Rasanya seorang pemuda tampan ini seperti penyair, menggunungkan bait demi bait narasi yang roman. Telah menjadi maestro yang berusaha melembutkan dunianya mereka para pencuri. Menyicil keindahan yang dilupakan mereka yang sibuk memungut dan menggarong recehan miliki orang-orang lemah.

Tapi kini, sebut saja namanya Sang Bima. Ia mau jeda, setelah sekian lama larut, turut serta terlibat menjadi kata-kata, sebagai mulut, tangan sekaligus otak dari manusia-manusia, serta organisasi (gerombolan) para bandit. Kelompok dan manusia yang merasa diri segala-galanya. Merasa paling beken, narsis, berlaga kuat, heboh seterusnya.

Ia memilih jeda, untuk mencegah agar tidak semakin membesar dan meluasnya gejala atau pengaruh buruk yang mereka akibatkan melanda kelatahan dunia, terutama kelatahan bagi orang-orang dari kampung (daerah).

Memilih jeda sekaligus merakit sebuah rencana besar yang tidak perlu diumumkannya, dan membereskan perlahan (diam-diam) segala kedegilan luar biasa yang mereka para bandit ciptakan selama ini.

Sebetulnya usai kadung, berhasil lolos dari penuh sesaknya penyakit ibukota, Bima telah taubat (bungkam), hanya saja supaya meninggalkan bekas, alasannya mengapa ia perlu mengulas kenyataan-kanyataan pahit yang sempat kabur dalam dunia gelap para bandit ini.

Memilih Jeda (taubat)

Lelaki sederhana dan berwajah lugu ini tak ingin mengingat bagaimana pahit-ketir dirinya ikut hidup besarkan, dan mengajar eja pada orang-orang (kini menjadi bandit) beserta dunia gelapnya. Semua hal serta unsur mereka kini, mencerminkan persis tingkah-laku kebajinganan bandit, dan atau penggarong pada kehidupan khalayak normal dan terutama kepada sang guru.

Bagaimana watak mereka ini sehingga menjelaskan mengapa disebut para bandit? Pertama, bergaul dengan merak jangan pernah berpikir, bagaimana kita bisa punya semangat (visi) ingin terlibat menyumbangsih tenaga, pemikiran atau gagasan segar pada kehidupan sosial masyarakat.

Terutama pada orgganisasinya angan pernah membayangkan gerbong itu tempat yang cair menimba serta mendialektikakan segala macam kebuntuan. Organisasi yang karena segar lantas ia menyebarkan pengetahuan yang modern. Standar atau kondisi yang lazim sebetulnya dapat di jumpai pada kehidupan organisasi dimanapun.

Kedua, buang segala teori kemanusiaan, training-training keorganisasian yang wajar membuat kita paham, bersangka baik tentang ideologi, filasafat, oase, atau platform perjuangan. Karena disana seperti rimba, tak mengenal nilai-nilai dasar rumah tangga demikian.

Selanjutnya, tidak hanya fantasi mereka yang jahat serta konspiratif, seperti menjual organisasi dan nama-nama orang besar pada awam. Dan ironinya lagi, akibat tertipu dengan kemasan seolah-olah itu benar normal, sehingga hanya karena ingin ikut narsis, awam sampai rela menjual aset dan menyumbangkan warisan moyangnya. Namun seperti monster, jika tak laku, maka kepala bandit akan membentak sehingga seisi ruangan melongok diam seribu bahasa!

Sebab asal tahu saja, kepala bandit ini rasa-rasnya serupa seperti Don Raymonde Aprile, sorang pemimpin besar mafia, mirip Inzio Tulippa, bos narkotika, dan mafia perbankan yang melakukan upaya “penyembunyian dan menyamarkan” pada tumpukan uang haramnya. Mereka berdua yang memiliki reputasi saleh serta dermawan dalam dunia hitam Omerta.

Sesekali mereka tampil terlihat memukau mengekspresikan keindahan, atau keramaian sedang rapat serius. Padahal isinya semu, sekedar berkumpul sambil basa-basi saling mengumpat buaian-buaian yang mengagumkan.

Perhatikan mereka beriringan-iringan, lalu-lalangnya seperti orang penting, terlihat gagah memacetkan padatnya lalu-lintas. Sirene mobil yang mereka ditumpangi, pasti menguras energi orang-orang baik yang sedang berdaya mengais hidup ibukota. Dan kecuali itu semua, tak ada lagi yang misteri.

Harap Temukan (jalan)

Tiba saatnya cerita, suatu ketika Bima di tindas oleh beberapa anggota bandit. Ketegaan yang tergolong sadis terhadap eksistensi anak muda kerempeng tersebut bermula bukan di picu akibat tidak meratanya pembagian jatah hasil kejahatan. Tetapi ia tertindas secara kemanusiaan hanya saja para bandit ini ingin menunjukkan kuat dan kuasanya. Dan terhadap kebencanaan itu, ia memakluminya dan enggan aparat melakukan investigasi karena tak ada satupun cara yang ia percaya untuk mengadilinya.

Mencekam, sesaat kemudian akhirnya gempar, lantas banyak empati yang datang menuntut sekaligus bertanya bagaimana menyelesaikannya?! Mendendam saja? Karena frustasi atau cukup sekedar dirinya curhat di media sosial? Jawabannya beragam, ada yang marah-murka, bahkan mengutuk keras.

Sebab dalam terminologi bandit, menurutnya titik kompromi dalam sebuah konflik atau pertengkaran ialah banyak yang mengambil jalan yang tak biasa. Cara yang jauh lebih bajingan, biadab dan sadis daripada yang orang biasa (mereka) lakukan.

Ada juga yang jernih agar mengambil langkah hukum negara, tidak main hakim sendiri seperti dunia cowboy-nya para bandit. Namun mereka sendiri yang membantah bahwa tidak bisa perkara dunia para bandit diperlakukan secara normal, mereka tak akan kapok, karena tak mengenal nilai-nilai (adab).

Terkadang tak sedikit ide-ide sableng menucul, mendatangkan raja jin turun gunung untuk mengahantui mereka tujuh keturunan. Menggunakan dahsyat zat yang tak terlihat membuat aksesoris badan mereka busuk dan rontok tiba-tiba tanpa tanda sebab apa-apa.

Pemuda sial ini runduk, sambil menyumpah, dia bangkit dan menemukan jawaban yang baik. Lalu, disimpulkannya dengan ringan, mengakhiri kasusnya adalah dengan membiarkan alam membereskannya secara alamiah, biar alam yang menimbun mereka para bandit satu demi satu. Bima percaya dunia bandit akan hening lantas hilang, kehoroan namanya luntur suatu waktu.

Begitu saja akhir dari kisahnya, tidak mengejutkan. Tapi setidaknya dunia normal akhirnya tahu. Kisah ini tidak menarik, tapi semoga menjadi bahan permenungan tentang pemakluman pada perlakuan kezoliman, lalu lantas menemukan jalan baru.