15067_66334.jpg
newswire.id
Budaya · 3 menit baca

Pantaskah Penyandang Disabilitas Diremehkan?

Adalah Bagus, seorang ayah yang sangat disayang anak dan istrinya, kendati ia adalah seorang penyandang disabilitas. Ketika ia berusia 18 tahun, matanya mengalami steven-johnson syondrome yang menyebabkan kebutaan permanen. Lantas, ia mengikuti pelatihan di yayasan disabilitas di Kota Surabaya. Di sana, ia belajar memijat sebagai bekal usaha kelak.

Di sini, ia berjumpa dengan Hanim Muzayanah yang juga seorang tunanetra. Mereka menjalin hubungan asmara hingga memutuskan untuk naik pelaminan. Pasutri itu dikaruniai seorang anak normal, yakni Muhammad. Untungnya, Wildan adalah bocah yang berhati mulia. Ia tak pernah malu memiliki kedua orang tua tunanetra. Mengharukan, ayah dan ibu itu selalu berharap bisa melihat wajah lucu Wildan.

Sayangnya, banyak orang mengejek keluarga ini, bahkan tega menyakiti. Ejekan verbal dan perlakuan tak menyenangkan seakan menjadi santapan yang lazim diterima keluarga ini. Karena itu, Totok berusaha menegarkan dirinya supaya kuat menjalani hidup ini.

Kisah di atas bukanlah karangan mengharukan. Kisah itu nyata terjadi, termasuk pada banyak penyandang disabilitas lainnya. Seolah, mereka patut diperlakukan demikian oleh orang lain. Seolah, mereka adalah penyakit dan aib dalam masyarakat. Lantas, kekurangan yang mereka miliki menjadi tembok besar yang menghalagi mereka memperoleh hak selayaknya orang lain.

Faktanya

Menjadi disabilitas bukanlah sebuah pilihan hidup. Faktanya, banyak orang memandang sebelah mata penyandang disabilitas. Seakan, mereka lebih rendah daripada manusia lainnya. Tak heran, banyak perusahaan tidak bersedia menerima karyawan yang menyandang disabilitas. Alasannya, penyandang disabilitas dianggap tidak mampu bekerja secara profesional.

Faktanya, sarana publik yang disediakan bagi penyandang disabilitas masih bisa dihitung jari. Bahkan, dengan gamblang beberapa perguruan tinggi menolak untuk menerima calon mahasiswa yang menyandang disabilitas. Pasalnya, penyandang disabilitas justru akan banyak merepotkan instansi karena harus menyediakan layanan khusus.

Lebih miris lagi, masih banyak orang yang “gemar” menghina penyandang disabilitas. Agaknya, penyandang disabilitas layak menjadi objek hinaan atau bahan candaan. Jika demikian, maka kita sudah sampai pada gerbang keangkuhan. Lebih dalam, kita telah mencederai nilai kemanusiaan.

Nilai Manusia

Padahal, penyandang disabilitas juga memiliki hak yang sama sebagaimana manusia lainnya. Adalah UU Nomor 8 tahun 2016 yang menjamin hak penyandang disabilitas. Hak pendidikan, pekerjaan, sosial, kesehatan, dsb semestinya diterima semua penyandang disabilitas. Bak angin berlalu, regulasi itu nampaknya hanya menjadi formalitas yang semu.

Mari kita bertolak ke permenungan yang lebih dalam (duc in altum). Kekurangan yang dimiliki penyandang disabilitas tak otomatis menyatakan bahwa mereka bukanlah manusia. Sekurang-kurangnya, mereka tidak kehilangan sedikit pun sifat kemanusiaan. Mereka hanya sedang sakit sehingga tampak berbeda dari orang kebanyakan.

Dalam bahasa agama, mereka adalah ciptaan Tuhan. Artinya, mereka juga citra Tuhan. Dengan kata lain, berbuat yang jahat pada mereka sama dengan berbuat jahat pada Tuhan. Dalam tuntutan kesalehan umum, setiap orang wajib menghargai sesama manusia sebagai satu saudara.

Lebih dalam, jiwa mereka sebagai manusia tak akan pernah direnggut oleh penyakit fisik. Secara filosofis, mereka ada sebagai manusia. Ada mereka sama seperti ada orang normal. Maka, tak ada alasan untuk mendiskriminasi atau bahkan menyingkirkan mereka.

Jadi, duduk perkaranya adalah orang-orang melihat penyandang disabilitas sebagai penyakit masyarakat. Pasalnya, tidak ada pandangan personalisme. Pandangan ini melihat manusia secara utuh, baik saat sehat maupun sakit. Penyakit pada penyandang disabilitas tak akan mereduksi sifat manusia mereka. Selayaknya orang normal, mereka tak pantas diremehkan.

No body is perfect. Tak akan ada orang yang sempurna secara utuh. Kita pun memiliki kekurangan, baik fisik maupun psikis. Seringkali, kita bersikap picik dengan menampilkan kelemahan sesama supaya kelemahan kita tertutupi. Lebih jahat lagi adalah penjahat yang berbuat jahat dan tak menyadari kejahatannya. Persis, itulah yang tengah terjadi pada kita bila meremehkan penyandang disabilitas.

Ini bukan lagi soal pembelaan terhadap penyandang disabilitas saja. Lebih dalam, ini semua tentang perjuangan pada nilai humanistik yang sedang dilecehkan. Jangan sampai, kita menjadi orang yang lebih jahat. Tentu kita akan menjadi super jahat, bila kita hanya berpura-pura bisu, tuli dan buta terhadap kejahatan yang mencederai nilai manusia. Mari berefleksi!