Paperless Society yang dalam istilah lokal kita kenal sebagai “Masyarakat Tanpa Kertas”. Adalah  sebuah pesan yang teramat provokatif, imajinatif, dan barangkali juga sangat ambigu.

Provokatif karena bagi sebagian besar para pembacanya tentu akan menimbulkan semacam efek kejut listrik, yang secara langsung menohok simpul-simpul kortex alam sadar di kepala. Sisi imajinatif-nya adalah pesan ini mampu melampaui batas-batas ruang dan waktu, mengarungi beberapa generasi. Sementara, unsur ambigunya menggelitik para pembaca pesan untuk tidak berhenti pada ranah tanya, tapi membuka pintu lain yang secara langsung menggiring mereka pada ruang pro-kontra, ruang dimana gairah dan wacana berlimpah ruah.

Adakah pesan ini secara khusus di arahkan?, katakanlah semacam; pesan frontal, pesan kejatuhan, yang kemudian nantinya akan bermuara pada kehancuran suatu rezim peradaban usang (dunia kertas?) old culture. Ataukah, sekedar ramalan penghibur zaman yang tenar, sebab ketenarannya berbanding lurus dengan segala irrasionalitas yang ada padanya?.

Pertanyaan mendasar yang perlu diselesiakan sebalum melangkah terlebih jauh: Benarkah kertas akan musnah dari peradaban manusia? (mengacu pada makna tekstual). Kalau ia, dasar logikanya bagaimana?. Bagaimana pula jika logika paperless di benturkan dengan data-data pertumbuhan ekonomi negara-negara yang menerapkan konsep teknologi maju. Mencermati data survei yang tersebar di berbagai media, terutama di negara-negara dengan tingkat pertumbuhaan ekonominya tinggi. Ada semacam kecendrungan umum bahwa; semakin maju perekonomian suatu masyarakat (Negara) tingkat kebutuhan terhadap produk-produk kertas justru semakin meningkat. Lantas siapa toh yang dimaksud F. W. Lancester sebabai masyarakat tanpa kertas? (masyarakat fiksi?).

Berdasarkan catatan sejarah, Lancester bukanlah seorang penulis fiksi, melainkan seorang akademisi, peneliti, yang karya-karyanya tentu berdasar pada landasan empiris (benar-salahnya bisa di uji).

Bila mengacu pada apa yang telah dicatat sejarah, maka tidak diragukan lagi bahwa Paperless Society merupakan hasil perenungan yang mendalam, rasional, empirik, faktual (malampaui ruang-ruang ramalan yang cenderung menolak logika) berbanding terbalik dengan julukan tukang ramal yang kini di alamatkan padanya - Paperless society, adalah dua suku kata yang lahir dari rasionalistas seorang ilmuan yang membaktikan hidupnya pada disiplin ilmu yang ia geluti.

Fakta malawan fakta?

Melawan mainstream tentu bukanlah suatu perkarah mudah, tak ubahnya menodongkan sebuah senjata mematikan. Tapi, dalam kasus Lancester ini; alih-alih senjata itu di todongkan ke arah kubuh lawan, moncong senjata justru mengarah langsung ke jidat sendiri.

Tapi, orang yang mengunakan rasionya secara benar, jujur pada segala fakta-fakta yang menghimpun kesadaran logis. Jangankan melawan mainstream, melawan maut sekalipun tak bakal gentar ia. Socrates adalah soko guru dalam soal ini, benar bahwa penghujung hidupnya berakhir secara tragis di tiang pancungan, tapi rasionalitas buan fikirannya masih terus membentang hingga saat ini.

Orang bisa salah, bisa keliru!. Adakalanya manusia tersandung, terjatuh, terperosok, dll - perkara lumrah yang tak perlu lagi diperdebatkan. Hukum yang sama juga berlaku pada Lancester

Untungnya, landasan berfikir Lancester bukan bersal dari ilham para ahli peramal, tapi dari landasan: empiris, logis, dan faktual. Empiris tentu bisa di uji, logis berarti ada sandaran ilmunya, dan faktual berarti ada jejak-jejak yang bisa di telusuri.

Soal unsur empiris, tentu tidak akan saya bahas disini. Jujur saja, ini ranah yang malampaui kecakapan dan pengetahuan penulis.


Menelusuri akar logika dan jejak-jejak fakta (Paperless Society)

Seperti yang sudah saya singgung diatas; manusia bisa keliru,... hukum yang sama juga berlaku pada Lancester. Tapi, kenapa Lancester tidak pernah melakukan semacam revisi pada karyanya; Toward Paperless Information Systems. New York: Academic Press (1978). Padahal dia adalah seorang saintis, praktisi, pakar, penelit sekaligus penulis yang sangat produktif. Terlebih lagi, karya ini ia hasilkan di usia yang boleh di bilang usia yang relatif masih sangat muda (45 tahun), usia produktif di paruh hidupnya yang wafat di usia 80 tahun (August 25, 2013).

Sisa hidupnya (35 tahun) kemudian, setelah mencetuskan “paperless Society” justru ia persembahkan untuk merangkai jalinan fakta bawha era kertas memang “akan segerah berakhir”. Praktis hanya berselang 4 tahun setelah karya fenomal di atas. Thn 1982, Lancester kembali mempublikasikan karyanya; Libraries and Librarians in an Age of Electronics. Adakah ini semacam tindakan keras kepala?, eksentrik?, mencuri perhatian?

Coba kita telisik lebih jauh. Di tahun 1973 Lancester bersama kawan sejawatnya Fayen, E. G. Melalui semacam riset bersama, yang kemudian dari riset bersama itu menghasilkan sebuah karya empirik; Information Retrieval On-Line. Los Angeles: Melville Pub. Co., Lancester bersama kawannya ini bahkan menyinggung-nyinggung soal hadirnya medium on-line (medium yang kini menjadi ancaman serius bagi eksistesi kertas sebagai satu-satunya medium informasi yang bersifat transformatif-legitima). Lima tahun lebih awal, sebelum istilah paperless society ia perkenalkan.

Lancester bukanlah seorang pakar teknologi, ekonomi, politik, apatah lagi pakar sejarah. Lantas darimana asal ide paperless society muncul?. Menurut hemat penulis ada beberapa faktor dimasa itu yang menjadi pemicu. Pertama: semakin kokohnya dunia industri. Industrialisasi merambah kesegala bidang, pruduksi barang-barang vital penyokong ekonomi mampu di lakukan dalam skala besar, sehingga output produksi cenderung menjadi murah. Kedua:  ditemukannya (dikembangkannya) teknologi-teknologi vital yang menjadi penyokong tegaknya dunia cyber yang kita kenal saat ini. Yang penulis maksud adalah: telegraf, radio, telepon, televisi, komputer, dan internet.

Sebetulnya, sebagian besar dari teknologi ini sudah ada, bahkan sudah menjadi buah bibir dikalangan para penemu dan para investor jauh sebelum Lancester di lahirkan. Boleh dikata, Lancester lahir di zaman teknologi-teknologi itu sudah mulai mapan. Dimana, media komunikasi sudah sangat interaktif; telepon, siaran radio, televisi, cakram gesek, dll.

Dalam prakteknya, hadirnya medium baru ternyata merubah pola komunikasi bahkan hingga pada tahap pola perilaku masyarakat, komunikasi yang cenderung satu arah, lambat laun mengalami feedback, hingga menghasilkan pola komunikasi dua arah, dan semakin ke belakang (seiring perkembangan teknologi) sangat memungkinkan terjadinya arus informasi multi-arah (teknologi konvergen). Masyarakat tidak lagi sekedar sebagai konsumen informasi, tapi di saat yang sama ia juga sanggup memproduksi informasi, membagi informasi. Dan, ini semua bisa dilakukan tanpa melibatkan kertas.

Fenomena sederhana semacam ini tidak mungkin luput begitu saja bagi seorang ilmuan sekaliber F.W. Lancester. Apakah ia menutup mata terhadap peran dan fungsi kertas dalam membangun peradaban moderen saat ini. Tentu tidak, ia belum cukup gila untuk melakukan hal semacam itu.

Lantas, apa sebetulnya yang ingin di sampaikan Lancester lewat pesan paperless society?. Dan siapa pula, society yang ia maksud itu?

Menurut hemat penulis, pesan yang ingin ia sampaikan kurang lebih seperti ini: Kertas dalam aspek tertentu, seiring dengan perkembangan zaman (teknologi) akan kehilangan fungsinya sebagai medium tunggal penyebar informasi - akan ada medium lain yang lebih praktis, aplikatif, editable, dll.

Saya kira pesan ini kurang lebih sama dengan pesan yang di sampaikan oleh Cai Lun kepada Rajanya ketika memperkenalkan hasil penemuannya (kertas). Caranya mungkin berbeda, Cai Lun menyampaikan pesan sebagai seorang bawahan kepada junjungan kaisar. Sementara Lancester menyampaikan dengan gaya egaliter, bukan kepada pemangku kekuasaan tentunya, tetapi kepada masyarakat dunia.

 

Fenomena Cyber Society

Dalam sudut pandang penulis. Cyber society adalah contoh model sederhana dari Paperless society, masyarakat yang tidak lagi tergantung pada kertas dalam mengolah, mengkonsumsi, dan membagikan informasi. Apakah masyarakat ini paperless secara total?. Tentunya tidak, mereka masih menggunakan tissu toilet ketika berada di toilet, membeli nasi bungkus ketika lapar, menggunakan karton ketika mengepak sesuatu, dll.

Apa mereka memenuhi syarak untuk dikatakan sebagai masyarakat?.

Menurut survei yang dilansir oleh APJII (Asosisi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia) periode bulan oktober 2017. Jumlah pengguna Internet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang, bandingkan dengan total populasi penduduk yang ada saaat ini 256,2 juta jiwa – Boleh dikata, lebih dari separuh total penduduk nasional telah memiliki akses Internet.

Seberapa intens orang-orang ini di dunia maya?

Di media Facebook, Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia (115 juta) pengguna. Twitter dan Instgram indonesia menduduki peringkat ke-5 dunia, Untuk Instagram sendiri, Indonesia merupakan forum terbesar di Asia Pasifik. Blogger di perkirakan ada sekitar 3 juta dari total pengguna internet aktif.


Kertas dan Status Quo

Bagaimana nasib kertas hari ini?. Di tengah gonjang-ganjing runtuhnya media cetak nasional, beberapa harus tutup usia dengan selusin alasan yang tak perlu lagi saya cantumkan disini. Sebagian lagi yang masih eksis, berpindah ke dunia online, kenyataan ini semakin mempertegas bahwa kertas di masa sekarang tak lebih dari sekedar pembungkus kacang?.

Adakah ini indikasi dari kemunduran zaman, dekadensi?. Pertanyaan yang sama perlu juga kita ajukan pada nasib gulungan-gulungan Papirus yang riwatnya telah tamat satu setegah millenia yang lalu, atau tanyakanlah pada naskah-naskah Lontar yang saat ini tak lebih dari sekedar benda rias mesium-mesium tua yang semakin terlupakan. Dengan begitu, maka nalar kritis kita bisa sedikit lebih tergelitik dan bergerak ke sebuah babak sadar bahwa: Status quo jenis apapun itu, bila berbenturan dengan semangat perubahan maka ia tak lebih dari sekedar fosil lapuk yang nantiknya akan menghilang dengan sendirinya (tanpa bekas) - hanya karena sapuan angin sepoi yang kebetulan saja mampir lewat.