Di era dimana semua kegiatan telah dilakukan secara digital ini, keadaan dan teknologi turut mengubah pola sikap kehidupan masyarakat. Siklus kebiasaan masyarakat yang dahulu menjadi sebuah kegiatan sehari-hari, kini lama kelamaan tergeser oleh pemikiran manusianya yang semakin maju. Lalu, apakah ini berarti bahwa kehidupan zaman dahulu tergolong primitif dibanding sekarang? Belum tentu.

            Kita tidak bisa seenaknya mencap segala yang ada di zaman milennial ini sebagai sesuatu yang lebih unggul dengan masa lampau. Perbedaan ini hanya dibatasi oleh pemikiran-pemikiran manusianya yang menjadikan teknologi menjadi sebuah karya yang dihargai dari pencapaian hasil terobosan baru yang lama kelamaan menjadi sebuah kebutuhan.

            Tengoklah, kini sesuatu yang serba cepat di dunia menjadi sebuah keniscayaan dalam melakukan hal apapun. Berapa orang yang merasakan betapa penemuan zaman dahulu yang di kemudian hari fungsinya berganti atau bahkan menjadi multifungsional dalam perkembangan teknologi yang terjadi. Ya, semuanya menjadi sebuah perubahan terhadap apa yang ada di dunia ini, termasuk untuk perjalanan sebuah kertas. Siapa yang mengira bahwa keberadaan kertas di dunia ini menjadi begitu penting?

Kertas, Antara Keberadaan dan Kebutuhan

            Siapa yang tidak tahu kertas? Sebagai manusia awam yang baru belajar pertama kali dalam baca tulis, benda ini adalah benda paling familiar. Bersama pena, lembar-lembar hingga jilidnya pun hadir untuk mengantarkan kita menuju pemahaman yang lebih baik dengan belajar di tingkatan dasar. Ya, kertas merupakan media utama yang kita gunakan untuk menulis, mencetak, serta melukis. Tak hanya itu, kertas pun menjadi hal yang multifungsional dengan berbagai penggunaan seperti untuk kertas pembersih (tissue) yang digunakan untuk hidangan, kebersihan, maupun toilet.

            Kertas merupakan revolusi yang sangat besar pengaruhnya dalam menyumbangkan perannya di peradaban dunia. Menilik dari sejarah, pada masa lampau komunikasi dan informasi disampaikan menggunakan prasasti, kayu, bambu, bahkan daun lontar. Setelah itu, dengan berbagai perkembangan yang ada maka kertas disebut-sebut sebagai benda yang tak terpisahkan dari pencatatan sejarah dunia. Pada abad ke-16, kertas sudah menjadi familiar di wilayah Amerika dan secara bertahap menyebar ke seluruh dunia.

            Kertas mempunyai peran penting dalam memenuhi kehidupan masyarakat di bumi khususnya Indonesia. Namun sepertinya, keberadaan kertas pun semakin tergusur dengan era milennial yang menjadikan segalanya menjadi serba digital. Lalu, bagaimana nasib kertas selanjutnya?

            Fenomena paperless yang ada di era digital ini menimpulkan dampak yang cukup berpengaruh di dunia termasuk di Indonesia. Fungsi kertas kini banyak diambil alih oleh media digital, seperti buku digital (e-book). Namun, di sisi lain menyebutkan bahwa beberapa penelitian bahwa membaca dari media cetak lebih aman terhadap lingkungan, jika dilihat dari penggunaan energinya (2014, APKI).

Regulasi Energi, Paperless dan Pro Kontra

            “Indonesia merupakan negara yang memproduksi gas emisi rumah kaca ketiga terbesar di dunia, setelah Cina dan AS dengan 85% emisi berasal dari kerusakan dan berkurangnya jumlah luas hutan di Indonesia. Hutan alam merupakan penyimpan karbon terbesar di dunia.” (2014, bbc.com)

            Ya, kertas dan pulp adalah salah satu industri yang berperan penting bagi perekonomian Indonesia. Industri kertas yang merupakan industri stationeri adalah salah satu industri manufaktur yang mengolah kertas menjadi barang seperti buku, block note, hard cover, writing letter pad, buku gambar,  dan lain sebagainya. Saat ini industri kertas nasional telah mengekspor hasil produksi ke-90 negara di dunia. Produsen terus meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi guna mengejar tingkat efisiensi dalam mengejar impian sebagai produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Tentu saja dengan itu, Indonesia berpotensi menjadi negara produsen pulp dan kertas terbesar di dunia karena memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh negara lain.

            Indonesia memiliki lahan luas yang merupakan Sumber Daya Alam (SDA) wilayah dan telah menjadi bonus tipografinya. Tapi, tunggu dahulu, akhir-akhir ini industri kertas menghadapi problematika kebijakan terkait regulasi ekspor impor maupun isu lingkungan hidup (kemenperin.go.id). Oleh karena itu, dalam hal pengembangan industri kertas, Pemerintah memang perlu menciptakan dan mendorong kebijakan yang kondusif untuk pihak-pihak yang terkait, dalam hal ini yaitu pengusaha tingkat hilir (industri) maupun hulu (hutan), karena bahan baku pulp dan kertas adalah kayu. Tentu saja hal ini demi menjaga kelestarian alam untuk menjaga keanekaragaman hayati yang khusus berada dalam habitat hutan Indonesia.

            Sementara itu, deforestasi yang terjadi di Indonesia sebagian besar merupakan dampak dari sistem ekonomi dan politik yang berjalan tidak semestinya, menganggap bahwa SDA khususnya hutan, sebagai hak milik yang dianggap sebagai sumber pundi-pundi dan menjadikannya untuk dieksploitasi secara bebas tak bertanggung jawab (wri.org). Hal inilah yang harus menjadi introspeksi bagi pihak-pihak terkait dan juga kita untuk mengubahnya menjadi kebijakan yang seharusnya tak merugikan alam.

            Deforestasi merupakan problematika yang cukup rumit karena pentingnya hutan dalam menjaga perubahan iklim. Bahaya deforestasi ini pun masih mengancam dari pola konsumsi dan produksi yang tidak bertanggungjawab. Pemanasan global menjadi salah satu dampak jangka panjang akibat deforestasi. Permasalahan ini merupakan tantangan yang amat serius yang dihadapi oleh Indonesia.

            Pemerintah harus segera bertindak untuk mengatasi dampak deforestasi karena ini akan mengakibatkan dampak buruk bagi hutan yang notabene sebagai salah satu asset kehidupan yang sangat urgent bagi kehidupan dunia. Jika tidak segera mengambil langkah perbaikan, maka akan terjadi ketidakseimbangan kehidupan yang ada di bumi.

            Sementara itu, sebagai generasi millennial yang hidup di era serba digital peranan kertas tidak berubah urgensitasnya. Walaupun era sekarang dominan penggunaan paperless, kertas tetap menjadi benda penting dalam urusan kehidupan sehari-hari. Memang, dibandingkan dulu penggunaannya pun juga tidak sebanyak di era yang sekarang. Hal ini sebenarnya secara tak langsung memberikan dampak bagi industri pulp dan kertas yang terbiasa menggunakan sumber daya alamnya menjadi hemat dalam penggunaannya. Tentu saja ini menjadi sinyal penyelamatan alam akibat deforestasi tadi.

           Pihak industri pun sebenarnya tidak perlu takut akan menurunnya pendapatan karena fenomena paperless. 3 hal yang harus diperhatikan seperti sustainability, inovasi, serta efisiensi sumber daya menjadi jurus ampuh untuk meningkatkan daya saing dan profit. Kunci sukses di masa datang yakni juga dapat memiliki strategi yang berbasis efisiensi biaya, produktivitas tinggi, dan kepemilikan sumber bahan baku strategik.

           Sekali lagi, paperless menjadi sebuah keniscayaan yang terjadi akibat perubahan zaman yang diikuti oleh perkembangan teknologi. Aktivitas yang ada pun sebagian besar telah berganti menjadi serba digital yang mengganti segala hal yang berbau manual. Untuk itu, dibutuhkan pengertian khusus tentang keadaan ini, dimana kita benar-benar harus memanfaatkannya dengan bijak termasuk dalam fenomena paperless ini. Adanya perkembangan ini tentu menjadikan beberapa pihak (produsen, konsumen, dan pemerintah) untuk melakukan inovasi dan strategi yang tepat serta penanganan yang pas untuk diterapkan pada kebutuhan produk kertas.