang terus menerus berdialektika. Menimbang proses-proses sosial di antara masyarakat, kemungkinan konflik antar individu atau kelompok dengan paradigma yang berbeda selalu terbuka.

Agama dan sains secara paradoksal tunduk pada sebuah dinamika kemasyarakatan yang menggunakannya sebagai acuan berperilaku dan bertindak. Keduanya berkonflik sekaligus berdamai, keduanya cenderung dapat berkonflik sekaligus dapat berdamai.