55130_64750.jpg
Budaya · 6 menit baca

Paperless Society, Dunia yang Kelebihan Maaf

Menyebut kertas, ingatan kita tak akan jauh beranjak selain tentang tulisan. Kertas adalah ladang permanen tulis-menulis.

Tidak perlu jauh mengingat masa 50 tahun lalu atau bahkan sebelum itu, cukup perhatikan bungkus nasi pecel, bungkus alat-alat elektronik, bungkus kacang rebus, bungkus minuman. Tanpa terkecuali, semuanya memuat tulisan-tulisan. Pada tulisan-tulisan itu, banyak pesan terjelaskan tapi sayang kita enggan menyebutnya sebagai pesan tertulis yang cukup berarti.

Saya sering menemukan puisi cinta pada bungkus kacang rebus yang dijual oleh bapak-bapak tua di taman kota Sumenep. Sering juga saya menemukan kasus pencabulan di koran-koran bekas yang menjadi bungkus nasi. Selebihnya, saya menemukan kosa kata inggris di berbagai kardus pembungkus alat elektronik maupun non-elektronik.

Di titik ini, kertas sebenar-benarnya adalah medium pesan tertulis. Bukan yang lain. Jika ia dialihfungsikan menjadi tisu, bungkus kacang atau nasi, dan seterusnya, itu hanya bagian dari fungsi tambahan atau alternatifnya dan ia bukan lagi kertas dalam kedudukan yang pertama—sebagai medium menulis.

Tahun 2000-2010, saya menggunakan kertas sebagai medium untuk menulis. Saya tinggal di daerah yang bisa dianggap terisolir, di Pulau Raja, Kecamatan Gili-genting, Sumenep, yang sudah bisa dipastikan, aktivitas tulis-menulis tidak bisa diaktualkan dengan alat-alat elektronik. Kertas menjadi satu-satunya. Menulis surat untuk pacar, mengerjakan tugas sekolah, menulis cerpen dan menggambar sudah bisa dipastikan pula hanya menggunakan kertas.

Menggunakan kertas sebagai medium langsung tulis-menulis sebetulnya tidak semudah menggunakan alat-alat elektronik—waktu itu saya menulis dengan tangan. Saya harus berusaha keras dan ekstra hati-hati saat menulis surat cinta untuk kekasih. Jika ada kosa kata yang tidak tepat, jelas tidak mungkin dihapus—harus pakai kertas yang baru—karena dalam aturan surat cinta melalui kertas dengan tulisan tangan, pesan cinta tidak boleh salah walaupun sedikit.

Untuk tidak mendapatkan kesalahan walau setitik itu, butuh konsentrasi penuh. Rata tengah atau paragraf diatur manual.

Beda ketika menggunakan alat-alat elektronik, salah ketik abjad dan salah spasi, atau bahkan salah kapitalisasi sudah bagian dari normalitas. Gagal fokus, salah fokus bisa diatasi dengan mudah. Rata tengah dan seterusnya bisa diatur. Font pun bisa dipilih sesuai nafsu si penulis. Setelah itu dicetak. Tulisan tangan, harus sejak awal hati-hati. Font tulisan sesuai kemampuan seadanya.

Jika keduanya diperbandingkan, menulis dengan alat elektronik membuat banyak penulis tidak perlu fokus berat. Jika salah, tinggal diedit. Sedangkan menulis dengan tangan memerlukan konsentrasi berat, sebab, apa yang ditulisnya langsung tercetak di kertas seketika itu pula. Nah, tepat di titik ini, masyarakat tanpa kertas atau paperless society bisa dianggap sebagai kumpulan masyarakat yang biasa membuat kesalahan ketik.

Itu normal. Beda dengan paper society yang memang menghendaki segala kesalahan-kesalahan cetak atau tulis tangan dalam menulis tidak boleh ada. Ya, semisal menulis surat lamaran kerja dengan tulisan tangan, tidak boleh ada erasing atau correcting di dalamnya.

Jika disimpulkan secara sederhana, masyarakat yang tidak menggunakan kertas untuk menulis sudah pasti menyepelehkan kesalahan-kesalahan dalam proses menulis. Penyepelehan atas kesalahan ini mengakibatkan tidak stabilnya psikologi seseorang dalam bertindak.

Biasanya, mereka sembarangan berbicara, ceplas-ceplos, lalu minta maaf. Diulangi lagi, lalu minta maaf lagi.

Di paperless society hanya dua hal; salah lalu edit. Mudah salah, mudah diedit. Karena mengedit itu mudah, maka melakukan kesalahan pun bukan masalah. Ini tentu berpengaruh pada tindakan sosial. Melakukan kesalahan pada sesama bukan masalah, toh, ada pemaafan.

Dunia dengan kertas adalah antitesanya. Paper society justru mengkampanyekan sebaliknya, yakni kehati-hatian dalam menulis, sebab di dalamnya tak ada ampun bagi kesalahan. Jika salah cetak atau tulis, maka harus diulang dari awal, dicetak lagi. Kesalahan dalam cetakan ini akan melekat di kepala-kepala pembaca karena ia tercetak.

Untuk memasuki masyarakat kertas atau cetak ini, diperlukan kehati-hatian dan konsentrasi penuh. Jelas dengan ini, paper society akan menggiring pada peradaban sosial yang lebih hati-hati. Di sinilah pentingnya kertas bagi kehidupan sosial; menjadi kritik bagi dunia yang ceplas-ceplos dan penuh dengan pemaafan. Di bagian ini, paper society bisa disebut golongan masyarakat cetak dan paperless society sebagai golongan masyarakat non-cetak.

Dengan kreativitas tangan pada kertas, tulisan-tulisan cetak lahir tanpa kesalahan. Dengan tangan dan kertas, surat-surat cinta tanpa kesalahan diproduksi dengan hebat. Penulis yang menggunakan tangan dan kertas sebagai medium langsung harus disebut hebat karena ia tak mudah membuat kesalahan dalam tulisannya. Harus sangat hati-hati.

Di dunia hand-writing dan paper as direct medium ini, kesalahan bukan lagi sesuatu yang biasa. Segala sesuatu harus selalu mencapai kesempurnaanya dan akhirnya, salah itu harus diperbaiki secepat mungkin, bukan dimaklumi dan dianggap normal. Kampanye paper society ini adalah bagian ultima dari paradigma sosial dan penanaman norma-norma etis dengan tidak menyalahgunakan maaf.

Di tengah dunia yang selalu dipenuhi orang-orang malas dan ceroboh ini, kertas atau tulisan cetak tidaklah praktis karena di dalamya memuat doktrin; tidak boleh salah, harus sempurna, berat, dan tidak memudahkan kita untuk berbuat salah dan bermalas-malasan. Karenanya, kertas berusaha diminimalisir fungsinya.

Berkas yang biasanya tersusun dengan kertas-kertas berjubel kini sangat minimalis berbentuk satu flashdisk dengan istilah soft-file. Katanya, file-file lebih praktis dan mudah dibawa. Jika flasdisk hilang, hilanglah semuanya. Lebih praktis dibawa dan lebih praktis lagi untuk hilang. Lebih labjut, paperless society ini memuat doktrin malas, dan bagi pemalas, dunia tanpa kertas ini justru tempat rekreasi yang paling menyenangkan.

Selain itu, paperless society ini mengancam bangunan pengetahuan kita. Berita hoaks dan teori-teori pengetahuan yang dangkal mayoritas hanya dengan mudah diakses di dunia paperless. Di internet, facebook, website dan seterusnya.

Mudah bagi siapapun menulis suatu gagasan tanpa dicetak. Mudah pula membodohi khalayak di dunia paperless ini. Mudah pula para pemalas dibodohi. Mudah melakukan pelintiran informasi. Semua hal mudah dibuat. Cukup bermodal aplikasi dan gratis internet. Inilah yang berbahaya pada dunia nir-kertas.

Di paper society tidak demikian. Untuk menerbitkan gagasan atau menulis opini ke media cetak, terdapat verifikasi panjang, karena setelah opini tercetak, tak ada siapapun yang dapat menghapusnya.

Jika di dalamnya memuat kesalahan, maka kesalahan itu langsung menjadi bukti fisik kesalahan itu sendiri. Karenanya, untuk menerbitkan teori-teori keilmuan menjadi buku atau kertas-kertas cetak, penerbit perlu menyeleksi muatan gagasan tersebut, dari tata cara menulis hingga ide tulisan itu. Gravitasi pada dunia paper society ini adalah kehati-hatian dan ketekunan. Di paperless society adalah sebaliknya.

Lebih lanjut, di paperless society, semua orang bisa menulis, bahkan menulis fitnah-fitnah. Mudah sekali. Kata mereka, semua hal lebih praktis. Padahal, menurut saya justru lebih rumit. Mencari informasi yang terpercaya di dunia maya atau paperless society ini sulit. Rumit, bukan?

Untuk membedakan berita yang akurat benar dan akurat bohong sangatlah tidak mudah. Di sinilah problematikanya. Bagi masyarakat pemalas, paperless society ini adalah pintu menuju peradaban yang lebih malas lagi. Di sana, para pemalas akan menyantap berita dan ilmu sesat dengan mudah dan cepat sekali.

Semakin dunia ini dibuat mudah, maka semakin malas setiap orang berusaha dengan dirinya. Mereka akan mencari cara termudah dari yang paling mudah dengan mencari beragam alat bantu kemudahan. Bukankah setiap hal yang diinginkan dengan mudah menandai benih-benih kemalasan yang begitu kuat? Paperless society ini simbol yang berdiri tegak atas nama kemudahan umat manusia yang di dalamnya termuat rapi kampanye-kampanye kemalasan itu.

Kita tinggal perhitungkan, apakah kemudahan akses dan segala macamnya di dunia ini tanda kemajuan, atau justru tanda kemalasan manusia untuk berjuang lebih sulit lagi? Bukankah semakin mudah dunia ini dipreteli, justru semakin manja dan malas manusia-manusianya?

Jangan-jangan, paper to paperless society ini juga bagian dari proyektifitas modern yang sengaja disuguhkan untuk memasuki dunia serba berkemudahan dan berkemalasan.

Tapi, darimana ide proyektifitas ini muncul jika tidak mencium pola-pola kehidupan manusia yang semakin butuh kemudahan karena bermalas-malasan? Pertanyaan demi pertanyaan biasa saya ungkapkan di akhir tulisan saya untuk membuka wacana kritis yang tidak akan pernah selesai. Ia harus senantiasa dipertanyakan.

Saya mengira, problematika sosial di dunia yang penuh dengan orang-orang malas tidak dapat diselesaikan dengan memudahkan segala hal di dalamnya. Justru berlaku sebaliknya. Semakin mudah segala sesuatu, maka semakin terbawa manusia pada doktrin-doktrin kemudahan.

Di saat doktrin kemudahan ini datang, malas akan diam-diam merasuki tatanan kemudahan ini. Akhirnya, paper to paperless society menandai beralihnya masa perjuangan ke masa kemanjaan. Dari masa anti maaf ke masa kelebihan maaf.