Sejatinya tidak ada satupun bidang ilmu tertentu yang mengandung unsur negatif, semuanya memiliki nilai manfaat bagi kehidupan ummat manusia.

Jikapun ada yang mengklaim bahwa ada sejumlah bidang ilmu yang nyatanya tidak selamanya bisa meringankan suatu permasalahan yang ada, maka letak permasalahannya bukan ada pada bidang ilmu itu sendiri, melainkan dikarenakan oleh keteledoran dari orang yang mempelajarinya.

Seorang Dokter tidak selayaknya menyalahkan bidang ilmu yang selama ini digelutinya (baca: ilmu kedokteran) lantaran pernah melakukan kesalahan praktek saat mengoperasi tubuh pasiennya.

Begitupun jika ada seorang ahli tafsir Al-Qur'an yang keliru dalam memaparkan tafsir dari sebuah ayat tertentu, maka tidak sepantasnya kita dengan seenaknya langsung mencap negatif bidang ilmu yang dipelajarinya, yakni ilmu penafsiran. Yang seharusnya kita salahkan adalah orangnya karena tidak mengaplikasikan ilmunya dengan baik.

Dan seperti itu pula jika ada sejumlah orang yang kurang cermat dalam berbahasa, maka yang paling pantas untuk kita salahkan adalah penggunanya, bukan bahasa itu sendiri.

Sebab, bahasa, sebagaimana bidang ilmu yang lainnya, hanyalah alat bantu bagi manusia untuk memudahkannya berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Ya, kita memang seharusnya lebih cermat dalam berbahasa. Bahasa bukanlah seperti yang selama ini kebanyakan orang (mungkin kita juga termasuk di dalamnya) anggap hanya sebagai alat komunikasi semata.

Namun, yang dimaksud dengan cermat dalam berbahasa di sini bukanlah tentang selincah apa lidah kita dalam berkata-kata dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kualitas retorika yang kita miliki.

Sebagaimana dalam aliran Filsafat Bahasa Biasa yang menyebutkan bahwa seseorang baru benar-benar layak disebut "cerdas" dalam berbahasa saat ia sudah mampu menyesuaikan bahasa yang digunakannya dengan lingkungan yang ada di sekitarnya.

Seolah Ludwig Wittgenstein, orang yang mencetuskan aliran tersebut, ingin mengatakan bahwa tidak ada gunanya kualitas retorika yang mumpuni dan kefasihan dalam berbahasa jika tidak disertai dengan kemampuan menyesuaikan bahasa dengan lingkungan sekitar.

Di samping itu, dalam berbahasa, selain kita butuh kepada kecerdasan, aliran Filsafat Bahasa Biasa juga menekankan akan pentingnya bagi kita selaku pengguna bahasa untuk menghadirkan kesadaran.

Karena menurut aliran tersebut di dalam kehidupan kita begitu banyak tata permainan bahasa yang berlaku di dalamnya. Tata permainan bahasa adalah penggunaan bahasa yang sesuai dengan konteks masyarakat penggunanya yang oleh karenanya mencerminkan pula nilai dan aturan tertentu yang berlaku di masyarakat tersebut.

Contoh sederhananya seperti suatu tempat yang mana masyarakatnya sangat kental dengan nilai-nilai keagamaan, maka tentunya bahasa yang berlaku di masyarakat tersebut juga sarat akan tata krama dan sopan santun.

Intinya, setiap tempat berikut dengan nilai-nilai dan aturan yang berlaku di dalamnya memiliki tata permainan bahasa tersendiri. Karenanya, kesadaran dan kecerdasan menjadi dua elemen yang sangat penting untuk kita miliki sebagai pengguna bahasa, sebagaimana prinsip yang tersebut dalam aliran Filsafat Bahasa Biasa.

Karena ada tempat yang lingkungan masyarakatnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan membuat kita jadi lebih berhati-hati dan tidak serampangan dalam berbahasa saat berbaur dengan masyarakat yang ada di tempat itu.

Tentunya kesadaran yang seperti itu hanya akan bisa lahir saat bahasa yang kita gunakan sehari-hari mampu kita sesuaikan dengan lingkungan sekitar kita dan menyadari bahwa setiap masyarakat memiliki tata permainan bahasa tersendiri. Inilah yang disebut dengan kecerdasan dan kesadaran berbahasa oleh aliran Filsafat Bahasa Biasa.

Prinsip aliran Filsafat Bahasa Biasa tersebut tentu akan menjadi pukulan yang amat keras bagi kita yang tergolong sebagai para pelanggar bahasa yang selama ini telah seenaknya berbahasa tanpa mempertimbangkan dampak yang akan ditimbulkannya.

Di lingkungan masyarakat sekitar kita mungkin sering menyampaikan informasi yang tidak valid kepada banyak orang. Atau di dunia maya melalui akun medsos kita sering kali status yang kita buat mengandung unsur keributan yang kemudian kita bagikan begitu saja.

Barangkali juga sejumlah tulisan yang berbau SARA, bermuatan kontroversi dan yang memancing keributan pernah kita buat dan kita posting di beranda medsos kita, dan mirisnya karena banyak orang yang menyukainya dan membagikannya membuat kita jadi merasa bangga karenanya.

Akibatnya, keributan pun terjadi di mana-mana. Banyak orang yang jadi saling menyalahkan, saling memfitnah, bahkan saling mengkafirkan. Semuanya berpangkal dari sikap ketidak becusan kita yang menggunakan bahasa secara serampangan.

Tentu masih sangat segar di kepala kita tentang banyaknya tokoh publik kita yang terlibat kasus sehingga membuat mereka terpaksa berurusan dengan hukum.

Penyebabnya adalah tidak lain dan tidak bukan karena apa yang mereka ucapkan dianggap berpotensi menciptakan konflik dan melanggar UU ITE.

Siapa yang tidak mengetahui kasus yang menjerat Ahmad Dhani, seorang musisi ternama di tanah air, yang membuatnya divonis hukuman penjara selama 1 tahun 6 bulan pada tahun 2019 lalu.

Begitupun dengan kasus yang dialami Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada 2016 silam yang dianggap telah melakukan penistaan terhadap agama hingga kemudian mengantarkannya untuk mendekam di penjara selama 2 tahun.

Dan siapa pula yang tidak pernah mendengar kabar ditangkapnya almarhum ustad Maaher At-Thuwailibi oleh polisi di tahun 2020 lalu dan dijatuhi hukuman penjara selama kurang lebih 5 tahun.

Dan tentunya masih banyak lagi sederetan kasus-kasus serupa lainnya yang pelakunya adalah yang memiliki kedudukan penting di negeri ini.

Ketiga contoh kasus di atas memiliki titik fokus masalah yang sama, di mana kalau kita merujuk pada buku "Komunikasi Kontekstual" yang ditulis oleh Wahyu Wibowo disebutkan karena tidak adanya keseimbangan antara akal dan ucapan.

Entah mereka belum tahu atau barangkali sudah lupa bahwa apa yang akan diucapkan mestinya sudah melalui proses penyaringan (berpikir) terlebih dahulu. Sebagaimana kata para orang bijak "Berpikirlah sebelum berkata-kata!"

Jika kita tidak bersedia membuka telinga untuk mendengar nasihat bijak tersebut dan tetap konsisten untuk merawat kebiasaan berbahasa tanpa disertai proses berpikir, maka selama itu pula kita akan tetap berperan sebagai para pelanggar bahasa dan menjadi pemicu terlahirnya kerusuhan.

Dan hal ini tentu juga menjadi masalah tersendiri bagi dunia pendidikan kita. Memang benar bahwa sejak di bangku sekolah dasar pelajaran bahasa sudah dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran yang mesti kita pelajari, namun apa yang bisa kita dapatkan di sana bisa dibilang hanya terbatas pada sisi luarnya saja.

Di sekolah kita hanya diajari tentang apa itu huruf konsonan?, apa itu huruf alfabet?, apa itu SPOK?, bagaimana membedakan antara kalimat deduksi dan induksi?, dan sebagainya. Bahkan hal tersebut berlanjut sampai ke dunia perkuliahan, jenjang yang disebut-sebut sebagai yang tertinggi dalam dunia pendidikan kita.

Akibatnya, yang kita tahu tentang bahasa tidak lebih dari sekadar alat komunikasi semata. Tidak seperti yang disebutkan Wahyu Wibowo dalam bukunya "Komunikasi Kontekstual", bahwa penguasaan terhadap bahasa akan menghadirkan gambaran yang jauh lebih akurat tentang dunia.