Kala itu aku hanya mengikuti sosok indukku menyusuri tanah yang basah. Tak peduli betapa berairnya, tak juga paham betapa kotornya alas kaki ku. Ku hanya ikut melangkahkan tungkaiku perlahan tanpa berucap tanya. 

Lagi pula, sudah terbayar dengan sistem barter dan kini indukku menjadi budak. Oh tidak, bukan itu yang menjadi peran utama dalam tulisan ku ini. Iya, bukan indukku tapi aku akan bercerita tentang binar.

Mengikuti seluruh instruksi adalah aku. Tidak harus berpikir terlalu panjang, sedetik saja terucap, bak kilat menyambar ku langsung sigap. Banyak kesigapan yang berujung pada tawa dan bahagia, namun tidak sedikit juga kesigapan itu melahap seluruh energiku. Ku beritahu satu contoh perisitiwa itu.

Terpampang sebuah tangga kayu yang menghubungkan kantin dengan gudang. Aku yang sedang berorientasi mengarah menuju tangga itu. Entah mengapa, alas kaki yang kotor dan basah ini menunjukkan arah untuk menghampiri tangga reot itu. 

Pena ku dan si putih halus sudah siap ku layangkan demi memenuhi sebuah misi. Pesannya, ku harus mencari semua yang bersembunyi dan menyodorkan penaku. Ku lihat tak banyak yang mengarah kesana.

Ketika ku sampai di depan tangga itu, sepasang alas kaki paling bersih dan harum membuatku terkejut. Sungguh, aku tak pernah melihat yang seperti ini. Ketika ku pastikan, terdiam dan senyum memancar di wajahku. 

Dia yang tetap membisu matanya menyorotkan binar yang menyilaukan. Alih-alih pena tersodorkan, binar itu memerintahkanku untuk ikut bersembunyi. Tak bergeming adalah kondisiku. 

Apa kalian tahu bagaimana reaksi kita yang takjub melihat keindahan alam, entah ombak yang mendayu diiringi mentari terbit, maupun negeri di atas awan. Seperti itulah aku, melihat binar yang terduduk di salah satu anak tangga itu.

Pertemuan pertama itu menghasilkan canggung yang tak mesti tercipta. Ternyata, di hari itu hanya aku yang berhasil menangkap binar. Binar adalah inti utama yang semua sedang cari-cari. 

Aku bangga dengan alas kaki ku yang lusuh ini, ia tau kemana harus menangkap sesuatu yang istimewa. Ku diberi apresiasi yang cukup luar biasa karena binar sudah berhasil ku terkam.

Setelah selesai masa orientasi itu, aku terus menyapa binar setiap kali kami berpapasan. Tidak. Aku tidak menyapanya dengan sapaan, “Hai.. Halo…”, melainkan hanya senyum tersipu yang ku tunjukkan. 

Menarik sekali untuk selalu melihatnya, sampai-sampai di tengah keilmuan, ku tengok sedikit untuk memastikan binar terus ada lewat sela jendela. Kemudian menjadi lebih bersemangat untuk mengisi otakku. Entah apa yang kupikirkan, binar sudah mengisi seluruh memoriku saat itu. 

Binar membuat tetap terjaga merekam seluruh keilmuan. Kami sering berpapasan ketika hendak mengisi kosong perut dengan camilan. Kala itu aku cukup sering membantu menyiapkan kudapan yang dijual saat sembilan tiga puluh. 

Menjajakannya juga adalah tugasku. Niat hati hanya ingin membantu, aku suka dengan sengaja mengambil kesempatan. Jelas saja, untuk melihat binar memilih beberapa kudapan. Aku harus yang paling terdepan ketika suara dan langkah kakinya sudah bisa kurasakan dari ujung tangga. 

Namun, saat hari suci tiba, aku tak sempat mendapatinya, aku hanya bisa mengaguminya yang melangkahkan kaki untuk mensucikan diri. Sungguh, binar membuatku tak lagi berkedip.

Rasa prematur itu terus mendorong bagian terkosongku. Dengan tak berhenti binar terus mengitari seluruh nalarku. Ada satu yang sempat memberhentikan niatku untuk berkali-kali berharap. Membuatku tidak lagi kokoh dengan rasaku.

Binar adalah yang terbaik dari seluruh entitas yang berada di tempatku beraktivitas. Segala pencapaiannya selalu menuai banyak penghargaan. Entah bagaimana Tuhan menciptakan entitas yang begitu sempurna, menurutku.

Semua aspek dikuasainya, seolah tak ada sedikitpun celah untuk mencelanya. Digadang-gadangnya binar selalu mengurungkan niatku untuk berjalan lebih. 

Yakinlah bahwa semua yang berada di sini begitu takjub dan kagum dengan binar, tidak hanya aku, sepertinya rasa yang ku simpan sama seperti mereka yang memandang binar. Selisih antara aku dan binar yang cukup bertatut, membuat aku ditinggalkan lebih dahulu. 

Binar mendapatkan tempat yang akan menopangnya lebih baik daripada sebelumnya. Binar bergerak cukup jauh dari orbitku. Tak lagi kabar ku dengar selama beberapa bulan. 

Ku tetap mencoba mencari bagaimana wajahnya saat ini, bagaimana telinganya, bagaimana seluruh anggota tubuhnya? Aku ingin memastikan bahwa Binar baik-baik saja, tak kurang suatu apapun. Meski memang Binar berada di luar galaksi ku.

Kuasaku hanya dapat mengumpatkan do’a yang selalu ku lantunkan. Agar apapun yang terjadi padaku dan binar semuanya bukan yang menyayat. 

Meski bukan aku yang akan menjadi titik selesainya, aku hanya ingin binar bersinar seperti namanya. Tanpa ada suatu cacat yang menghiasi perjalanannya. Semoga bahagia dapat bersedia menjadi pendampingnya sampai dunia memutuskan untuk selesai.