“In a world seduced by screens, the future of paper might seem uncertain. But many in the industry remain optimistic – after all, you can’t blow your nose on an email.” - David J Unger

The Dream of Paperless Society

Pernah mendengar Paperless Society? Ya, konsep masyarakat tanpa kertas begitu diagung-agungkan di abad kian modern ini. Digitalisasi dan otomatisasi semakin merajalela menggantikan kertas dari berbagai fungsi. Ternyata konsep paperless society sudah digencarkan sejak puluhan dasawarsa silam.

Konsep “paperless office of the future” pernah populer pada pertengahan tahun 70-an. Bahkan pada tahun 1993, Connolly dan Kleinr dengan yakin mengklaim bahwa di masa depan bolpoin dan kertas tidak lagi dibutuhkan. Dokumen pekerjaan kantor akan ditangani oleh jaringan dan terminal komputer. Dengan otomatisasi di dunia perkantoran ini tentu konsep Paperless akan semakin nyata.

Tidak bisa dipungkiri bahwa munculnya konsep Paperless memberi manfaat besar yaitu pengurangan biaya print, biaya mengkopi dokumen, informasi lebih mudah diakses dengan efektif melalui self-service dalam bentuk website, social media, online news, dan lain-lain. Konsep Paperless juga menawarkan proteksi online yang tidak rentan terkena air, api, dan serangga perusak kertas.

Bukan hanya dari segi manfaat praktis aktivitas kantor, Paperless Office secara tidak langsung juga membantu pengurangan deforestasi, pembatasan polusi, dan pengurangan limbah padat. Hal ini disampaikan oleh Schelberg tepat 18 tahun silam.

Selain dunia perkantoran, pihak universitas juga tak mau kalah mengkampanyekan konsep paperless dengan merencanakan gerakan “The Paperless University Project”. Proyek kebaikan ini merupakan inisiatif Loyola University yang bertujuan untuk menghemat biaya dan menaikkan efisiensi (didalam proses kegiatan Universitas) yang bertujuan untuk menimalisir masalah lingkungan.

Universitas lainnya yang mempunyai visi sama dengan Loyola University adalah Anaheim University di California. Pada 2020 tercantum bahwa Anaheim University bangga dengan visi mereka menjadikan Universitas dengan konsep Paperless pertama di Dunia.

Bahkan untuk mewujudkan paperless society sudah ada panduan untuk mengurangi penggunaan kertas diantaranya Scan Everything (memindai dan menyimpan dokumen secara digital), Set up paperless faxing (menggunakan online fax service untuk mem-forward pesan tanpa harus dicetak , Embrace Electronic Signatures (pembubuhan tanda tangan digital), Take Digital Notes (catatan digital),dan Reduce Where You Can’t Eliminate (mencetak sesedikit mungkin).

Beberapa solusi dan kemudahan yang ditawarkan oleh paperless society dari pemaparan sebelumnya jika terwujud akan membawa angin segar bagi keberlangsungan hidup manusia di bumi dan membantu terciptanya keseimbangan lingkungan.

Impian Semu Net Generation

Bercerita tentang paperless society cukup unik jika disandingkan dengan generasi serba modern. Don Tapscott menyebutnya net-generation atau “N-Gen”. Bagaimana tidak? Konsep paperless society sangat sesuai dengan keseharian N-Gen.

The net-generation atau generasi internet adalah generasi baru yang muncul pada dua dekade terakhir abad 20. Generasi ini hidup dengan dunia digital atau komputer, hidup di dalam samudera informasi yang dapat diakses di mana saja dan kapan saja.

Dengan maraknya penggunaan internet dan media digital oleh N-Gen idealnya akan menyingkirkan penggunaan kertas dalam berbagai fungsi. Mulai dari surat menyurat, pengiriman berkas pendaftaran sekolah, kuliah dan sebagainya. Lalu apakah konsep paperless terwujud sekarang? Sayangnya tidak. Paperless society masih menjadi ekspektasi yang tak kunjung menjadi kenyataan.

Tanda-tanda kematian kertas sempat hinggap di dunia universitas, pemerintahan, ruang berita dan sebagainya. Entah kenapa seperti tinggal satu langkah lagi paperless society tersebut mendekat tapi tidak pernah sampai. Paperless society seakan menjelma menjadi hantu gentayangan yang enggan tak enggan ingin menampakkan wujudnya.

Berdasarkan situs paperadvance.com (29/12/2017) "Kami telah mendengar cerita tentang paperless office, tapi kami belum pernah melihatnya" tulis Sellen dan Harper dalam buku The Myth of the Paperless Office.

Pada pertengahan tahun 70-an, Businessweek menerbitkan sebuah artikel dari kepala lab penelitian Xerox yang menggubah sebuah visi yaitu "kantor masa depan tanpa kertas".

Namun kenyataannya, penggunaan kertas terus meningkat. Konsumsi global tumbuh sebesar 50% antara tahun 1980 dan 2011 (theguardian.com)

Teknologi screen resolution dan pengguna interfaces meningkat dramatis namun ironisnya teknologi ini terlihat dan terasa sangat mirip kertas. Belum lama ini, sebuah startup bernama reMarkable meluncurkan sebuah tablet yang menawarkan “the most paper-like digital writing experience ever”. Dengan kata lain teknologi sudah seperti ular yang memakan dirinya sendiri.

Dikutip dari laman icon.uk mendekati abad 21 masyarakat akan semakin dekat dengan paperless society. Namun seiring makin majunya bisnis global ada saatnya penggunaan kertas masih dibutuhkan.

Beberapa pertimbangannya yaitu penandatanganan dokumen, transaksi, dan lain-lain. Mungkinkah hal itu dilakukan tanpa bukti kertas secara fisik? Seperti penandatangan form kontrak, form persetujuan pasien, atau form daftar belanja. Tentu saja hal itu membutuhkan tandatangan secara cepat dan memerlukan kertas.

Adapun pertimbangan lain yaitu efisiensi workflow. Workflow adalah urutan proses industri, administrasi atau proses lain yang berpindah dari inisiasi sampai selesai. Jika terjadi sebuah kasus, tanda tangan asli non-digital akan lebih mudah diidentifikasi secara forensik. 

Industri Kertas yang berbaik hati

Dengan mewujudkan paperless society seperti yang awam diketahui, penebangan pohon akan berkurang, alam akan senantiasa terjaga dari efek gas rumah kaca (GRK) dan manusia akan aman tinggal di bumi terbebas kekhawatiran efek penebangan pohon untuk pembuatan kertas.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa industri kertas merupakan salah satu penyumbang utama polusi dan salah satu kontributor terbesar gas rumah kaca dengan lebih dari 900 juta pohon yang ditebang setiap tahunnya

Namun tahukah anda bahwa industri kertas mempunyai rencana untuk turut menjaga keseimbangan alam? Ya. Industri punya tanggung jawab sosial yang harus dijalankan.

Terlepas dari besarnya kontribusi buruk yang dihasilkan oleh industri kertas terhadap emisi Gas Rumah Kaca ada upaya baik yang dilakukan industri. Industri tersebut yaitu Pindo Deli Pulp and Paper Mills-Karawang yang merupakan salah satu unit industri Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas.

Industri ini berhasil melakukan penghematan energi secara signifikan setelah satu tahun menerapkan Clean Manufacturing Program (CMP) dalam proses produksi pulp dan kertasnya.  

Tercatat bahwa pengurangan penggunaan energi 10% pada tahun pertama penerapan CMP.  Hal demikian sangat pantas diapresiasi karena hasil tersebut dua kali lipat lebih besar dari target awal. Proyek ini merupakan kolaborasi antara  APP Sinar Mas dan IDH the Sustainable Trade Initiative.

Penurunan energi tersebut juga  berkontribusi terhadap 5% pengurangan emisi gas rumah kaca. (Kabartangsel.com 21/12/2017).

Selain aksi nyata mendukung keseimbangan iklim yang dilakukan oleh Pindo Pulp & Paper dari APP Sinar Mas tersebut, inovasi lain juga dipelopori oleh PT Fajar Surya Wisesa Tbk yang memanfaatkan teknologi hemat energi ala jepang pada proses daur ulang kertas bekas (OCC Line).

Teknologi ini mampu menghemat konsumsi listrik, mengingkatkan efisiensi dan akhirnya mengurangi emisi Gas Rumah Kaca. Fajar Paper merupakan peserta proyek Joint Credit Mechanisme (JCM) Indonesia-Jepang yang bertujuan untuk mengurangi emisi GRK melalui implementasi teknologi bersih.

Program JCM akan menambah jumlah pengurangan emisi GRK yang sebelumnya sudah dilakukan oleh Fajar Paper melalui program Clean Development Mechanisme yang dikelola oleh PBB, melalui (UNFCCC) United Nation Framework Convention on Climate Change. (Bisnis.com 01/09/2017)

Berdasarkan beberapa pemaparan sebelumnya diharapkan ada perubahan pola pikir masyarakat untuk mengapresiasi upaya industri sebagai tanggung jawab sosial perusahaan di bidang lingkungan hidup.

Hal demikian juga tidak terlepas dari upaya mendukung tujuan program SDGs (Sustainable Development Goals) dua diantaranya yaitu Industry, Innovation, and Infrastructure (mewujudkan infrastruktur yang berkualitas, mendorong peningkatan industri yang berkelanjutan serta mendorong inovasi) dan Climate Action (bertindak cepat untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya).

Oase Fortuna

Kabar menyegarkan bagai oase padang pasir datang dari Menteri LHK (Lingkungan Hidup dan Kehutanan) mengatakan bahwa Industri Pengolahan Limbah dalam hal ini PT. Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLi) yang beralamat di Jl. Raya Narogong Desa Nambo Kecamatan Kelapa Nunggal, Kabupaten Bogor merupakan bisnis masa depan di Indonesia.

Bisnis pengelolaan lingkungan merupakan bisnis masa depan yang didukung oleh terbukanya peluang investasi untuk menggarap jasa pengelolaan dan penanganan limbah-limbah hasil indutsri ataupun rumah tangga. Bisnis ini dapat menghasilkan nilai finansial tinggi serta meningkatkan kualitas lingkungan hidup.

Dikutip dari laman www.menlhk.go.id (12/02/2016) banyak manfaat yang diperoleh dari jasa pengolahan limbah. Saat ini pemerintah sedang mendorong waste to energi. Bisnis pengolahan limbah menjadi energi bisa menjadi salah satu elemen yang mendukung terwujudnya keinginan tersebut

Oleh karena itu Menteri LHK  mendukung investasi terkait pengelolaan lingkungan. Menteri LHK memiliki gagasan mencari peluang-peluang pemberian Public Service Obligation (PSO) sebagai pola subsidi kepada investor yang berminat untuk mengembangkan program waste to energi.

Hal ini merupakan upaya untuk menunjang langkah Indonesia mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dan limbah.

Limbah kertas merupakan limbah yang sangat potensial untuk dikelola. Hal ini didukung oleh data dari Environmental Protection Agency bahwa kertas adalah materi yang paling sering dibuang, membentuk 40% dari sistem limbah.

Studi menunjukkan lebih dari 45% kertas kantor dibuang dan dilempar keluar pada hari yang sama dengan hari kertas tersebut dicetak dan lebih dari 80% tidak pernah dipakai lagi.

Kertas yang dibuang dari kantor dan kertas sampah dari rumah tangga dapat digolongkan menjadi limbah rumah tangga diluar limbah produksi industri.

Tentunya harus ada kebijakan untuk masyarakat dan pekerja mengumpulkan limbah kertas rumah tangga tersebut dalam satu wadah yang kelak akan dikelola oleh industri pengolahan limbah. 

Industri Pengolahan Limbah Kertas mendukung Ekonomi Berkelanjutan

Dengan adanya industri pengolahan limbah akan mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan. Bagi masyarakat yang berbasis ekonomi inklusif seperti Indonesia maupun di negara lainnya, keseimbangan antara pembangunan ekonomi, keadilan sosial dan kemajuan serta keberlanjutan ekologi harus dirumuskan secara jelas.

Ekonomi berkelanjutan juga merupakan salah satu tujuan mulia dari SDGs yaitu Decent Work and Economic Growth (mendukung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan, lapangan kerja yang produktif serta pekerjaan yang layak untuk semua orang) .

Salah satu poin dari tujuan Decent Work dan Economic Growth yang sesuai dengan industri pengolahan limbah ini adalah poin 8.4 yaitu meningkatkan secara progresif sampai tahun 2030, efisiensi sumber daya global dalam konsumsi dan
produksi dan berusaha untuk memisahkan pertumbuhan ekonomi dari degradasi lingkungan.

Dengan mengelola limbah kertas akan mengurangi dampak negatif dari limbah yang berkaitan dengan degradasi lingkungan yang tentunya mendukung efisiensi sumber daya global.

Paperless Society in N-Gen Era. Dream? Problem? Myth? or Opportunity?

Melihat beberapa fakta dengan berbagai kondisi dapat diasumsikan bahwa jika paperless society tidak terwujud tidak akan menjadi masalah yang begitu besar. Sebab industri sendiri sudah dari awal menawarkan berbagai solusi berkaitan dengan keseimbangan iklim dan alam.

Masyarakat tanpa kertas akankah hanya menjadi mimpi belaka? Atau sekedar mitos? Lebih tepatnya jika boleh berasumsi. Paperless Society adalah mimpi ½ mutlak terwujud, karena yang terpenting adalah bagaimana mereduksi penggunaan kertas bukan menghilangkannya.

Dengan prioritas penggunaan kertas diharapkan semua pihak baik masyarakat, universitas hingga industri dapat melakukan hal terbaik untuk bersama mewujudkan keseimbangan iklim, industri berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. 

Takkan ada ucapan selamat tinggal untuk kertas. 

Kutipan indah tentang kertas "Great Ideas are started on Paper, The world is educated on paper, Bussiness are founded on paper, Love is professed on paper, Important news is spread on paper."