Pengetahuan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Semua aktivitas yang kita lakukan membutuhkan pengetahuan sebagai dasarnya. Kita mendapatkan pengetahuan dari banyak sumber, mulai dari pengalaman, diberitahu oleh orang lain yang lebih ahli, televisi, radio, membacanya di buku, dan yang terbaru, adalah dari media di internet. Yang disebut terakhir adalah sebuah sumber besar, ia mengeluarkan informasi yang melimpah ruah. Mesin pencari informasi di internet, sebutlah google, hampir tahu segalanya (karenanya ia dipanggil mbah).

Ibaratnya makanan, semakin banyak kita makan apakah semakin sehat? Tentu tidak demikian. Dunia modern mengeksplorasi dan mengolah berbagai jenis makanan yang enak-enak untuk kita. Akibatnya kita makan bukan hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan energi, melainkan lebih dominan untuk memenuhi nafsu mengunyah alias ngemil. Banyak orang terkena obesitas, untuk kemudian tubuhnya menjadi sarang penyakit-penyakit yang lain.

Nampaknya demikian pula dengan kebutuhan kita akan informasi atau pengetahuan. Teknologi di era digital mempercepat akses informasi secara luar biasa. Sayangnya tidak hanya ilmu pengetahuan.  Aneka hiburan, kabar berita, perkembangan sains, opini politik hingga ujar-ujar kebencian dan hoax berkeliaran di sekitar kita setiap saat. Informasi-informasi itu seperti camilan, ia tidak penting bagi tubuh kita tapi enak untuk dinikmati. Kita kecanduan informasi seperti ketagihan gula-gula atau alkohol. Dan akhirnya, meminjam istilah Tim Ferriss, kita mengalami obesitas informasi.

Dikatakan obesitas karena karena timbunan informasi yang kita nikmati setiap saat tidak produktif atau bermakna bagi hidup. Mereka lewat, memuaskan rasa ketagihan untuk sementara, menghabisi waktu yang kita miliki, bahkan menghadirkan perilaku buruk di keseharian kita. Tumpukan informasi tak berguna di otak kita menghadirkan kekacauan berpikir, menghilangkan fokus dan akhirnya membuat kita tidak bisa mempercayai apapun.

Kasus-kasus bunuh diri yang dilakukan oleh remaja di beberapa negara karena di-bully melalui internet menunjukkan kepada kita bahwa perlahan anak-anak generasi mendatang memperlakukan internet sebagai realitas utama. Howard Gardner bahkan menyebut generasi saat ini sebagai generasi app (istilah untuk aplikasi di android).

Yang lebih parah adalah anak-anak usia dini. Masa awal kehidupan manusia, yang menurut para ahli perkembangan adalah masa pematangan indera dan perkembangan imajinasi-kreativitas melalui eksplorasi alam direnggut dengan kejam oleh informasi dan pendidikan murahan di gadget. Para orang tua merasa lebih keren dan mengikuti perkembangan jaman ketika anak-anak mereka memegang gadget sejak dini. 

Mereka yang sedang membangun pemahaman dunia di otaknya, ketika dijejali oleh informasi-informasi serta realitas tiruan pada akhirnya menganggap itulah realitas yang sebenarnya. Itulah sebabnya kita mulai banyak menemukan gejala kecanduan akut pada anak-anak di sekitar kita.

Jika obesitas biologis menjadi permasalahan di bidang kesehatan, maka obesitas informasi terutama menjadi permasalahan sosial terutama pendidikan. Sejak awal pembangunan pondasi pendidikan nasional kita, Ki Hadjar Dewantara telah mewanti-wanti bahwa jangan sampai anak-anak kita mendapat pendidikan yang orientasi utamanya adalah penguasaan pengetahuan. 

Karena bagi beliau, pengetahuan sebagai tujuan utama pendidikan hanya akan mengantar anak pada sifat murka diri (individualis) dan murka kebendaan (materialis). Tujuan pendidikan seharusnya lebih mengarahkan manusia untuk bisa mengendalikan dirinya secara utuh, hingga ia muncul sebagai pribadi yang merdeka.

Anak-anak sebaiknya lebih diarahkan untuk dapat secara bebas mengeksplorasi alam melalui aktivitas yang menyenangkan. Ki Hadjar menyebutnya sebagai pelatihan inderawi yang menguatkan batin. Jadi sebaiknya tidak dijejali dengan informasi-informasi abstrak terlebih dahulu. Di masa-masa TK dan SD, sebaiknya orang tua lebih bijak dengan tidak membiarkan anak bebas menggunakan gadget atau bahkan memilikinya. Biarkan mereka membangun persahabatan dengan anak seusia dan alam sekitar.

Untuk para orang tua, kemampuan menggunakan media internet secara bijak dan efektif mutlak diperlukan jika mereka tidak menginginkan menjadi penderita obesitas informasi. Meskipun dampaknya tidak seakut pada anak-anak, namun kemampuan tersebut penting karena merekalah faktor utama yang mempengaruhi perkembangan anak. Selain itu, kondusivitas serta tatanan kemasyarakatan saat ini tidak bisa dilepaskan dari literasi internet. Masyarakat dengan literasi media dan internet yang rendah di jaman ini akan menjadi korban penindasan, eksploitasi dan penjajahan gaya baru.

Kebermaknaan dalam mengakses dan menggunakan informasi tidak bisa diajarkan dalam satu kali proses pelatihan atau seminar. Ia  merupakan suatu pola perilaku yang dibangun melalui proses pembiasaan secara sadar dan bertahap. Ada satu metode bagus yang ditawarkan Inc.com untuk membangun kebermaknaan informasi dalam diri yaitu melalui tiga langkah utama,

1.Membaca dari sumber yang terpercaya. Hal ini akan menghindarkan kita dari informasi palsu atau menyesatkan. Selain itu sebaiknya informasi yang dibaca adalah yang memang kita butuhkan.

2.Berpikir. Informasi dan pengetahuan yang kita konsumsi tidak akan bermakna jika kita tidak meluangkan waktu untuk memikirkannya secara lebih mendalam, dan mengaitkannya dengan berbagai aspek kehidupan pribadi kita.

3.Bereksperimen. Pengetahuan teoretis pada akhirnya juga akan menjadi tidak berguna, kecuali ia kita aplikasikan dalam hidup. Dalam proses ini bahkan kita akan mendapatkan pelajaran baru yang mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya.

Dunia modern menghadirkan berbagai kemudahan melalui perkembangan teknologi, termasuk teknologi informasi. Dibumbui oleh persaingan antar koorporasi, hidup kita berubah dengan cepat. Kemudahan itu bisa berarti kemajuan atau justru merupakan jalan kematian manusia di tangan ciptaannya sendiri.