Kisaran tahun 2006 - 2008, Penulis pernah mendapat amanah menjalani tugas di Timika Papua. Wilayah ujung timur Indonesia, tempat sang waktu bermula.

Papua sangatlah elok rupawan, bagai hamparan permadani hijau tampak dari atas kejauhan sebelum pesawat mendarat di atas landasan. Di tanah Papua pula banyak pendatang saudara dari wilayah lainnya, sesama warga Indonesia, menjadikan Papua sebagai tanah harapan.



…menggunakan sumpit kayu khusus…

Beragam Cara Menyantap

Aneka olahan masakan di Timika Papua adalah pengaruh dari pendatang, khususnya dari paling barat Minang berupa masakan Padang, lalu Jawa Timur yang menawarkan Soto dan Pecel Lele ala Lamongan, kemudian Sulawesi Utara menyajikan aneka Rica-rica dan Woku, terus Makassar menghidangkan Coto serta beragam olahan ikan laut bakar.

Adalah Papeda masakan khas Indonesia bagian timur, mulai Ambon hingga Papua, berupa olahan Sagu dan sup ikan.

Sagu Pepeda disantap pada kondisi panas hingga hangat, menggunakan sumpit kayu khusus bernama Gata-gata, dengan cara menggulung-gulung jenang sagu yang berasa hambar, berpadu kuah ikan yang segar, asam pedas dan gurih cita rasa ikan rebusan.

Saking halusnya jenang Sagu, maka menikmatinya tak perlu dikunyah, melainkan bisa langsung ditelan.

Pertama kali mencoba Pepeda, Penulis nekat mengangkat jenang sagu menggunakan sendok. Nggak gampang, karena dijamin mrusat-mrusut, jenang sagunya meluntru balik ke mangkok lagi, sementara hanya sendok kosong mendarat ke mulut.

Oleh karenanya, jenang sagu Papeda kudu digulung pakai Gata-gata.

Seporsi Papeda yang hambar bakal diperkaya oleh cita rasa asam pedas segarnya Sup Ikan Kuning, dinikmati selagi panas.



…diperkuat oleh limpahan kation logam mineral…

Tanah Kaya Mineral

Terdapat kepanjangan dari kata Timika yang sering menjadi ungkapan bagi banyak pekerja tambang di wilayah area tambang mineral terbesar di Indonesia di wilayah Papua, yakni Timika, Tiap Minggu Kangen.

Suatu ungkapan yang mewakili rasa rindu kepada keluarga, bagi pekerja tambang yang karena lokasi kerja yang jauh dari rumah, sehingga butuh waktu seminggu sekali, untuk melepas kangen dengan keluarganya.

Mirip dengan Bogor, Timika dikenal sebagai kota hujan. Hampir tak ada musim kemarau di sana. Hujannya besar-besar airnya cenderung seperti hujan es. Menjelang hujan sering diiringi suara halilintar menggelegar. Bisa dimaklumi karena tanah di Timika kaya akan sumber daya alam berupa bahan mineral.

Beda kutub antara bumi dan awan mendung di langit, diperkuat oleh limpahan kation logam mineral dalam tanah, yang menyebabkan suara kilat semakin mengguruh.

Bogor juga demikian, lereng gunung Salak, berasal dari kata Sansekerta; Salacca, yang bermakna berpendar keemasan. Warna keemasan karena kandungan batuan Pyrite. Suatu bentuk batuan alami yang dominan berisi perpaduan Besi dan Sulfur, berwarna kuning kemilauan mirip emas. 

Kemilau Pyrite yang Laksana emas tersebut membuat batuan ini juga sering disebut emas palsu. Batuan ini bisa menjadi penanda wilayah yang kaya akan batuan bahan galian berharga, bisa batu bara atau logam-logam mineral.

Tak hanya sebagai indikator adanya kekayaan bahan galian tambang di suatu wilayah, namun Pyrite juga menjadi biang terjadinya pembentukan air asam tambang, dari curahan hujan yang tertampung dalam tanah cekungan bekas tambang, atau yang sering disebut dengan lubang Pit.

Sifat air hujan yang normal alami, yang tertampung dalam Pit tersebut bisa berubah menjadi asam karena bereaksi kimiawi dengan batuan Pyrite yang terkandung dalam tanah kaya bahan tambang tersebut, melalui reaksi kimiawi;

Keberadaan Pyrite sebagai padatan, secara alami akan bereaksi dengan adanya air dan oksigen di area Pit, yang menyebabkan timbulnya kation Hidrogen dan anion Sulfat, penyebab air yang tertampung bersifat asam.

Apabila tak tertangani dengan, yang dalam hal ini menjadi ranah tugas bidang lingkungan hidup, environment, suatu perusahaan tambang, maka niscaya area sisa-sisa kegiatan tambang dalam bentuk lubang-lubang Pit yang berisikan air asam tambang, bakal merubah rona awal lingkungan wilayah tambang tersebut.

Atau dengan kata lain lingkungan hidup telah rusak dan berpotensi bakal susah untuk dikembalikan menjadi normal, sebagai media penanaman aneka flora, yang menjadi bagian dari program revegetasi pasca tambang.



…bagian dari menghormati olahan masakan khas…

Papeda Olahan Sehat

Saudara kita dari Papua punya cara bersalaman sebagai tanda persahabatan yang unik, yaitu; tekukan jari tengah tangan kanan si sahabat yang hendak disapa, digapit oleh tekukan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan sahabat yang hendak menyapa.

Terus ditarik kuat-kuat hingga menimbulkan bunyi; “Cetoq!”

Menikmati Papeda juga bagian dari menghormati olahan masakan khas saudara-saudara kita di wilayah Indonesia bagian timur. Tak hanya sedap, Papeda juga masakan yang sehat. Rendahnya gula karbohidrat sagu berpadu dengan limpahan protein Omega 3 yang terkandung dalam ikan lautan.

Sekali lagi, menikmati Papeda kudu pakai sumpit Gata-gata. Atau, dinikmati dengan cara menyeruput langsung jenang sagu Papeda, dari piring tempatnya tersaji. Jika pakai sendok, dijamin Papeda bakal meleleh meninggalkan sendok dalam kehampaan.

Mewakili suatu perumpamaan bahwa, betapa Papeda yang bisa dinikmati secara langsung maupun menggunakan kayu, adalah ajakan alami untuk merawat anugerah kekayaan alam Indonesia bagian timur, agar lingkungan hidupnya tetap lestari, tak bakal meninggalkan kehampaan, pemupus harapan.

Penulis tengah berfoto bersama dengan saudara-saudara sebangsa warga Papua saat festival budaya Kamoro di pelabuhan Amamapare, Timika, circa Juni 2006.