Jakarta - Pelit itu bagian dari hemat yang terkadang sulit dibedakan terutama dalam memperhatikan antara financial atau keuangan pribadi masing-masing. Prinsipnya dalam menjalani kehidupan akan mempertimbangkan penghasilan dan pengeluaran setiap bulannya, memang sih berbagi atau memberi membuat hidup lebih terasa berguna untuk orang lain.

Namun yang harus dipikirkan adalah jangan merasa ada unsur keterpaksaan karena ingin dipuji atau terlihat ingin menampilkan diri supaya terlihat baik kepada orang lain. 

Pandangan pelit dan hemat menjadi penilaian terhadap seseorang yang kita kenal baik itu keluarga inti, kerabat dekat, dan semua orang yang kita kenal. Hal yang mustahil juga, bila kita tidak kenal dan belum mengenali seseorang kemudian berpendapat bahwa orang tersebut pelit dan hemat.

Atau jangan-jangan kita sendiri yang pelit dan hemat, tidak menjadi masalah yang rumit atau persoalan yang serius. Sebab, hal seperti ini menjadi hak individu masing-masing yang mempunyai pemikiran untuk melakukan hal yang terbaik berdasarkan hati dan pikiran seseorang tersebut.

Cerita kasus 1, cerita dari tetangga dengan inisial "ZG" setiap kali liburan atau jalan-jalan ke puncak tidak pernah nginap. Saya bersama istri sering diajak untuk jalan bersama menuju ke puncak, namun malam harinya pulang "ungkap tetangga". Saya bersama istri merasa keberatan karena banyak waktu yang terbuang, badan terasa pegal, dan masih kasihan lagi karena membawa anak "Balita" bayi lima tahun.
***
Tetangga tersebut sudah menanamkan kebiasaanya berangkat habis magrib sekitar jam 18.00 wib kemudian pulanngnya sekitar jam 12.00 wib dini hari. Bila dianalisa waktu habis di jalan anggap saja rata-rata di jalan 4 jam pulang pergi, artinya hanya 2 jam waktu jalan-jalan di puncak tersebut itupun belum situasi macet. Hanya bisa istirahat menikmati makanan dan minuman khas puncak lalu ngobrol, canda tawa, kemudian istirahat sebentar meluruskan kaki biar tidak terlalu pegal.
***
Yang menjadi pertimbangan dan mempersepsi tetangga itu pelit dan hemat adalah bahwa saat jalan ke puncak bersama keluarga suami dan istri, anak berumur 2 tahun dan berumur 5 tahun. Sehingga, saya bersama istri menganggap mengapa tidak menginap saja karena demi keselamatan keluarga, anak dan istri. Ya mungkin alasanya pasti benar menurut tetangga tersebut, tapi berbeda dalam pandangan saya.

"Pelit dan Hemat" menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah "arti kata pelit adalah kikir. Arti lainnya dari pelit adalah lokek. Contoh: orang pelit tidak suka memberi sedekah". Sedangkan "arti kata hemat adalah berhati-hati dalam membelanjakan uang dan sebagainya". Penjelasan dari KBBI hanya buat perbandingan arti kata yang sesungguhnya, namun tidak se-ektrim yang dimaksud seperti contoh kikir dan tidak suka memberikan sedekah dan berhati-hati dalam membelanjakan uang.

Contohnya saja orang pelit pasti tidak mau di bilang kikir tapi kalau hanya di bilang pelit masih bisa diterima oleh orang yang kita kenal, ya paling alasannya yang menjawab bahwa sesungguhnya tidak pelit melainkan karena kondisi tertentu seperti ketidakmampuan uang tidak mencukupi, penghasilan bulanan pas-pasan, pengangguran, belum mendapatkan pekerjaan yang tetap dan lain sebagainya.
***
Hanya saja orang lain menilai terkadang dibatas nalar dalam memikirkan orang yang kita kenal tersebut, paling beranggapan "cuma segitu doank masa tidak punya atau tidak ada" bila dinilai dengan rupiah maupun barang. Kita jangan memaksa bahwa orang lain sama dengan yang kita punya atau yang kita miliki, karena kebutuhan, keinginan, penghasilan, pengeluaran tidak sama. Sekali lagi ini hanya menurut pandangan pribadi kita sendiri "mau pelit atau tidak dan mau hemat ata tidak" biarkan saja dan bebas-bebas juga.
***
Tindakan sebagai teman dekat atau bersama keluarga cukup mengingatkan dan memberikan kesadaran agar memahami antara kepentingan pelit dan hemat, karena pada dasarnya harus datang dari diri sendiri untuk melakukan hal yang sama apa yang baik akan dilakukannya. Untuk perubahan bukan keharusan melainkan waktulah yang akan menjawab dari makna kata pelit dan hemat tersebut, sehingga peran kita bisa membuka pikiran dengan memberi contoh perbuatan dan perilaku yang berhubungan dengan pelit dan hemat.

Cerita kasus ke-2, pasti kita sering melihat rekan kerja membawa nasi dari rumah persiapan bekal makan siang, jarang berkumpul dengan teman-teman dekat karena sesuatu hal, uang kerja pas-pasan untuk kerja karena di pegang oleh istri, atau memang penghasilan setiap bulannya habis untuk membayar hutang, kreditan, cicilan dan lain sebagainya. Nah, kalau yang ini tergantung watak dan pikiran orang masing-masing bisa juga karena kurang pengalaman, kurang pergaulan, sehingga diasumsikan memang adanya oknum rekan atau sahabat dan keluarga kita yang pelit dan hemat.
***
Cerita lain, tentunya kita mendengar juga saat makan siang bersama teman-teman dekat, mungkin salah satu teman menyampaikan "BB ya atau bayar-bayar masing-masing" sebelum dan sesudah makan. Dalam kondisi apapun bisa saja terjadi karena tidak mempunyai uang lebih atau malu juga karena sering di traktir oleh teman yang lain, itu sih tergantung diri masing-masing ada juga yang sadar mencoba bergantian nraktir dan sebaliknya pura-pura lupa atau tidak peduli sama sekali akan membalas budi karena pernah di traktir…Hehhehe.

Jadi, saya sedehanakan kembali bahwa memang ada orang pelit karena yang hidup dimuka bumi ini ingin hemat untuk kebutuhan kehidupan jangka panjang. Namun pelit dan hemat tersebut harus ada tempat dan waktunnya dan hindari juga, bahwa anda tidak tergolong orang-orang yang pelit dan hemat, sehingga sahabat dan keluarga tidak menjauhi anda.