Banyak hal yang sebenarnya sangat perlu dipertanyakan di negara kita yang tercinta ini. Selain menanyakan alasan pemerintah kita yang selalu mengkambinghitamkan hujan sebagai penyebab terjadinya banjir dan longsor, juga ada satu hal lain yang sekiranya penting juga untuk kita pertanyakan.

Dan satu hal lain yang dimaksud adalah mengapa di saat kita bertemu dengan seseorang yang bergelar ---entah dia itu presiden, bupati, gubernur, anggota dewan, kepala desa dan semua yang dianggap bergelar--- senyum kita lebih mekar ketimbang saat kita bertemu dengan seseorang yang tidak bergelar atau masyarakat biasa? Singkatnya, mengapa kita tidak bisa hormat kepada semua orang secara sama?

Bukan berarti kita tidak terlalu perlu menghormati orang yang bergelar, tidak seperti itu. Sebab semua orang harus kita hormati dan hargai, siapapun dia! Tapi, yang perlu untuk dipertanyakan kemudian adalah penghormatan yang kita berikan kepada orang lain sering kali tidak merata dan adil. 

Saya yakin, banyak di antara kita yang akan lebih mendengarkan ucapan seorang pejabat ketimbang apa yang dikatakan oleh seorang petani. 

Muka kita kelihatan lebih ceria di hadapan seorang dokter dibanding saat kita bertatap muka langsung dengan seorang pedagang. 

Badan kita lebih mudah untuk kita bungkukkan karena ada seorang pemimpin perusahaan yang berbicara kepada kita, sementara untuk membungkukkan badan di depan seorang guru ngaji kampung terasa sangat berat untuk kita lakukan. Mengapa semua hal itu terjadi kepada kita?

Di kampung saya, kejadian yang seperti itu sangat sering saya saksikan. Di mana seseorang yang dikenal memiliki gelar tertentu benar-benar mendapat tempat yang khusus di mata warga kampung. Seperti pernah di suatu maghrib seorang pegawai negeri sipil (PNS) lengkap dengan seragam kebanggaannya singgah di sebuah masjid yang berada di kampung saya untuk shalat maghrib berjamaah. 

Jika dilihat dari tampangnya, dia bukan salah satu dari warga kampung saya. Dia berasal dari kampung yang lain. Hal tersebut juga bisa dibuktikan dengan adanya sebuah mobil mewah hitam polos terparkir di depan pintu gerbang masjid. Meski tidak bisa dipungkiri sering kali juga ada segelintir pejabat yang ada di kampung saya membawa "kereta" mewahnya saat ke masjid untuk shalat berjamaah. Serius, ada!

Dan saat PNS itu masuk ke dalam masjid, sontak para jamaah yang hadir saat itu langsung menoleh kepadanya dan menyapanya dengan sebuah senyuman. Tidak hanya sampai di situ, para jamaah juga mempersilakannya untuk maju ke posisi shaf yang paling depan dalam shalat. Bahkan sampai-sampai ada yang menawarinya untuk menjadi imam shalat. 

Seolah-olah sudah ada hubungan erat yang terjalin antara PNS itu dengan para jamaah. Alih-alih saling mengetahui nama dan alamat masing-masing, bertemu saja belum pernah. Sementara penghormatan para jamaah kepada PNS itu tidak pernah saya temukan perlakuan yang serupa di antara para sesama jamaah.

Sehingga saya yang menyaksikan kejadian saat itu terheran-heran dan bertanya-tanya, mengapa PNS itu langsung mendapat sambutan hangat dari para jamaah padahal dia berasal dari kampung yang lain, terlebih lagi mereka juga belum mengenalnya? Dan mengapa pula penghormatan dari para jamaah kepada PNS itu tidak terjadi di antara sesama jamaah yang lainnya?

Apakah karena gelar yang dimilikinya, yakni PNS, yang membius para jamaah itu sehingga mereka begitu sangat menghormatinya? Dan dikarenakan di antara jamaah itu tidak ada yang berprofesi sebagai pejabat atau yang bergelar membuat mereka jadi kurang saling menghormati, tidak seperti sikap yang mereka tunjukkan kepada PNS itu?

Bisa jadi praduga di atas ada benarnya. Karena bagaimanapun kita tidak bisa pungkiri bahwa jabatan, gelar, uang dan segala hal yang bersifat duniawi memang benar-benar memiliki daya tarik yang sangat luar biasa, bahkan bisa membutakan rasionalitas siapapun. 

Sebagaimana para jamaah warga kampung saya itu yang langsung kepincut dengan penampilan yang ditunjukkan oleh seorang PNS. Mereka jadi tiba-tiba merendahkan diri dan merasa wajib untuk bersikap hormat saat melihat keberadaan PNS itu. Karena gelar, seragam dinas dan mobil mewah yang dimiliki oleh PNS itulah yang sejatinya membuat mereka bersikap seperti itu.

Andai saja yang singgah di masjid itu bukan seseorang yang bergelar (dalam hal ini adalah PNS), bisa dipastikan para jamaah tidak akan menunjukkan sikap hormat yang seperti itu. Sehingga tidak mengherankan jika penghormatan yang diterima oleh PNS dari para jamaah itu tidak terjadi di antara sesama jamaah yang lainnya. Ya, karena di antara mereka tidak ada yang bergelar alias hanya berlatar belakang biasa-biasa saja.

Saya yakin, fenomena seperti di atas tidak hanya terjadi di kampung saya, tetapi juga di tempat-tempat yang lain. Gelar yang dimiliki oleh seseorang seakan menjadi tolak ukur bagi kita untuk bersikap hormat. 

Jika tidak bergelar atau berlatar belakang hanya masyarakat biasa, ya cuekin saja. Jika yang berbicara kepada kita adalah seorang ustad lulusan perguruan tinggi di luar negeri, kita dengan mudahnya menganggukkan kepala. Sementara untuk memahami petuah yang disampaikan oleh seorang guru ngaji yang ada di kampung terasa sangat berat untuk kita cerna. 

Bukan karena tidak memahami isi yang disampaikannya, melainkan karena kita yang menganggapnya tidak berarti sama sekali karena yang mengucapkannya hanya seorang guru ngaji kampung.

Selain itu, hal yang demikian juga menjadi gambaran tersendiri bagi kita tentang adanya ketimpangan dalam budaya saling hormat-menghormati yang kita pegang selama ini. Kita hanya bersedia membuka telinga, melebarkan senyuman, menganggukkan kepala, menundukkan badan hanya kepada mereka yang bergelar. 

Kita melihat sebuah gelar yang disandang oleh seseorang adalah sesuatu yang amat sangat luar biasa dan karenanya mampu membius kita untuk bersikap hormat hanya kepada yang memilikinya. Kita sejatinya adalah para pemuja "sampul" yang diperdaya oleh segala hal yang sifatnya mentereng dan mewah.

Padahal bergelar atau tidaknya seseorang tidak lantas akan menjadikannya layak atau tidaknya untuk kita hormati. Sebab, bagaimana mungkin kita akan tetap tersenyum, menaruh harapan dan mendengarkan ucapan para pejabat yang korup, pemimpin yang dzalim, atau ulama yang hobi mencaci.

Hal yang seharusnya kita lakukan adalah penghormatan yang kita berikan kepada orang lain semestinya kita tunjukkan terhadap siapapun tanpa memandang latar belakang yang dimilikinya. 

Misal jika di jalan kita bersua dengan seorang pedagang sayur, maka kita menyapanya dengan hangat sembari melemparkan sebuah senyuman, kita juga bersedia dengan senang hati tatkala diajak berbicara oleh seorang petani, ataupun mendengarkan dan berusaha memahami setiap perkataan yang disampaikan oleh seorang pemulung tanpa sedikitpun berniat memotong pembicaraannya.

Seperti kata Sayyidina Ali yang menganjurkan untuk tidak menjadikan latar belakang seseorang sebagai tolak ukur kebenaran dari apa yang disampaikannya. "Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan melihat siapa yang mengatakan." Ali bin Abi Thalib ra