Beberapa warganet saat ini banyak yang merasa gerah lantaran kasus penyiraman air keras yang dilakukan oleh dua oknum kepolisian terhadap salah seorang penyidik utama KPK, Novel Baswedan, dianggap tidak memperoleh tanggapan yang serius dari dewan majelis hakim saat memutuskan vonis hukuman untuk mereka.

Ditambah lagi dengan kelucuan argumentasi dari dewan hakim (yang semoga masih) terhormat itu dengan dalih bahwa perihal yang meringankan hukuman kedua orang terdakwa itu adalah karena alasan tidak disengaja, tindakan kooperatif, dan jasa dari para pelakunya.

Siapa pun mereka yang menyimak kasus persidangan atas terdakwa kasus penyiraman Novel Baswedan ini tentu dapat mengambil kesimpulan atas kebenaran dan keadilan macam apa yang terjadi di negeri ini tanpa perlu menyandang rentetan gelar pendidikan atau gelar jabatan apa pun. 

Apalagi dengan adanya keputusan dari hakim yang absurd ini kian meragukan publik, apa sebenarnya fungsi dan peran dari gelar-gelar itu? Siapa saja orangnya, asalkan memiliki nalar yang sehat tentu akan mudah menerka, bagaimana sebenarnya kasus ini.

Secara logika, kita sebagai makhluk diberkati dengan akal tentu dapat mempertimbangkan, bagaimana mungkin orang yang telah menyiapkan cairan yang berbahaya, menyiapkan siasat, dan menunggu waktu yang paling tepat untuk menunggu korban, kemudian dapat melancarkan aksinya secara lancar dan sempurna, untuk kemudian masih dianggap tidak ada unsur kesengajaan?

Ah, saya tiba-tiba menjadi teringat dengan obrolan basa-basi para pengantin baru yang berencana ingin punya anak atau ingin menambah momongan yang kemudian berimbas pada kondisi istrinya yang ternyata hamil lagi, kebanyakan dari mereka pasti bilang, “tidak sengaja.”

Dalam batin saya, tidak sengaja gundulmu! Bagaimana mungkin hal yang sebenderang itu masih bisa dibilang dengan tidak sengaja? Namun untunglah para pengantin itu rata-rata mau bertanggung jawab untuk menanggung dampak dari apa yang pernah mereka lakukan itu secara suka rela.

Jika kita kembalikan pada kasus Novel ini, apakah kiranya para terdakwa itu juga mau mengakui kesalahan mereka secara suka rela? Jika kata kuncinya adalah tindakan kooperatif, seharusnya mereka dulu langsung menyerahkan diri setelah berbuat tindak kriminal di waktu subuh itu.

Apakah dengan rentang waktu penyidikan sejak kasus ini muncul pada tahun 2017 hingga menginjak tahun 2020 ini masih bisa dianggap sebagai tindakan yang kooperatif? Ya, Anda yang memiliki nalar yang sehat tentu mampu berlogika dengan nalar Anda sendiri.

Faktor berikutnya yang menjadikan pertimbangan dari dewan hakim untuk meringankan hukuman dari para terdakwa itu adalah karena jasa-jasa mereka selama menjadi anggota kepolisian. Jika logika ini yang dipakai oleh dewan hakim, saya menjadi khawatir, secara tiba-tiba akan muncul banyak Robin Hood di negeri ini. Di mana para Robin Hood ini akan menggarong harta dari segelintir elite demi menolong jutaan rakyat yang menderita kemiskinan.

Logika seorang Robin Hood amatlah sederhana, ia akan mengorbankan sedikit orang demi menolong lebih banyak orang lainnya, ia akan merampok orang-orang kaya yang jumlahnya hanya sepercik itu demi menolong para fakir yang jumlahnya bak buih di lautan.

Apakah menurut para dewan hakim, kriminalitas yang dipraktikkan oleh Robin Hood ini juga patut mendapatkan dispensasi hukuman? Sekali lagi, sebagai bahan perenungan, tolong pertanyaan ini dijawab dengan nalar sehat dan naluri Anda yang terdalam!

Saya kemudian juga menjadi khawatir, jangan-jangan dewan hakim yang terhormat bertindak demikian karena Anda khawatir dengan ancaman para mafia hukum di negeri ini yang telah menakut-nakuti Anda dan mengancam keluarga Anda dengan air keras yang serupa manakala hukum Anda tegakkan dengan setegak-tegaknya.

Jika demikian yang menjadi kerisauan Anda, maka Anda tak perlu lagi panik, sebab seluruh masyarakat di negeri ini akan selalu berkenan menjadi benteng atas kegigihan Anda. Dan lebih dari itu, Tuhan pun tentu akan membersamai perjuangan Anda yang mulia itu.

Bukankah Anda telah memiliki teladan dari para suksesor Anda yang begitu gemilang dalam memecahkan kasus-kasus ketidakadilan yang pernah dilakukan oleh para elite di negeri ini?

Tandingilah sosok Baharuddin Lopa yang telah tiada itu! Kalahkanlah sosok Artijo Alkostar yang sangat bersahaja itu! Jangan turunkan standar Anda di bawah mereka, jika Anda masih memiliki mimpi untuk meraih kegemilangan dalam penegakan hukum di negeri ini!

Kenapa harus demikian? Tidakkah Anda merasakan, bahwa sebenarnya para terdakwa itu pun merasa sangat malu atas vonis hukuman Anda yang terlampau ringan itu? Untuk kelasnya rakyat saja, yang menumpahkan air keras pada sesamanya harus divonis selama 12 tahun penjara. 

Masa iya, hukuman untuk pelaku atas sosok yang teramat penting kiprahnya dalam penyidikan kasus-kasus korupsi yang menggurita di negeri ini, lantas hanya divonis selama satu tahun penjara? Mohon di-reset ulang kalkulator keadilan Anda itu, jangan-jangan hal itu belum berfungsi dengan baik sebab sedang nge-hang!

Tidakkah Anda membayangkan kondisi psikologis dari para terdakwa yang anda ringankan hukumannya itu yang tetap tidak bisa merasa tenang apalagi mampu berbangga diri karena dispensasi ini? Saya dapat mendengar jeritan suara nurani mereka yang yang luar biasa jelasnya sebab menahan rasa malu atas keputusan Anda yang tidak bijak itu, apalagi latar belakang mereka adalah sebagai aparat penegak hukum.

Saya meyakini bahwa mereka, yakni para terdakwa ini sebenarnya telah siap menerima hukuman apa pun dan berapa lama pun dari Anda. Jangankan hanya 12 tahun penjara, seperti vonis untuk orang sipil itu, mereka pun sebenarnya siap jika hukuman itu dinaikkan hingga dua atau tiga kali lipat sekalipun. Sebab nurani mereka telah meyakini bahwa setidaknya diri mereka akan tetap menjadi sebuah role model atas penegakan hukum di negeri ini.

Apalagi jika ditambahkan dengan semangat patriot mereka yang selalu mengge-gebu itu, tentu sekadar 24 atau 36 tahun di bui merupakan ukuran yang teramat ringan dibandingkan dengan kepercayaan publik atas hukum di negeri ini.

Apakah dengan adanya latar belakang dari mereka yang demikian lantas dewan hakim yang terhormat masih tega untuk menodai semangat patriotisme mereka yang senantiasa menggelora itu?

Mereka yang telah menyiram Pak Novel dengan air keras itu jelas salah. Akan tetapi, sifat heroik mereka untuk berani menjadi suri teladan dalam menjalani hukuman yang sepadan atas tindak kriminal mereka itu tetaplah sangat bermartabat dalam pandangan siapa pun.

Sekali lagi, akankah dewan hakim yang terhormat tetap tega mencampakkan harga diri dari para terdakwa itu untuk menjadi patriot bangsa dalam menegakkan hukum di negeri ini, dengan peran sebagai seorang pesakitan?