2 minggu lalu · 116 view · 4 min baca menit baca · Pendidikan 79288_55727.jpg
Foto: fyouth.com

Paperless School dan Eksistensi Kertas di Dunia Pendidikan

Manusia sejarah menggunakan batu, logam, kayu, dan yang lainnya untuk mencatat. Selain untuk kepentingan sejarah, mereka juga menggunakannya untuk memberikan pesan pada manusia masa depan. 

Pada abad ke-2, Ts'ai Lun (Cai Lun) yang berasal dari Cina memperkenalkan kertas. Hal ini menandai awal dari sebuah peradaban baru yang sangat berpengaruh bagi dunia. 

Namun seiring dengan perkembangan teknologi, muncullah era digital yang mengurangi konsumsi kertas dalam kehidupan sehari-hari. Tulis-menulis surat kini digantikan dengan e-mail, kartu undangan digantikan dengan e-invitation, buku diperbanyak dengan format pdf, majalah dan koran mulai bertansformasi menjadi media online, bahkan uang kertas pun kini mulai digantikan e-money. Mungkinkah akan muncul paperless society?

Dunia pendidikan merupakan pengguna besar bagi konsumsi kertas. Sekolah merupakan institusi yang banyak menggunakan kertas dalam kegiatan belajar-mengajar. 

Berdasarkan data statistik Kemendikbud, jumlah siswa seluruh Indonesia sebanyak 44.923.177. Sementara itu, terdapat 269.764 sekolah yang meliputi seluruh jenjang pendidikan, baik negeri ataupun swasta, tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Ada harmonisasi antara kertas dan sekolah. Meskipun di era digital, kertas tidak bisa sepenuhnya lepas dari dunia pendidikan, tetapi siswa masih menggunakannya untuk mencatat dalam proses belajar. 

Buku sangat diperlukan siswa dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Demikian pun dengan guru, mereka masih menggunakannya sebagai sumber dan media belajar. Selain itu, kertas juga masih digunakan dalam administrasi sekolah, seperti penyusunan kurikulum dan rencana pelaksanaan pembelajaran.

Meski begitu, kita tidak bisa menutup mata mengenai perkembangan teknologi yang perlahan akan mengurangi penggunaan kertas, khususnya kehadiran ponsel pintar. Siswa yang enggan mencatat bisa memotret tulisan sang guru di papan tulis. 


Begitu pun saat guru menggunakan MS PowerPoint dalam menjelaskan suatu pelajaran, dengan mudah siswa bisa meminta salinan berkas tersebut tanpa perlu mencatat. Buku-buku penunjang belajar dalam bentuk digital bisa dengan mudah kita unduh dari Internet. 

Tahun 2015, pada era pemerintahan Presiden Jokowi, negara kita menerapkan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Meskipun awalnya hanya 554 sekolah yang baru menerapkan UNBK, namun kini tercatat 78.401 sekolah yang mengadakan UNBK dari jenjang SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK.

Pada tahun 2019, terdata 7.072.442 siswa yang mengikuti UNBK. Soal ujian yang biasanya dicetak menggunakan kertas tentu saja tidak lagi dipakai. Hal ini berimbas bagi berkurangnya penggunaan kertas.

Namun mencatat merupakan bagian penting dalam proses belajar. Pengenalan menulis dapat membantu anak untuk meningkatkan kemampuan motorik. Ketika guru mendikte suatu kata kemudian ditulis oleh siswa, maka mereka telah melatih kemampuan audio dan motorik halus. 

Selain kegiatan dikte, saat guru menulis di papan tulis kemudian siswa menyalinnya, maka siswa telah menyinkronkan kemampuan visual dan motorik halus. Kemampuan menulis juga dapat meningkatkan kemampuan membaca dan pemahaman matematika mereka.

Menulis pun memeliki banyak manfaat, di antaranya sebagai pengingat yang efektif, mempertajam critical thinking, serta dapat memperkuat ketajaman pemahaman terhadap suatu materi. Oleh karena itu, menulis dalam artian mencatat merupakan bagian penting dalam sebuah proses belajar.

Kontradiksi dengan situasi tersebut, ada beberapa orang yang mengusung konsep paperless school. Konsep ini dianggap sebagai sebuah revolusi besar dalam dunia pendidikan. 

Sebab, dalam konsep ini, kelas menggunakan pendekatan elektronik dalam pembelajarannya. Siswa tidak menggunakan buku dan alat tulis lagi. Begitu pun dengan evaluasi belajar dan pelaksanaan, semuanya memanfaatkan kemajuan teknologi. 

Brad Cohen, seorang CEO SkoolBag, memaparkan beberapa keuntungan dari paperless school. Menurutnya, paperless school dapat mengurangi sampah dan menciptakan masa depan yang berkelanjutan. 

Meskipun penggunaan konsep dapat mengurangi sampah, namun kertas merupakan sampah organik yang mudah terurai. Selain itu, kertas yang sudah tidak terpakai lagi pun dapat digunakan kembali untuk bahan kerajinan.


Brad juga menilai konsep tersebut dapat mengefisiensikan waktu guru dalam mengurus administrasi pembelajaran. Pada kondisi di lapangan, tentunya kesiapan guru  perlu dipertimbangkan. Mereka harus melek teknologi.

Lebih lanjut Brad mengungkapkan konsep paperless school dapat mengurangi biaya operasional untuk memfotokopi, percetakan, dan kertas. Namun tentunya penggunaan perangkat elektronik dalam proses pembelajaran juga membutuhkan biaya untuk pembayaran listrik dan akses internet. Selain itu biaya pemeliharaan barang elekronik pun tidak sedikit.

Pendapat lain mengatakan, paperless school dapat mendukung program go green. Dalam pembuatannya, kertas memang menggunakan bahan baku pohon. Makin banyak kebutuhan kertas, itu artinya makin banyak pohon yang diperlukan. 

Meskipun begitu, penggunaan ektronik juga menggunakan listrik. Di Indonesia, sumber energi untuk pembangkit listrik masih didominasi tenaga uap yang artinya juga membutuhkan batu bara. Penambangan batu bara juga dapat merusak lingkungan dan meninggalkan lubang besar yang menganga. 

Jika di negara kita diterapkan konsep paperless school, ada banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah, seperti kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi era digital. Dalam PPDB online pun penggunaan teknologi belum diterapkan sepenuhnya. Peserta didik tetap harus berurusan dengan kertas dan alat tulis secara langsung di tempat pendaftaran.

Kita bisa membayangkan sekolah-sekolah kita tanpa adanya kertas dan aktivitas menulis. Siswa akan kaku dalam kegiatan yang menggunakan kemampuan motorik halus. Lagi pula, menurut dokter anak pada The Guardian bahwa anak-anak kesulitan memegang pensil dikarenakan penggunaan teknologi berlebihan.

Teknologi baru memang menciptakan cara baru dalam kegiatan belajar-mengajar yang melahirkan ide-ide cemerlang. Meskipun banyak sekolah yang mulai mengadaptasi kelas berbasis digital, bukan berarti sepenuhnya menghilangkan eksistensi kertas dalam dunia pendidikan.

Seharusnya kertas juga tak berjuang sendiri untuk tetap menjaga eksistensinya. Kertas mampu digunakan tanpa keberadaan pena dan pensil, seperti contohnya dalam percetakan. Namun kertas sangat berpengaruh bagi eksistensi alat tulis. Ini meningkatkan kemampuan masyarakat sehingga bisa menuliskan banyak narasi di hidupnya.

Artikel Terkait