Secara, global saat ini terjadi dua jenis pemikiran dalam memahami Islam, pertama ada yang pendekatan tekstualis-harfiah yang memahami teks-teks ke-Islaman dengan tekstual, dan tidak mencoba dilihat konteksnya sehingga menghasilkan pemahaman Islam yang kaku, dan cenderung eklusif, merasa inilah pemahaman yang paling benar, tidak jarang terjadi proses “takfir“ (mengkafirkan) dan kekerasan kepada sesama umat Islam. 

Kedua, pemahaman Islam dengan pemikiran rasional yang permisif dan liberal, sehingga melalaikan teks dan melabrak hal-hal yang sudah menjadi kebenaran mutlak. Dua arus besar pemahaman besar telah mempengaruhi corak amaliah umat Islam yang saling berhadapan satu sama lain sehingga sangat rentan terjadi konflik dan kerusuhan antara komponen ormas Islam.

Kemunculan kedua kelompok tersebut terkait banyak dengan pemahaman dan gerakan transnasional yang mengembangkan pengaruhnya di Indonesia. Penyebaran paham dan gerakan transnasional tersebut meningkat karena memanfaatkan alam kebebasan dan demokrasi di Indonesia. 

Kedua kelompok tersebut tergolong kelompok tatharruf, yamini (kanan) dan yasari (kiri), yang bertentangan dengan wujud ideal dan tepat dalam melaksanakan ajaran Islam di Indonesia dan dunia. 

Pemikiran dan paham keagamaan serta ideologi dan gerakan kedua kelompok tersebut tidak sesuai, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut dan dibangun bangsa Indonesia.

Salah satu produk tipe pemikiran pertama yaitu, munculnya isu terorisme dan radikalisme. Dua kata ini saat ini menjadi ramai diperbincanngkan dari mulai para pejabat sampai tingkat bawah. Terorisme dan radikalisme menjadi isu sentral yang menghantam umat Islam, karena seringkali para pelakunya mengusung klaim-klaim teologis eklusif atas nama agama dalam melakukan bom bunuh diri. 

Salah satu produk pemikiran yang liberal yaitu menghasilkan gerakan-gerakan aliran sesat, bahkan menurut Prof. Utang Ranuwijaya, Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI, saat ini tidak kurang dari 300 aliran keagamaan atau kepercayaan yang terlolong sesat yang tersebar di hampir seluruh Indonesia. (Republika, 27/01/2016).

Realitas keagamaan seperti ini harus direspon oleh kementerian agama khususnya para penyuluh agama Islam sebagai Aparatur Sipil Negara yang berada digaris depan dalam pembinaan umat dan tenggelam dengan problematika umat. Oleh karena itu makna Islam Wasathiyyah atau Islam Moderat yang diusung oleh MUI dan Kemenag RI menjadi penting untuk dipahami sebagai bahan untuk pembinaan umat.

Paradigma dan Implementasi Dakwah “Islam Wasathiyah

Kata al-wasathiyah dalam bahasa Arab adalah dari kata al-wasath yang diterjemahkan secara bahasa dengan makna pertengahan atau secara populer dikenal “moderat”. Maka manhaj wasathiyah sering dimaknai sebagai pendapat pertengahan di antara dua atau lebih pendapat yang berbeda. Dan sering juga dianggap sebagai pendapat yang moderat.

Dalam Mufradât Al-fâzh Al-Qur’ân karya Raghib Al-Isfahani (Jil. II; entri w-sth) menyebutkan secara bahasa bahwa kata wasath ini berarti :

“Sesuatu yang memiliki dua belah ujung yang ukurannya sebanding.”. 

Kata ini terdapat pula dalam QS. Al-Baqarah ayat 143. Dalam ayat itu disebutkan :

wa kadzâlika ja‘alnâkum ummatan washatan… (Dan demikianlah kami jadikan kalian sebagai umat yang “wasath”…). 

Bahkan Nabi Saw. pernah mengeluarkan hadis: 

Sebaikbaiknya urusan itu yang pertengahan “.. 

sedangkan Islam Wasathiyah, menurut MUI, ialah ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi segenap alam semesta.

Islam Wasathiyah adalah “Islam Tengah” untuk terwujudnya umat terbaik (khairu ummah). Allah SWT menjadikan umat Islam pertengahan (wasath) dalam segala urusan agama, seperti dalam hal kenabian, syariat dan lainnya. Pemahaman dan praktik amaliyah keagamaan Islam Wasathiyah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Tawassuth (mengambil jalan tengah), yaitu pemahaman dan pengamalan yang tidak ifrath (berlebih-lebihan dalam beragama) dan tafrith (mengurangi ajaran agama).

2. Tawazun (berkeseimbangan), yaitu pemahaman dan pengamalan agama secara seimbang yang meliputi semua aspek kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi, tegas dalam menyatakan prinsip yang dapat membedakan antara inhiraf (penyimpangan) dan ikhtilaf (perbedaan).

3. I’tidal (lurus dan tegas), yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban secara proporsional.

4. Tasamuh (toleransi), yaitu mengakui dan menghormati perbedaan, baik dalam aspek keagamaan dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

5. Musawah (egaliter), yaitu tidak bersikap diskriminatif pada yang lain disebabkan perbedaan keyakinan, tradisi dan asal usul seseorang.

6. Syura (musyawarah), yaitu setiap persoalan diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mencapai mufakat dengan prinsip menempatkan kemaslahatan di atas segalanya.

7. Ishlah (reformasi), yaitu mengutamakan prinsip reformatif untuk mencapai keadaan lebih baik yang mengakomodasi perubahan dan kemajuan zaman dengan berpijak pada kemaslahatan umum (mashlahah ‘amah) dengan tetap berpegang pada prinsip almuhafazhah ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah.

8. Aulawiyah (mendahulukan yang prioritas), yaitu kemampuan mengidentifikasi hal ihwal yang lebih penting harus diutamakan untuk diimplementasikan dibandingkan dengan yang kepentingannya lebih rendah.

9. Tathawwur wa Ibtikar (dinamis dan inovatif), yaitu selalu terbuka untuk melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan zaman serta menciptakan hal baru untuk kemaslahamatan dan kemajuan umat manusia.

10. Tahadhdhur (berkeadaban), yaitu menjunjung tinggi akhlakul karimah, karakter, identitas, dan integritas sebagai khairu ummah dalam kehidupan kemanusiaan dan peradaban.

Dalam implementasinya kita harus mendorong dan menempatkan ukhuwah islamiyyah dan silaturahmi di atas segala perbedaan ikhtilaf fiqih yang ada. Kita harus memberikan pemahaman bahwa pendapat kita benar tetapi juga mengandung kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah namun juga mengandung kemungkinan benar.

 Menularkan Islam wasathiyah (moderat) ini sangat penting ditengah konflik-konflik perbedaan ikhtilaf yang tidak jarang harus merobek ukhuwah ilsamiyyah. Sisi lain, Islam wasathiyyah juga harus memberikan pemahaman Islam yang kompherensif, harmonis, damai, dan rahmatan lil alamien. 

Namun demikian, Islam wasathiyah dalam menghadapi aliran-aliran sesat dan menyimpang harus dengan pendekatan dakwah yang persuasif, dialogis dan kontinyu, tidak dengan cara anarkis dan radikalis.Wallahu‘alam bissawab.