Pohon dan kertas, acap kali kita tidak sadar bahwa alam bawah sadar kita sudah digiring oleh begitu banyaknya informasi terkait dampak buruk kertas bagi bumi kita ini. Produksi kertas satu rim menggunakan satu pohon berusia lima tahun, satu banding lima kertas terbuang sia-sia, dan stigma buruk lainnya yang menggiring opini seolah menyandingkan kebaikan Paperless Society di atas keburukan Paper Society

Coba jawab pertanyaan berikut yang menurut saya agak menggelitik bila dipikirkan dengan baik, "Kalau anda membaca tulisan, khususnya untuk jangka waktu yang panjang, lebih nyaman di kertas atau peranti elektronik?" 

Sekiranya menurut saya, tentu jawabannya adalah kertas bukan? Kemudian, "Seberapa sering anda mencetak informasi yang sifatnya 'paperless'?" 

Saya sebagai mahasiswa hukum, jujur saja mengalami kesulitan bila harus membaca materi yang tidak sedikit kuantitasnya melalui laptop atau peranti lainnya. Tidak jarang problematika seperti mata pedih dan kepala pusing saya jumpai ketika belajar menggunakan media elektronik, sehingga tak jarang saya mencetak tulisan-tulisan tersebut tanpa pikir panjang. 

Pada tulisan ini, saya mengajak anda, pembaca, untuk lebih bijak lagi menyikapi paperless society. Saya akan mematahkan stereotip terkait dampak buruk penggunaan media kertas dengan fakta-fakta berikut yang saya sampaikan.

Fakta yang Tak Bisa Dipungkiri

Sebelum saya paparkan fakta-fakta yang tak banyak orang ketahui, berikut saya jabarkan beberapa fakta terkait eksistensi industri kertas:

  1. Limbah yang dihasilkan dari proses produksi kertas sangat besar, baik secara kuantitatif dalam bentuk cair, gas, dan padat, maupun secara kualitatif;
  2. Sekitar 42% dari hasil panen kayu hutan digunakan untuk membuat kertas atau industri kertas;
  3. Industri kertas merupakan penyumbang terbesar ke-4 untuk emisi fuel rumah kaca diberbagai negara kontemporer dan memberikan kontribusi 92-110 dari emisi karbon sektor manufaktur;
  4. Indonesia sudah kehilangan sekitar 72% hutan aslinya dan semakin haripun kerusakan hutan masih tetap berlanjut.

Kurang lebih demikianlah pemahaman kita sejauh ini terkait industri kertas.

The 'Paperless Society' Is Far From Paperless

Di atas adalah judul dari sebuah artikel di Forbes, mungkin anda sudah pernah membaca tulisan yang saya maksud. Tom Ehrlich, 80 tahun, beliau menyatakan bahwa agak mustahil untuk membaca berlembar-lembar artikel atau memorandum tanpa di-print terlebih dahulu. 

Ernestine Fu, jauh lebih muda dan mampu menyerap informasi dari teks online jauh lebih mudah daripada Tom. Tetapi bahkan dia merasa sulit untuk membaca potongan prosa yang panjang kecuali jika ada di atas kertas, terutama jika dia dipanggil tidak hanya untuk memperhatikan dengan seksama apa yang tertulis, tetapi juga untuk menulis komentar yang bijaksana sebagai tanggapan.

"E-reader berbasis E-Ink seperti Kindle ada dimana-mana kok tidak dijadikan alternatif?" Pertanyaan seperti ini menurut saya sangatlah eutopis untuk diterapkan. Saran yang baik, namun tidak cocok untuk semua orang. 

Coba bandingkan harga kertas dengan peranti tersebut, tentu terpaut jauh bukan? Tidak semua orang rela menghabiskan uangnya yang mau dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sulit untuk membeli peranti tersebut.

Kemalasan dan Kertas

Hingga saat ini, sebuah pertanyaan besar masih menghantui benak saya, "Kalau kertas bekas yang tak terpakai memang sebanyak itu di lingkungan dan dampak yang ditimbulkan oleh proses produksinya juga bukan main-main, kenapa tidak dimanfaatkan saja untuk daur ulang?" 

Daur ulang yang saya maksud di sini tentu oleh perusahaan terkait, dan bukan oleh kita konsumen. Secara ya, menurut saya tidak efektif bila kita yang harus mendaur ulang dengan kemampuan industri rumahan, apalagi sekelas orang kantoran yang jam luangnya bisa dihitung. 

Bukan tidak ada sama sekali pabrik yang memanfaatkan bahan recycled paper untuk produksi kertas baru (contohnya PT Pabrik Kertas Noree Indonesia), namun sedikit jumlahnya sehingga menurut saya sedikit lucu bila kita komplain hutan gundul tapi kertas di lingkungan nganggur tidak didaur ulang. 

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Misbahul Huda, kapasitas produksi pengolahan limbah kertas di dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku untuk jenis kertas bersatuan putih di bawah 70% seperti koran dan karton. 

Padahal, industri kertas merupakan kontibutor devisa terbesar ketujuh dari sektor non-migas di Indonesia menurut Asia Pulp and Paper (APP) Consumer Business Unit Head, Sovan K Ganguly. Pada 2016, industri pulp dan kertas menyumbang US$ 3,79 miliar atau Rp 49,21 triliun (estimsi kurs 13.300 per dolar AS) pada pendapatan negara. 

Maka dari itu, saya asumsikan saja bahwa produsen kertas tanah air 'malas' memanfaatkan sumber daya yang ada oleh sebab biaya yang lebih tinggi dan lain-lain.

Daur Ulang Kertas Tidak Sesulit Itu Kok

Dilansir dari alamendah.org, semua orang dapat mendaur ulang kertas yang mana artinya tidaklah sulit sesungguhnya untuk dilakukan. Bahan yang dibutuhkan untuk membuat kertas daur ulang adalah kertas bekas, lem kayu, air, dan zat pewarna. 

Sedangkan peralatan yang dibutuhkan yakni screen sablon atau bingkai kayu dengan kain kasa seukurang kertas yang diinginkan, ember untuk merendam, blender, papan, kain, dan gunting. Terdengar sederhana kan?

Kertas Justru Mengurangi Degradasi Lingkungan

Seperti yang sudah kita ketahui dan tidak akan saya jelaskan secara rinci, plastik adalah media yang banyak sekali digunakan dalam kehidupan. Bahan ini sifatnya non biodegradable, yang mana artinya tidak dapat diuraikan oleh bakteri atau organisme lainnya sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat terurai. 

Dalam mengurangi ketergantungan kita terhadap plastik, banyak solusi-solusi kreatif hadir yang mana salah satunya adalah berbahan dasar kertas. Paper bag, botol minum kertas, sedotan kertas, dan lain-lain. Alih-alih menyebabkan kerusakan, kertas sesungguhnya merupakan solusi yang baik bila dimanfaatkan dengan baik pula.

Solusi Permasalahan

Menurut saya, kita masih jauh dari dunia yang paperless sesungguhnya. Banyak nilai-nilai dari kertas yang belum dapat digantikan oleh teknologi seperti misalnya keaslian tandatangan dan lain-lain. 

Berdasarkan penjabaran saya di atas pun, kita sudah terang bahwa sesungguhnya pengadaan kertas bukanlah suatu keburukan. Keburukan timbul oleh sebab kemalasan manusia mendaur ulang sumber yang ada, dimana pada kasus ini kebanyakan produsen kertas.

Maka dari itu, solusi yang saya tawarkan adalah dengan pengadaan regulasi terkait industri kertas dimana pemerintah membatasi produksi kertas baru dan mewajibkan produsen untuk memproduksi dengan bahan kertas bekas. Tak perlu mengumpulkan ke setiap rumah untuk memperoleh kertas-kertas bekas yang ada. 

Kertas bekas dapat dibeli di pengumpul kertas bekas yang tak sedikit jumlahnya di banyak daerah. Tentu dampak yang akan langsung timbul adalah naiknya harga kertas yang menurut saya bukanlah hal yang buruk. 

Bila harga kertas naik, masyarakat akan terdorong untuk lebih menghargai kertas, bahkan mengumpulkan kertas bekas dan menjualnya ke pengumpul. Niscaya dengan diberlakukannya sistem tersebut yang saya jelaskan di atas, kertas tidak lagi menjadi 'musuh' lingkungan.