Penulis
1 tahun lalu · 87 view · 5 min baca · Budaya 59532_60332.jpg
Toonpool.com

Paperless Adalah Keniscayaan

Masih Desember 2017 dan setengahnya sudah berlalu dengan hari bobok-bobok lucu nasional, oh, maksud saya, Hari Belanja Online Nasional. Sepanjang hari linimasa akun media sosial saya dipenuhi dengan pameran atas pembelian buku-buku berdiskon fantastis.

Kalap, ya, sebagian bisa diwakili oleh kata itu, meskipun sebagian tadi lebih ingin mengklaimnya sebagai menyiapkan stok bacaan untuk tahun yang baru. Hal itulah yang kemudian menjadikan tanya itu kembali terngiang dalam kepala: benarkah minat baca orang-orang Indonesia menempati posisi dua terbawah di dunia versi studi Central Connecticut State University?

Mengingat kejadian di Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), saya sebenarnya ingin menyanggah hasil dari studi yang dilakukan terhadap 61 negara itu. Tapi, itu sebelum saya diingatkan tentang jumlah penduduk Indonesia akhir-akhir ini. Berapa persen persentase dari makhluk-makhluk kalap di linimasa akun saya jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia?

Jika merujuk ke syarat dan ketentuan Facebook soal jumlah teman maksimum, bisa dipastikan persentase itu adalah kecil dan sekali. Harga buku rendah memang mendorong naiknya konsumsi bacaan, tapi belum tentu seiring sejalan dengan angka peminatannya. Lantas, bisakah mahalnya harga buku menjadi musabab utama dari hal ini?

Mari menepi sebentar. Sesuai dengan kaidah keilmuan, adalah sebuah kepastian bahwa energi itu semakin lama semakin mahal dan akan terus bertambah mahal karena Indonesia terlalu mengandalkan ketersediaan bahan bakar fosil. Bisa dibayangkan bagaimana paniknya warga Indonesia ketika tarif akan kebutuhan energi kembali dinaikkan? Ya, sumpah serapah politiklah jawabannya.

Terkadang, hal-hal seperti itu membuat saya merasa kasihan pada guru-guru sains yang mengajar di SMA. Materi soal energi yang disampaikan, seingat saya, disajikan dalam sebuah bab panjang, bisa berubah menjadi olok-olok bagi presiden yang menjabat di kala kenaikan tarif dasar energi itu terjadi. Ke mana perginya penjelasan soal energi yang bisa diperbarui dan yang tidak bisa diperbarui tadi lari?

Di masa saya, ada sebuah ungkapan “wis ngelonthok”, yang merujuk pada artian “paham luar-dalam”. Sebuah ungkapan yang selalu menjadi tameng bagi pemalas mana pun setiap kali mendapat perintah belajar dari orang tuanya. Kenyataan bahwa “wis ngelonthok” lebih erat korelasinya dengan kehadiran angka-angka meradang di atas lembar rapor, membuat “wis ngelonthok” berubah menjadi olok-olok atas kegagalan belajar seseorang.

“Wis ngelonthok, ceblok, kepidak-pidak pisan” merupakan versi yang lebih terang-terangan untuk menggambarkan ketidakmampuan itu. Mengelupas, jatuh, dan terinjak-injak ini pulalah yang sepertinya cukup mewakili nalar siapa pun ketika membicarakan energi di Indonesia.

Sebagai konsumen, warga lupa akan apa itu bahan bakar fosil. Sebagai penyedia, pemerintah lalai dalam hampir semua segi. Bahkan, kehadiran semangat terbarukan pun agaknya terlalu telat untuk menanggulangi gejolak ekonomi terkait dengan energi ini. Apakah orang-orang seperti itu yang menyebabkan Indonesia berada dalam posisi terbawah kedua dalam studi minat baca?

Saya kira: ya.

Ketidaktahuan adalah awal dari keegoisan yang mendorong datangnya petaka, tulis Veronica Roth untuk mengidentifikasi faksi Erudite. Sebagai Indonesia, hal itu tentu benar belaka. Pengalaman akan reaksi penolakan fakta sudah cukup banyak dan bisa menjadi daftar yang panjang dalam laman hasil pencarian Google.

Indonesia sedang mengundang petaka, itulah peringatan yang bisa dipetik oleh pembaca seri Divergent. Tentu saja, jika ada yang membacanya. Bahkan, ketika hal-hal mendasar seperti ini pun disebarkan ke media sosial, respons yang hadir pun terkadang merupakan sesuatu yang akan membuat siapa pun dia menjadi bagian dari Factionless.

"Kak, bisa kasih tahu tidak unsur intrinsik dan ekstrinsik buku ini dan juga pesan moralnya ... dan seterusnya ... dan seterusnya ...." Begitulah salah satu contoh respons bagi teman penulis saya.

Lugu, iya. Bodoh, lebih iya. Mengapa orang memilih untuk menjadi bodoh, jika kata itu dihubungkan dengan kemauan dalam mengembangkan diri, merupakan awal dari dugaan saya dalam merumuskan jawaban kedua atas hasil studi minat baca. Ya, orang-orang itu memang memilih menjadi bodoh.

Semua orang pada dasarnya adalah bodoh. Pembedanya bukanlah dari banyaknya hal-hal yang diketahuinya: pengetahuan maupun pengalamannya. Tapi, bagaimana caranya mendapatkannya. Orang tidak tahu, maka dia mencari tahu. Tapi, hanya untuk mengujudkan “mencari tahu” itu, dibutuhkan sebuah rasa ingin tahu. Nah, kehadiran “ingin tahu” inilah yang, sebenarnya kata ini tidaklah terlalu tepat, hilang dari orang-orang Indonesia saat ini.

Cukup ketik atau katakan ke Google, itulah “ingin tahu”, yang sayangnya kemudian kehilangan keajaibannya setelah kemunculan daftar hasil pencarian. Dari satu pranala luar, tiba-tiba seseorang merasa dirinya memiliki hak untuk menyebut diri sendiri pakar atas “ke-ingintahu-annya”.

Bisa juga titik itu disebut dari akhir rasa ingin tahunya, sebuah kiamat. Hadirnya instan seperti hasil-daftar-pencarian, agaknya menjadi ancaman tersendiri bagi “minat baca”. Mungkin, tipe-tipe seperti inilah yang tidak menyambut hangat datangnya Harbolnas di laman toko buku daring. Mungkin, mereka jugalah sasaran massa dari kampanye paperless dalam dunia literasi.

Buku, sebuah cetak-keras, bagi pembaca memiliki nilai kehartabendaan yang berbeda dari e-book. Literasi erat kaitannya dengan cetak-keras ini. Kita mungkin lebih ingin mendengar bahwa literasi itu hanya sekadar membaca. Tapi, di era digital, kita tentunya tidak bisa menyederhanakan istilah itu. Aspek kesahihan tentu menjadi alasan utama dan yang paling menentukan.

Proses menawar hanya akan membawa kita ke penurunan kualitas ke titik mempercayai apa pun yang tertulis sebagai kesahihan. Di sinilah, media berfungsi: penjaga gawang. Tidak hanya media sebagai bahan, tetapi juga media sebagai filter. Media sebagai redaksi dan seperti falsafah Candor, penampung kejujuran.

Cetak-keras, tidak seperti cetak-digital, membutuhkan lebih banyak modal. Sesuatu yang jelas akan dihindari oleh “keasal-asalan”, meskipun parameter ini sendiri pun bisa dikatakan meragukan. Ukuran harga, terkadang sebanding nilainya dengan kualitas.

Para pecinta buku tentu bisa membedakan kualitas buku dari harganya. Terkadang penilaiannya tidak melulu dari segi fisik. Tapi, tentunya harga akan melibatkan campur tangan ahli: penyunting, ahli bahasa, pembaca pertama, dsb. Sederhananya, sebuah proses redaktorial.

Ketika proses redaktorial terjadi, setidaknya beberapa faktor penyebab kurangnya kesahihan dapat dihindari. Penyebaran informasi salah memang adalah sebuah momok dalam dunia literasi. Salah satu bentuk umumnya adalah postingan media sosial. Seperti dibahas, secara bentuk, informasi keliru dapat ditandai dan diwaspadai penyebaran.

Meskipun begitu, masalah utamanya adalah media digital penyebarnya merupakan media dari yang lebih ramah pembaca, meskipun sebenarnya itu hanyalah semacam stigma. Energi akan semakin mahal dan akses ke media digital tentunya membutuhkan banyak energi (listrik) dan biaya akses ke dalam jaringan.

Jadi, dari segi hitungan rupiah, media apa pun itu pastinya memiliki rumusan perhitungan tersendiri. Dari sisi inilah versi cetak-keras memiliki keuntungan yang mengungguli versi cetak-digital, proses redaktorialnya.

Seandainya pemahaman akan dua sisi tersebut mencukupi, maka kampanye paperless dalam literasi untuk saat ini bisa berarti semacam ancaman serius. Secara hukum logika, Indonesia belum memiliki kemampuan untuk perubahan, baik dari sisi penggiat medianya sendiri dan, lebih-lebih, konsumennya. Paperless memang adalah sebuah keniscayaan, tapi seberapa pentingkah kehadirannya bagi peradaban dalam negeri?

Eh, tapi itu jika asumsinya mereka kalap karena memang suka membaca. La, kalau cuma sekadar kulakan?

Artikel Terkait